Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
29. Benarkah dia sedingin es


__ADS_3

Segerombolan teman Rendra langsung memapah Rendra ke sebuah pondok di tepi jalan. Sementara itu, Diyah agak takut dengan laki-laki yang amat banyak di sana. Ia tak berani berbicara, hanya mengikuti kemana Rendra di bawa. Tampak dari wajah diyah kalau ia ketakutan


"Jangan takut, kami bukan penjahat," ucap Adit, salah satu teman terdekat Rendra.


"Iya makasih ya, sudah datang tepat waktu," ucap Diyah karena ia telah tau bahwa segerombolan laki-laki itu adalah teman teman Rendra.


"Dasar bodoh! mau cari mati ya!" ucap Rendra dengan ketus sambil melotot pada Diyah.


Mendengar itu membuat emosi diyah tiba-tiba melonjak, untungnya ia mengambil nafas dalam untuk menenangkan hatinya.


"Apa sih? kamu yang cari mati! kok malah saya?" balas Diyah dengan rasa kesalnya.


"Ngapain kamu datang ke sini? kalau kamu tadi di apa-apain sama mereka gimana?" cetus Rendra dengan nada yang keras.


"Tuan muda yang terhormat...saya ke sini karena saya tau kalau anda pasti akan berbuat aneh," balas Diyah melototi Rendra.


"Kamu nggak akan membuat keadaan jadi membaik!" tegas Rendra,


"Sebenarnya kamu kenapa sih? tiba-tiba dingin seperti es, kalau ada masalah itu di selesaikan bukan lari!" gerutu Diyah menatap Rendra


"Kamu nggak akan pernah ngerti, kehadiran kamu di sini cuma akan menambah bahaya," tegas Rendra dengan nada bicaranya yang semakin tinggi.


Kata kata Rendra seakan menyakiti hati diyah. Ia tak bisa menahan sakit hatinya ketika ia di bentak. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca menahan air mata yang ingin jatuh tapi ia tahan tahan.


"Oke..saya pergi, maaf kalau kehadiran saya menyusahkan tuan muda!" ucap Diyah sembari membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Ia meneteskan air mata setelah membelakangi semua orang. Rasanya baru kali ini ia merasakan sakitnya di bentak oleh orang lain.


Diyah pergi menaiki motornya.


Sementara itu Rendra berteriak meluapkan segala emosinya.


"Tenang bro..tenang..se emosi emosinya kamu, harusnya tadi jangan sampai kamu membentak gadis itu," ucap salah satu teman Rendra.


Rendra pun tersadar bahwa ia telah meluapkan emosinya pada diyah. "Diyah..diyah..apa diyah udah pergi?" tanya Rendra.

__ADS_1


"Iya.." jawab mereka serentak


"Diyah.." panggil Rendra sembari berdiri dan berjalan meski tertatih. Ia menaiki motornya dan bergegas mengejar Diyah.


"Ren..hati hati..jangan ngebut.." ucap teman teman rendra itu.


Memang terkadang saat emosi kita tidak sadar apa yang telah kita katakan telah melukai hati orang lain. Itulah yang di rasakan Rendra saat ini. Namun ia menyesal telah membentak Diyah. Sebenarnya ia sangat khawatir saat diyah datang menemuinya, namun ia salah mengungkapkan rasa khawatirnya.


Sampailah diyah di depan gerbang rumah. untung saja ia masih ingat jalan. Sebelum ia memanggil pak satpam untuk membuka gerbang, tiba-tiba saja Rendra telah sampai di sana menyusul diyah.


Dengan luka di wajah yang masih lebam dan memar, Rendra perlahan menemui diyah.


Diyah yang sedari tadi menangis buru buru menghapus air matanya.


"Diyah..maafin aku, aku tadi nggak sengaja bentak bentak kamu, aku minta maaf," ucap Rendra menatap Diyah dengan serius.


Namun diyah tak menatap Rendra, ia mengalihkan pandangan karena masih sakit dengan ucapan Rendra tadi.


"Nggak perlu minta maaf tuan muda, saya yang salah kan," ucap Diyah pelan tapi tajam.


