Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
40. Bersaing


__ADS_3

Sementara itu, Elia kini melihat lihat seisi rumah yang sudah tampak beda dari terakhir kali ia meninggalkan rumah. Tepat saat ia melewati ruang tamu, tak sengaja ia berpapasan dengan mama Sinta.


"Elia, mama senang akhirnya kamu pulang juga nak, semoga kamu betah di rumah ini ya," ucap Mama Sinta tersenyum menyambut Elia. Baru saat ini ia bisa berbicara pada Elia karena Elia sibuk sejak ia baru datang tadi pagi.


"Nggak usah sok perhatian, ini kan rumah kami, perkataan anda itu seolah anda lah yang punya rumah dan saya tamunya, ingat ya...saya lebih berhak ada di rumah ini dari pada anda, anda hanya numpang di sini!" tegas Elia dengan serius. Ia memang tak pernah suka dengan mama Sinta. Sama halnya dengan Rendra, mereka menganggap ibu tiri adalah musuh.


"Mama kira kamu udah berubah tapi ternyata sama aja, mama nggak tau lagi gimana caranya supaya kalian bisa menganggap mama di rumah ini," ujar mama Sinta yang kini sakit hati dengan ucapan anaknya.


*


Malam hari, mama Sinta melamun di di teras rumah. Ia merenungkan betapa susahnya ia menghadapi anak anak tirinya.


Tiba-tiba Diyah datang menyapa.


"Tante...kenapa? ada masalah?" tanya Diyah yang kini mencoba mendekat pada tantenya. Diyah sadar bahwa satu satunya keluarga terdekat nya kini hanyalah Tante Sinta.


Tante Sinta tak banyak bicara, ia langsung memeluk diyah dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


"Diyah...Tante kayaknya udah nggak kuat berada di rumah ini," ucap Sinta berderai air mata di pelukan Diyah.


"Kenapa Tan? jangan mudah menyerah Tante, ini hanyalah segelintir ujian dari Allah, orang orang terdahulu telah di uji lebih berat tapi mereka melewatinya dengan sabar, diyah tau kok kalau Tante lelah dengan perlakuan mereka, karena diyah pun bisa merasakan, tapi Tante lebih sabar lagi ya, suatu saat pasti semuanya akan membaik," tutur Diyah menenangkan hati Sinta.


Kini diyah adalah satu satunya teman curhat bagi Sinta. Karena tak mungkin Sinta menceritakan keluh kesah ini pada suaminya.


"Maaf ya nak, sampai sekarang kamu masih jadi pembantu di rumah ini, Tante berharap kamu tinggal di sini sebagai anggota keluarga, bukan pembantu," ujar Sinta yang amat menyesali hal ini. Sebagai keponakannya, harusnya diyah bisa tinggal tanpa harus menjadi pembantu.


"Tante...kenapa Tante yang minta maaf, lagian aku nggak mau menumpang tanpa bekerja di rumah ini, aku nggak mau jadi beban, Tante jangan terlalu mikirin itu ya, mendingan Tante pikirkan hal hal yang tidak membuat pikiran Tante lelah," tutur Diyah mencoba menghibur Tante Sinta.

__ADS_1


"Makasih ya nak, mulai sekarang kalau kamu ada masalah apa pun, Tante selalu siap mendengarkan semua keluh kesah kamu, anggaplah Tante sebagai orangtuamu nak,"


"Iya Tante, itu pasti," ucap Diyah sembari tersenyum menatap tantenya.


Usai mengobrol dengan Tante Sinta, tiba-tiba ada chat masuk ke hpnya.


Cepat ke atas, ini darurat, sangat penting!


Ternyata itu adalah chat dari Rendra. Diyah khawatir sesuatu telah terjadi. Ia berjalan cepat menaiki anak tangga ke lantai atas.


Sesampainya di lantai atas, diyah buru-buru ke ke arah kamar Rendra, namun sebelum ia melangkah ke sana, ia telah melihat Rendra yang berdiri di depan jendela kaca di sudut.


