Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
32. Lamunan berujung istighfar


__ADS_3

Di mobil,


Suasana dalam mobil saat perjalanan tampak senyap. Diyah sesekali melirik Rendra. ia masih tak menyangka jika tuan muda itu mau menjemputnya.


"Kenapa? saya ganteng ya?" Rendra tersenyum melihat diyah sedari tadi meliriknya.


"Dih..siapa bilang, saya cuma mau berterima kasih aja mas, tapi ..kok mas Ren bisa tau kalau saya ada di pasar?"


"Saya selalu mengawasi kamu,tenang aja, selagi saya di rumah, kamu aman," ucap Rendra dengan percaya diri.


Diyah geleng kepala berusaha memaklumi perkataan Rendra yang selalu sukses membuatnya kesal.


"Oh ya..maafin saya kalau akhir akhir ini ada perkataan yang menyakiti kamu," ucap Rendra yang sesekali melirik diyah.


"Saya sudah maafkan mas, memang mudah untuk saya memaafkan, tapi kadang sulit untuk saya lupakan,"


"HM..itu sih sama aja. Diyah..kamu tau nggak, saya merasa hancur, makanya akhir akhir ini sifat saya suka berubah ubah, kadang ketika saya bernostalgia ke masa lalu, rasanya ada yang tidak adil dengan keadaan ini, saya masih sering teringat dengan meninggalnya ibu saya, kadang saya ingin membalas dendam padanya yang telah mencelakai ibu, tapi hati kecil saya berkata tidak, saya harus berperang dengan diri sendiri agar bisa mengontrol diri ini," tak sadar Rendra telah curhat panjang lebar pada diyah.


Diyah sangat paham dengan kondisi Rendra saat ini. Mungkin ada rahasia di masa lalu yang menyebabkan trauma bagi Rendra. Namun tak mungkin bagi diyah untuk menanyakan privasi Rendra.


"Apa pun itu, mas Rendra harus bisa melepas masa lalu demi menggenggam masa depan, apa untungnya jika mas Ren masih mengingat ingat masa lalu, yang ada mas Ren tidak akan pernah merasakan ketenangan," Tutur Diyah mencoba menasehati Rendra. Namun tampaknya Rendra hanya terdiam. Mungkin ia tak mampu melakukan saran diyah untuk melupakan masa lalu.


**


Sampailah di rumah,


Diyah masuk ke dalam rumah dengan pakaian basah kuyup. Baru saja Diyah memasuki pintu rumah, tiba-tiba saja Satria sudah menyambutnya. Satria terkejut melihat penampilan Diyah basah kuyup.


"Diyah..kamu kok basah kuyup? dari mana?" tanya Satria menatap diyah dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Dari pasar tuan," jawab Diyah sembari menundukkan kepalanya.


"Astaghfirullah...kenapa kamu nggak suruh saya buat jemput kamu?"


"Nggak pa pa tuan, mana mungkin saya meminta tuan untuk menjemput saya,"

__ADS_1


"Dimana letak kesalahannya? nggak pa pa dong, saya sudah bilang kalau kamu itu spesial, bukan sekedar pembantu, ya sudah kalau gitu kamu mandi air hangat sana, nanti saya suruh bi Maryam membuatkan jahe hangat buat kamu," ucap Satria seraya memperhatikan diyah.


Sementara itu Rendra di sana berdiri mematung melihat perhatian berlebihan dari satria. Tatapannya begitu tajam melihat Satria dari jauh. Akhirnya Rendra pun berjalan ke arah Diyah dan Satria yang sedang berbicara.


"Jangan repot repot kak, kalau diyah sakit, aku yang tanggung jawab," tegas Rendra melototi Satria.


"Sana masuk!" kemudian Rendra memerintahkan Diyah untuk segera masuk ke kamarnya. Diyah pun hanya menurut saja. Ia meninggalkan Rendra dan Satria di sana.


"Tumben, kenapa kamu baik sama diyah? bukannya selama ini kamu dingin sama semua orang?" tanya Satria terheran melihat tingkah Rendra.


"Nggak..aku nggak pernah dingin sama diyah, kamu aja yang nggak tau, nggak usah perhatiin diyah kak! biar aku yang jagain dia!" tegas Rendra melototi kakaknya.


