Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
27. Menceritakan rahasia


__ADS_3

Malam hari, mama Sinta tampak mengobrol dengan Pak Arif di kamar. Mama Sinta ingin menceritakan niat baiknya itu.


"Mas..ada suatu hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Sinta menatap serius wajah suaminya.


"Hal penting apa?" tanya pak Arif dengan penasaran.


"Apa mas masih ingat, dulu aku menceritakan tentang anak dari almarhum Bang Hamdan, abang kandung ku,"


"Iya..kenapa memangnya,"


"Sekarang anaknya sudah ada di rumah kita mas,"


"Hah? dimana dia? kapan dia datang? kok kamu tidak mempertemukan mas sama dia?"


"Dia kerja di sini mas, apa mas kenal dengan pembantu bercadar yang namanya diyah?"


"Iya kenal,"


"Itu dia orangnya mas, aku sengaja merencanakan dari awal agar dia bisa masuk ke rumah ini, tapi aku tidak berani untuk jujur sama diyah mas," tutur Sinta seraya menceritakan yang sebenarnya.


"Sayang.. bagaimana pun juga aku sudah janji dari awal, kalau aku akan menganggap keluarga mu menjadi keluarga kita, kenapa kamu biarkan dia menjadi pembantu?"


"Waktu itu hanya ini satu satunya cara supaya diyah datang ke sini mas, karena saat itu dia sedang mencari pekerjaan," jawab Sinta


"Jadi apa rencana mu selanjutnya? apa kamu akan tetap merahasiakan ini?"


"Entahlah mas, aku hanya ingin mencari waktu yang tepat saja, pertama aku harus mendekati diyah dulu, barulah nanti aku jujur padanya," jelas Sinta. Rasanya ia lebih lega setelah menceritakan ini pada suaminya. Namun ia belum berani menceritakan tentang niatnya yang ingin menjodohkan Satria dengan Diyah.


**


Keesokan harinya,


Diyah sedang berjalan ke dapur. Namun tiba-tiba di depan ada Satria yang akan berjalan ke arahnya. Untungnya Satria belum melihat dirinya. Diyah buru-buru berjalan ke arah yang lain, dia belok kiri yang merupakan jalan ke kamar mandi.


Namun saat ia telah berbalik badan dan berjalan, ia malah melihat Rendra di sana. Rendra pun melihat diyah.


"Hei..diyah!" panggil Rendra sembari berjalan ke arah diyah.


Diyah ingin menghindar namun ia terlanjur di panggil tuan muda. "Iya ada apa tuan?" sahut Diyah sembari menemui Rendra.


"Aku kan udah kerja, kamu nggak ngucapin apa gitu ..ucapin selamat kek..apa kek yang bisa memotivasi saya,"


"Selamat tuan, semangat kerjanya ya,"

__ADS_1


"Itu doang?"


"Terus apa lagi tuan? apa perlu saya memukul rebana untuk merayakan ini?" balas Diyah sedikit geram.


"Bisa aja kamu, kamu buatin saya bekal aja, biar lebih sehat sama hemat,"


"Iya tuan, sebentar ya," ucap Diyah sembari berjalan ke arah dapur.


Tak lama kemudian, Diyah pun kembali membawakan Rendra kotak sarapan untuk ia bawa ke kantor.


"Ini tuan, saya udah siapkan," ucap Diyah sembari memberikan kotak sarapan itu.


"Makasih,"


"Iya, sama-sama, kalau gitu saya permisi tuan!" ucap diyah kemudian melangkah pergi.


"Tunggu.." panggil Rendra menghentikan langkah Diyah.


"Ada apa lagi sih.." sahut diyah yang sudah kesal karena sedari tadi Rendra tampak menahannya untuk tidak pergi.


"Jadi perempuan itu yang lembut dong..kenapa sih kamu kalau sama kak satria pasti bicaranya lembut, tapi kalau sama saya malah suka jutek," ucap Rendra yang tampak protes.


"Perasaan tuan aja kali,"


"Dih..teman apanya sih," batin Diyah


"I-iya..mas Rendra," jawab diyah, meski dalam hatinya ia sangat kesal.