"Ini udah malam, saya mau tidur, permisi!" ucap diyah dan bergegas pergi setelah gerbang di buka.


Diyah telah melangkah pergi. Namun Rendra masih berbicara padanya. "Saya minta maaf!" ucap Rendra untuk kesekian kalinya.


Rendra dengan kondisinya yang sudah lemah, bergegas ke kamarnya. Untungnya tidak ada keluarga yang melihatnya. Pak Arif telah tidur begitu pun Bu Sinta.


Rendra bersandar di dinding kamarnya, tinggallah penyesalan saat ia mengingat perlakuan kasarnya pada diyah.


*


Sementara itu, Diyah telah berbaring di kamarnya. Ia masih sakit hati dengan kejadian tadi. Namun di sisi lain, ia teringat luka Rendra yang cukup parah.


"Bagaimana pun, sebagai sesama manusia aku harus menolongnya," batin Diyah


Ternyata diyah tetap saja tak tega membiarkan Rendra merasakan sakit karena lukanya yang cukup parah.

__ADS_1


Diyah pun memutuskan untuk membantu tuan muda. Namun ia tak mau sendirian ke kamar Rendra selarut ini. Hingga diyah meminta tolong pada Bu Maryam agar ia di temani.


*


"Astaghfirullah.. nak..kok bisa begini sih.." Bu Maryam tampak panik saat pertama kali melihat Rendra yang lebam wajahnya.


"Aku nggak pa pa kok bi," balas Rendra. Namun mata Rendra tertuju pada diyah. Ia lega, akhirnya diyah masih mau menemuinya.


"Luka ini harus di kompres dingin," ucap Diyah sembari mengompres kan lebam di wajah Rendra dengan handuk kecil dan es batu.


"Makasih, kamu udah maafin saya," tanya Rendra sembari menatap wajah diyah yang sangat dekat dengannya.


Namun diyah tak menjawab. "Bu..bisa bantu diyah untuk mengompres tuan muda?" tanya Diyah pada Bu Maryam. Diyah malah menghindari pertanyaan Rendra.


"I-iya.." jawab Bu Maryam yang tampaknya heran dengan sikap diyah sedari tadi tak berbicara pada Rendra.


Suasana sangat aneh ketika semuanya hanya diam di ruangan yang sama. Diyah menyibukkan diri membereskan piring yang ada di meja kamar Rendra. Sementara Bu Maryam mengompres luka Rendra. Meski di hadapan Rendra adalah Bu Maryam namun matanya tertuju pada diyah.


"Kamu sakit hati ya? maaf! nggak seharusnya saya melampiaskan emosi saya sama kamu, dan maaf karena saya sempat bersikap dingin sama kamu," ucap Rendra dengan pelan.


"Saya cuma nggak nyangka kalau tuan bisa se dingin dan se kasar itu," ucap Diyah tanpa menatap Rendra


"Saya memang seperti ini diyah, justru inilah diri saya yang asli, saya berubah belakangan ini karena saya ketemu sama kamu,"


"Udahlah tuan, nggak usah di bahas lagi, mendingan sekarang tuan istirahat, saya dan Bu Maryam akan keluar," kata Diyah seraya menarik tangan bu Maryam.


"Ayo Bu.." Diyah dan Bu Maryam pun keluar dari kamar Rendra.


"Ada apa sih diyah? kamu dan tuan Rendra seperti terjadi sesuatu?" tanya Bu Maryam saat keduanya berjalan ke kamarnya.


"Bu, apa benar yang dikatakan tuan Rendra tadi?" tanya Diyah


"Kalau itu sih benar, tuan muda memang dingin, kecuali sama kamu, ibu juga heran tuh,saking dinginnya sama orang lain..mungkin kalau di masukin kulkas malah kulkasnya yang beku,"


"Masa sih..kayaknya nggak separah itu deh," balas diyah.

__ADS_1


"Itu karena kamu nggak tau aja, coba nanti kamu perhatiin gimana cara tuan Rendra berbicara pada orang lain, pasti caranya beda dengan cara bicaranya sama kamu," tutur Bu Maryam.


__ADS_2