"Dih..apaan sih, emang kamu siapanya? bukan urusan kamu aku mau jaga diyah atau mau jadi bodyguard diyah sekalipun," balas Satria


"Kok ngotot? kenapa kamu mau jagain diyah kak? jagain aja mama tiri mu!" cetus Rendra


"Kok bawa bawa mama sih? itu mama sambung kita, kok kamu ngomongnya gitu sih Ren?" balas Satria yang mulai terpancing untuk ribut. Keduanya sama sama terpancing emosi saat berdebat.


"Udahlah nggak penting, mending tidur!" cetus Rendra meninggalkan Satria begitu saja.


*


"Diyah.. akhirnya kamu datang...maafin aku ya.. please maafin aku, aku tadi lupa, kamu jangan marah ya," ucap Sari seolah memohon maaf.


Bagaimana pun juga diyah tak tega untuk marah. Ia dan sari adalah rekan kerja, tak baik marah pada teman sendiri.


"Iya..aku udah maafin kamu mba, mau di sengaja ataupun tidak, aku udah maafin mba kok," ucap Diyah dengan kelembutan hatinya.


"Makasih ya, tapi diyah, kamu memang maafin aku, tapi bagaimana dengan tuan muda Rendra? aku takut diyah..aku takut di pecat, tolong bujuk dia untuk tidak menghukum ku ya, please.." pinta Sari sembari memohon mohon agar diyah berbicara pada Rendra.


"Memangnya dia tau kalau kita ke pasarnya tadi barengan?" tanya Diyah


"Ya Taulah diyah, tadi tuan muda Rendra nemuin aku, wajahnya kayak marah banget pas dia tau kalau kamu ketinggalan di pasar," jelas Sari, sedang hatinya amat gelisah seolah takut jika ia akan mendapat hukuman.


"Iya..kamu tenang aja ya, nanti aku akan coba bicara,"

__ADS_1


"Makasih ya..ternyata kamu baik, nggak seperti yang aku bayangkan," ucap Sari, namun lain halnya di dalam hati. Dalam hatinya ia amat kesal pada diyah. Bagaimana mungkin pembantu baru seperti diyah mendapat perhatian dari tuan muda.


**


Hari mulai senja,


Saat ini Diyah baru saja usai mandi. Ia sedang membenarkan jilbabnya di kaca. Tak sadar ia melamun. Seketika Rendra terlintas di lamunannya. Ia teringat ketika Rendra datang membawakan payung untuknya. Menghalangi tetesan hujan menetes di atasnya. Bagaimana pun juga diyah manusia biasa, bisa merasakan deg-degan di kala dekat dengan laki-laki seperti Rendra.


"Astaghfirullah... astaghfirullah.. astaghfirullahalazim.. ya Allah tolong bersihkan pikiran hamba," ucap diyah ketika ia menyadari lamunannya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar diyah. Diyah buru-buru membukakan pintu itu. Ternyata yang datang adalah nyonya Sinta.


"Apa ibu boleh masuk?" tanya Sinta yang berdiri di depan pintu kamar.


"Silahkan nyonya, masa nggak boleh sih," balas diyah tersenyum ramah.


Bu Sinta pun masuk dan duduk di ranjang kamar itu. "Duduklah..ibu ingin bicara!" suruh Sinta.


Diyah pun duduk.


"Ada apa Bu?" tanya Diyah sedikit deg-degan jika nyonya Sinta kembali membahas lamaran.


"Apa kamu sudah menganggap ku sebagai tante mu, adik dari ayahmu?" tanya Sinta dengan serius.


"Ya, kalau memang itu sudah ketetapannya, bagaimana mungkin Diyah tidak menganggap ibu sebagai Tante diyah,"


"Kalau begitu panggil Tante saja ya," pinta Sinta.


"Baik Tante, tidak masalah jika itu membuat Tante lebih nyaman," balas Diyah sembari tersenyum.


"Ada hal penting yang ingin Tante bicarakan,"


"Apa?"


"Kamu berhentilah jadi pembantu, hiduplah layaknya anggota keluarga ini," ucap Tante Sinta mengejutkan Diyah.

__ADS_1


__ADS_2