"Ada apa mas Rendra?" tanya Diyah yang sudah ngos-ngosan karena buru-buru.


"Tempat tidur saya berantakan, saya tidak mau tidur sebelum dibereskan!" jawab Rendra dengan santainya.


"Jadi ini hal yang sangat penting itu? yang bener aja mas, ini bukan kerjaan saya, hari ini pekerjaan saya udah selesai!" balas Diyah yang mencoba komplain.


Diyah menarik nafas dalam sebelum ia melangkah ke kamar Rendra. Rasanya ia harus mengumpulkan kesabaran menghadapi Rendra.


Sementara Rendra tersenyum melihat diyah yang tampak kesal sedang menuju kamarnya.


Sampailah diyah di kamar Rendra. Diyah buru-buru membereskan tempat tidur itu. Namun anehnya, diyah melihat sebuah sepatu lengkap dengan kotaknya ada di atas tempat tidur.


"Itu sepatu yang tadi saya beli untuk kamu! tadi kamu pasti lupa bawa," ucap Rendra yang kini tiba-tiba datang.


Diyah tidak ingin menerima, namun ia khawatir tuan muda itu malah akan marah jika sepatu pemberiannya di tolak.

__ADS_1


"Iya makasih mas Ren, lain kali nggak perlu ngasih saya apa apa mas,"


"Loh kenapa? saya salah apa sih sama kamu? kok kamu kayak nggak senang gitu kalau sama saya,"


"Nggak..perasaan mas Ren aja kali.." balas Diyah yang akan bergegas pergi.


Namun tiba-tiba Satria muncul di pintu karena memang pintu kamar terbuka lebar.


"Diyah...kamu ngapain di sini malam malam?" tanya Satria menatap Diyah dengan serius. Ia percaya bahwa Diyah adalah wanita baik baik. Justru Satria curiga Rendra lah yang selalu memaksa Diyah untuk datang di malam hari.


"Saya tadi cuma beresin tempat tidur tuan Rendra kok, tuan jangan salah faham dulu," ujar Diyah yang amat khawatir jika satria akan berpikiran buruk tentangnya.


Rendra tampak tak senang dengan kedatangan Satria. Ia menatap Satria dengan tatapan tajam.


"Kenapa? nggak suka kalau diyah ada di sini, nggak usah merasa memiliki deh kak, diyah bukan siapa siapa mu, lagian diyah pasti akan menolak lamaran itu," tegas Rendra tersenyum sinis.


"Maksud kamu apa sih? eh ren...diyah itu seorang gadis, harusnya kamu membatasi pekerjaannya, jangan sampai dia harus datang malam malam ke sini cuma untuk hal yang nggak penting," tegas Satria, ia tak suka jika diyah ada di kamar Rendra malam malam seperti ini.


"Diyah...sana keluar, kamu harus istirahat," suruh Satria menatap Diyah.


"Jangan! jangan pergi diyah, tetap di sini! ini perintah!" tegas Rendra seraya menahan diyah agar tetap di sana.


Diyah pun bingung harus pergi atau tidak. Entah perintah mana yang harus ia turuti.


Rendra dan Satria saling tatapan dengan tajam. Sepertinya suasana semakin panas ketika Rendra melotot pada Satria.


Tiba-tiba Elia yang memang ingin menemui Rendra telah tiba di kamar Rendra. Awalnya ia berniat ingin mengajak Rendra keluar. Namun ia amat terkejut, saat memasuki kamar Rendra ia sudah melihat Rendra dan Satria tampak sedang bertikai.

__ADS_1


Elia menyimak pertengkaran itu hingga ia paham dimana letak masalahnya.


Elia menarik tangan Diyah keluar. "Eh.. perempuan aneh! kamu ngapain sih ada di kamar kak Rendra? kamu mau menggoda dia? jangan sok cantik ya!" ucap Elia dengan ketus sembari menahan tangan Diyah dengan keras di luar kamar Rendra.


__ADS_2