Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
39. Sepatu untukmu


__ADS_3

"Tinggal jawab aja kok susah bangat sih," gerutu Rendra yang amat penasaran dengan jawaban Diyah.


"Kenapa mas Ren yang penasaran ya,"


"Ya suka suka saya dong, kan Satria kakak saya, wajar lah kalau saya penasaran,"


"Terus kenapa nggak nanya ke tuan Satria aja?" balas Diyah


Rendra pun terdiam, ia geram karena ada saja alasan diyah untuk menyangkal pertanyaan itu.


Bukannya mencari sepatu yang ia inginkan, Rendra malah melihat lihat sepatu wanita yang modelnya sama seperti yang sering dipakai diyah.


"Sepatu laki-laki sebelah sana mas Ren," tegur Diyah seraya mengingatkan Rendra. Diyah bingung kenapa Rendra malah melihat lihat sepatu wanita.


"Saya tau kali, saya kan emang lagi nyari sepatu yang cocok!"


"Cocok buat mas Ren? mas Ren mau pake sepatu wanita? apa selera mu udah berubah mas!" tanya Diyah sedikit tersenyum.


"Apaan sih, bukan buat saya..buat kamu!" tegas Rendra memperjelas.


Kini ia menemukan sepatu yang tampaknya pas di kaki diyah.


"Jangan mas, gini gini saya masih sanggup beli sepatu," ujar Diyah, namun Rendra tak mendengarkan sama sekali.


Rendra berlutut memasangkan sepatu itu di kaki diyah. Sungguh diyah malu melihat Rendra yang bertingkah berlebihan. Bak Pangeran yang memasangkan sepatu kaca di kaki Cinderella.


"Apaan sih mas Ren, awas awas.. dramatis bangat deh," diyah amat risih dengan perlakuan Rendra itu.


"Udah..diam aja..coba dulu!" perintah Rendra, kini ia amat memperhatikan bagaimana indahnya sepatu itu di kaki diyah.


Kemudian Rendra berdiri lagi, ia menatap diyah yang sudah amat kesal.


"Kamu malu?" tanya Rendra tak henti menatap mata Diyah.


"Masih nanya lagi, mas..tolong perlakukan saya sebagaimana pembantu yang lain, mas Rendra kenapa sih selalu aja beda kalau sama saya,"


"Suka suka saya dong,"


"Ngeselin,"


"Kamu suka nggak?" tanya Rendra


"Hah? suka? ya nggak lah... astaghfirullah...mana mungkin saya suka sama mas Rendra," balas Diyah dengan ketus.

__ADS_1


"Maksud saya kamu suka nggak sama sepatunya? dih ..kayaknya kamu berharap saya tanyain itu ya?" Rendra tersenyum seolah meledek Diyah.


Hingga diyah pun salah tingkah dibuatnya. Diyah amat malu karena ia salah tangkap dengan pertanyaan Rendra itu.


"Apaan sih mas...udah ya..saya nggak suka sama sepatu ini kalau mas Rendra yang ngasih,"


"Saya nggak mau tau pokoknya kamu terima ini, kalau nggak...saya akan teriak nih,"


"Iya..iya...pemaksaan bangat sih, mas Rendra selalu aja berhasil membuat saya kesal," cetus Diyah yang sudah sangat geram.


"Biarin,"


"Dasar tuan muda ngeselin,"


"Dasar cantik!" balas Rendra membuat diyah salah tingkah hingga ia tersenyum di balik cadarnya.


Bagaimana pun juga diyah hanyalah manusia biasa yang kadang kala punya suatu perasaan yang muncul ketika ia berhadapan dengan Rendra.


Rendra membawa sepatu itu ke kasir untuk membayarnya. Sedangkan diyah hanya mengikuti di belakang.


Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berjalan buru-buru hingga menabrak diyah.


"Astaghfirullah..." ucap Diyah spontan saat ia terjatuh.


Rendra yang mendengar itu langsung berbalik badan. Ia menatap Diyah yang terjatuh kemudian menatap laki-laki yang menabrak diyah tanpa rasa bersalah.


"Anda punya otak nggak!"


"Apa..berani sama saya? saya nggak ada urusan ya sama kamu!" ucap laki-laki itu yang tampak melotot pada Rendra.