"Nah itu cocok tuh..."


"Ya udah.. mendingan kamu pergi sana, ini udah jam berapa..pasti tuan Arif udah nunggu," suruh diyah, mengingat waktu semakin berjalan.


"Iya..aku pergi ya,"


*


Stelah Rendra dan Pak Arif berangkat ke kantor. Tiba-tiba nyonya Sinta menemui Diyah dan mengajaknya untuk berbicara serius di ruang tengah.


"Ini ada apa ya Bu? kok tiba-tiba saya di suruh ke sini?" tanya Diyah sedikit deg degan saat ia duduk di antara Sinta dan juga Satria.


"Apa Satria sudah mengatakan niatnya sama kamu?" tanya Sinta menatap diyah.


Diyah tak tau harus menjawab apa, ia menatap Satria sesaat. Rasanya ia malu harus menjawab yang sebenarnya.

__ADS_1


"Iya bu...tapi saya kira itu hanya bercanda,"


"Dia Serius diyah, ya mungkin ini terlalu buru-buru, tapi kami tidak memaksa kamu kok, kamu masih ada waktu untuk berpikir," tutur Sinta sembari mengelus pundak Diyah.


"Tapi bu..saya ini cuma pembantu, saya merasa tidak pantas,"


Bu Sinta ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun ia harus meyakinkan dirinya bahwa ini momen yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya pada diyah.


"Kamu bukan cuma pembantu nak," ucap Bu Sinta menatap serius wajah diyah.


"Maksud ibu?"


"Kamu adalah anak dari Abang kandung saya, maaf ya, dulu saya tidak muncul di saat kamu dan ibumu sangat membutuhkan pertolongan," ucap Bu Sinta sedang matanya berkaca-kaca.


"Mak-maksudnya apa ya Bu?" diyah masih tak mengerti dengan ucapan Sinta dan ia tak begitu yakin dengan apa yang ia dengar.


"Iya nak..Hamdan ayahmu adalah saudara kandung ku," jelas Sinta


Diyah terdiam sejenak, ia memikirkan hal aneh ini, mana mungkin ini bisa tejadi padahal diyah tak pernah tau tentang ayahnya.


"Ibu pasti bercanda kan? mana mungkin Bu, saya aja nggak kenal wajah ayah saya, kalau memang benar...dimana ayah saya sekarang Bu?"


"Ayah mu sudah lama meninggal nak, maafkan ayah mu ya, agar dia lebih tenang," tutur Sinta sembari menggenggam tangan diyah.


Diyah tak bisa berkata banyak lagi, air matanya menetes, rasanya tidak mungkin ia mengetahui fakta pahit ini sekarang. "Insyaallah Ayah sudah kumaafkan Bu, tapi jangan salahkan diyah kalau diyah sulit untuk melupakan masa masa sulit bersama ibu kandung ku karena ayah,"


"Tapi..apa kamu mau maafin ibu juga?" tanya Sinta.


"Iya Bu, lagi pula kenapa saya harus marah sama ibu, ibu tidak salah apa pun dalam hal ini,"


"Alhamdulillah..kalau begitu panggil saya Tante aja ya, nggak usah panggil bu,"


"Iya Tante.." jawab Diyah pelan.


Satria pun tersenyum lega mendengar jawaban diyah. "Jadi..apa kamu mau menerima lamaran ku?" tanya Satria menatap ke arah diyah.


"Maaf tuan, bagaima mungkin tuan memutuskan untuk melamar saya padahal kita baru kenal, saya rasa ini terburu buru," tutur Diyah


"Tidak..ini tidak terburu-buru kok, saya sudah begitu yakin kalau kamu adalah perempuan baik baik," ucap Satria dengan percaya diri.


"Kalau memang tuan serius, beri saya waktu seminggu untuk berpikir," ucap Diyah


"Baik, saya akan tunggu kamu diyah," ucap Satria sembari tersenyum, akhirnya diyah mau berpikir dulu sebelum menolak lamaran ini.

__ADS_1


__ADS_2