Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
59. Rasa yang tertutupi


__ADS_3

Diyah lanjut berjalan bersama Ira menuju Kebun kopi. Sedangan Rendra, ia masih menatap langkah diyah meskipun sudah jauh. Rendra tersenyum bahagia, sebenarnya ia tau jika diyah memandanginya saat gotong royong bersama warga tadi.


"Sekuat apa pun kamu menutupi perasaan mu, aku pasti bisa melihatnya diyah," batin Rendra, ia merasa lebih bersemangat untuk membawa diyah kembali.


Tiba-tiba Hp Rendra berdering. Ia mengangkat telpon dari kakaknya Satria.


"Ren..aku udah ceritain semua ke papa, dan Alhamdulillah papa bisa mengerti keadaannya, papa juga nyuruh kamu untuk membawa diyah kembali secepatnya,"


"Makasih ya kak, tapi kok papa tiba-tiba menyuruh diyah kembali?"


"Karena Diyah udah banyak membawa perubahan baik sama kamu, lagi pula mama selalu memikirkan diyah, makanya papa memutuskan untuk merestui kamu bersama diyah, sekarang tinggal kamu yang usaha untuk membawa diyah kembali,"


Mendengar itu membuat Rendra melompat lompat karena bahagia. "Yes..makasih kak, setidaknya papa udah izinin, aku jadi lebih semangat kalau kayak gini,"


"Iya..Iya...makanya kamu cepetan dong bawa diyah pulang, sebentar lagi aku akan nikah, kalian harus ada di sini,"


"Siap kak..doain aja,"


Sementara itu, diyah lanjut bekerja memetik kopi di perkebunan. Ia di kejutkan dengan kehadiran Rendra yang tiba-tiba muncul di balik batang kopi dan dedaunan itu.


"Astaghfirullah..mas Rendra ngagetin aja deh,"


"Maaf ..maaf, aku udah wangi kok, udah mandi, nggak usah panik gitu,"


"Bukan gitu maksudnya, tapi kalau datang itu minimal ucap salam lah, biar orang nggak kaget mas,"

__ADS_1


"Iya maaf.." ucap Rendra dengan pelan.


Diyah terdiam karena Rendra telah meminta maaf. Ia tetap lanjut memetik kopi meski Rendra ada di sana.


"Papa nyuruh aku membawa kamu kembali ke rumah, mama setiap hari mikirin kamu, pasti bi maryam juga merindukan kamu, sampai kapan kamu akan lari seperti ini," ucap Rendra dengan pelan agar diyah tersentuh.


Diyah terdiam memikirkan apa yang diucapkan Rendra itu.


"Aku nggak lari mas Ren, aku hanya kembali ke dunia ku yang sebenarnya,"


"Kalau aku ingin mengajakmu tinggal di dunia ku selamanya, apa kamu mau?"


"Aku nggak bisa mas Ren,"


"Tetap aja nggak bisa mas Ren,"


"Apa aku sebegitu buruknya hingga kamu tidak menginginkan aku sama sekali, apa masa laluku terlalu gelap ya? Sampai kamu tidak sudi bersama ku?"


Kali ini wajah Rendra tampak serius mengharap belas kasihan Diyah untuk kembali bersamanya.


Diyah tak mampu menjawab lagi. Ia selalu berusaha menahan perasaannya pada Rendra karena telah berjanji pada Elia. Diyah berpindah ke batang kopi yang lain untuk menghindari Rendra. Namun Rendra masih saja membuntutinya.


"Kenapa sih kamu nggak pernah menatap aku? Setiap kali bicara kamu hanya menatap biji kopi itu," Rendra merasa diyah tak pernah Sudi menatap wajah nya karena setiap kali Rendra bicara tatapan diyah tak pernah tertuju pada Rendra.


"Aku tidak bisa berlama lama menatap laki-laki yang bukan mahram ku mas, itu bukan karena benci atau yang lainnya,"

__ADS_1


"Oke..aku bisa ngerti, tapi tolong pikirkan baik baik diyah, ada banyak yang menunggu kamu kembali," lagi-lagi Rendra membuat Diyah semakin merasa bersalah karena meninggalkan orang orang yang ia sayangi.


Diyah terdiam dan merenungkan semua perkataan Rendra itu.


Diyah berjalan dan mempercepat langkahnya agar Rendra tak mengikutinya lagi


Tapi lagi lagi Rendra mengikuti. Ia pun berjalan cepat mengikuti dari belakang hingga kakinya tersandung kayu dan terjatuh. Tangan Rendra tergores kayu tajam yang tertancap di tanah hingga tangannya berdarah. Begitupun kakinya yang sakit dan sulit untuk berdiri.


Diyah pun buru-buru menemui Rendra."Kan udah dibilangin jangan ngikutin, masih aja ngikutin dari belakang,"


"Jangan ngomel lagi dong diyah, sakit bangat sumpah, aduh..ada rumah sakit nggak sih di sekitar sini?"


"Rumah hantu yang ada!"


Diyah amat panik karena tak ada orang di sekitar itu. Aneh rasanya jika ia berteriak untuk minta tolong.


Sementara darah terus mengalir di tangan Rendra.


"Sakit banget.." keluh Rendra yang tak bisa berdiri dan meratapi tangannya yang sakit.


Diyah teringat sejenis daun yang pernah di jadikan almarhumah ibunya sebagai obat luka. Ia mengambil daun itu yang di tumbuk dengan batu lalu di aplikasikan ke luka setelah luka dibersihkan.


Tampak perhatian tulus saat diyah mengobati luka Rendra dengan peralatan seadanya hingga ia harus merobek ujung jilbabnya untuk membalut luka itu.


"Bagaimana mungkin aku tidak tergila gila sama kamu?" batin Rendra memandangi wajah Diyah yang tertutup cadarnya. Tiba-tiba saja ia teringat momen dimana ia tak sengaja melihat wajah di balik cadar itu.

__ADS_1


__ADS_2