Rendra tersenyum sinis. Ekspresi wajahnya amat serius dan emosi, hingga diyah pun ikut takut melihatnya.


"Minta maaf sekarang!" tegas Rendra yang sudah muncul sifat dinginnya.


"Saya buru-buru," jawab laki-laki itu.


"Minta maaf cepat!" tegas Rendra memperkeras suaranya.


"Jangan ngatur ngatur saya ya!" bentak laki-laki itu yang kini semakin mendekat pada Rendra seolah mengancam Rendra. Ia tak tau saja laki-laki seperti apa yang ia hadapi.


Tak butuh banyak basa-basi, Rendra langsung ingin menghajar laki-laki itu dengan tangannya sendiri. Namun tiba-tiba...


"Udah mas.." ucap Diyah dengan spontan menahan erat tangan Rendra.

__ADS_1


Rendra seketika terdiam. Ia menatap tangan diyah yang menahan erat tangannya. Tak henti Rendra menatap gerakan reflek diyah itu, hingga si laki-laki yang tadi pun pergi karena malas melihat adegan di hadapannya itu.


"Astaghfirullah..maaf maaf...saya ..saya ..saya tadi panik mas, maaf," ucap Diyah yang amat malu. Ia dengan cepat menjauh dari Rendra.


"Kenapa minta maaf, itu bukan sebuah kesalahan," Rendra tersenyum menatap Diyah yang kini menundukkan kepalanya.


Lucunya, Rendra sampai lupa bahwa ia tadi sedang berdebat dengan seorang laki-laki. Kini ia terfokus pada diyah.


"Kamu kok diam? malu ya? kenapa malu? cuma pegang tangan kok malu?"


"Saya permisi dulu mas, tuan Satria pasti nunggu!" ucap Diyah dan buru-buru pergi meninggalkan Rendra di sana. Diyah sampai lupa kalau sepatunya belum ia bawa.


"Diyah...sepatunya.." panggil Rendra dengan keras.


Namun diyah tak mendengar lagi karena ia berlari terlalu kencang.


Diyah amat malu di sepanjang ia berjalan. "Astaghfirullah.. kok bisa ya aku pegang tangan laki-laki, ya Allah, sumpah tadi itu tidak sengaja...duh.. malunya.." batin diyah yang masih merasa malu pada Rendra.


"Diyah...dari mana aja, saya cariin kamu loh," sapa Satria saat ia menemukan Diyah di tengah keramaian itu.


"Maaf tuan..." balas Diyah sembari menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, kita pulang ya, aku udah beli kue sama kalung buat mama,"


"Iya tuan,"


Satria pun membawa diyah pulang.


Kini Diyah dan Satria di tengah perjalanan sambil mengobrol di mobil. Sebenarnya diyah lebih banyak diam. Namun Satria sengaja bertanya banyak hal agar suasana tidak canggung.


Hingga suatu pertanyaan membuat diyah merasa tidak nyaman.


"Apa kamu sudah punya jawaban?" tanya Satria menatap Diyah.


Diyah terdiam sejenak karena bingung harus menjawab apa. "Tuan...waktunya kan sisa dua hari, jadi saya belum bisa jawab hari ini," balas Diyah dengan pelan.


"Oh iya..saya mengerti kok," dan lagi-lagi Satria harus bersabar menunggu jawaban dari Diyah.


Satria menatap ke spion, ia melihat Rendra mengendarai motor dan sedang membuntuti mobil nya.


Diyah pun melihat itu, ia menoleh ke belakang dan memperjelas, ternyata Rendra memang mengikuti mobil itu.


"Itu anak ngapain sih.." ucap Satria melihat Rendra di belakang.

__ADS_1


Melihat itu membuat diyah kembali mengingat momen tadi. Terlebih ketika Rendra memasangkan sepatu untuknya dan ketika ia spontan menghentikan tangan Rendra.


"Astaghfirullah..sadar diyah... kriteria laki-laki idaman mu sama sekali tidak ada pada mas Rendra, dia bukanlah tipe calon imam yang kamu inginkan," batin Diyah menghilangkan bayangan bayangan aneh yang terlintas di pikirannya.


__ADS_2