
"Maaf..nyonya salah faham, saya tidak menggoda siapa pun, saya di sini untuk menjalankan tugas yang diberikan pada saya, jika boleh memilih saya pun malas bekerja saat sudah malam seperti ini!" tegas Diyah pelan tapi tajam.
Ia tak takut sama sekali karena diyah merasa ia tak salah sedikit pun dalam hal ini.
"Masih berani ngelak ya..kamu tuh nggak pantas ada di sini malam malam, dasar pembantu nggak tau diri!" tegas Elia dengan ketus. Baru saja mengenal diyah namun sepertinya ia tampak tak suka dengan pembantu yang satu ini.
"Maaf tapi nyonya udah keterlaluan, saya memang pembantu, tapi saya juga manusia! nyonya tidak bisa menuduh saya seenaknya!" ucap Diyah pelan tapi tajam.
"Berani kamu ya.." Elia mengambil ancang ancang ingin menampar diyah.
Namun seketika Satria datang menahan tangan Elia sebelum tangannya sampai melukai pipi Diyah.
Begitupun Rendra yang melindungi diyah. Ia menarik diyah agar berdiri di belakangnya.
"Kamu apa apaan sih....ngapain kamu mau nampar diyah?" tanya Rendra melototi adiknya sendiri.
Elia heran sekaligus kesal dengan sikap kedua kakaknya. ia tak habis pikir kenapa kedua kakaknya malah melindungi pembantu itu.
"Kalian kenapa sih kak, yang harusnya kalian bela itu aku, bukan pembantu ini? tingkah kalian ini seolah menganggap aku sebagai penjahat," gerutu Elia yang amat kesal karena kedua kakaknya bagai melindungi diyah dari penjahat.
"Apa pun alasannya kamu nggak berhak melukai diyah!" tegas Satria pada Adiknya itu.
"Siapa yang melukai dia? jangan lebai deh kak! sebenarnya apa yang spesial sih dari perempuan ini? udah aneh, nggak jelas, pake topeng pula," lanjut Elia dengan rasa kesalnya.
"Dia adalah keponakan mama, sekaligus calon istri aku!" tegas Satria menjelaskan sejelas jelasnya.
Elia terdiam sejenak. Ia tak menyangka sama sekali. Bahkan ia berpikir ini tak mungkin.
"Apa sih kak, diyah udah nolak lamaran kamu kan?" Rendra bersuara memprotes perkataan Satria.
"Sok tau kamu! diyah aja belum kasih jawaban!" balas Satria menatap Rendra.
"Nggak! kamu gila ya kak!" bentakan Elia mengejutkan semuanya. hingga Diyah merasa tidak nyaman dengan suasana ini.
"Pokoknya aku nggak setuju kalau kak Satria nikah sama dia, dan kalau memang perempuan ini ponakannya mama Sinta..aku mau dia pergi dari rumah ini!" tegas Elia, ia amat tidak suka jika keluarga Ibu tirinya tinggal di rumah ini, apalagi menikah dengan kakaknya sendiri, Elia pasti tak akan rela.
__ADS_1
Satria menarik paksa tangan Elia untuk membawanya pergi dari hadapan diyah. Tentu satria khawatir kata kata Elia akan semakin menyakiti Diyah.
Sementara itu Diyah jadi kepikiran dengan kata kata Elia itu. Ia merenungkan semuanya, mungkin memang benar bahwa ia tak pantas berada di rumah ini.
"Jangan di masukin ke hati, Elia emang gitu orangnya, masih kekanak-kanakan, mendingan sekarang kamu istirahat," tutur Rendra menenangkan hati Diyah.
"Nyonya Elia benar kok mas Ren, sebenarnya dari awal saya juga mau nolak lamaran itu, tapi setiap kali saya ingin memberi jawaban, tuan Satria malah menyuruh saya untuk menunggu agar waktunya tepat satu Minggu barulah saya menjawabnya," ucap Diyah yang khawatir orang orang mengira dirinya tak tau diri.
"saya sudah bisa menebak jawaban kamu kok, kalian emang nggak cocok, jangan di pikirkan, selama ini kamu yang menyemangati saya, kok sekarang kamu malah sedih kayak gini sih, ini bukan Mardiyah yang saya kenal, semangat dong!"
"Tapi mas Ren, kayaknya saya memang harus pergi deh, saya nggak nyaman kalau orang orang akan beranggapan bahwa saya numpang hidup di rumah ini, meski hanya sebagai pembantu, tapi pasti akan ada saja orang yang beranggapan buruk,"
"Jangan mikirin orang orang, kalau seribu orang sudah tidak percaya sama kamu, saya akan tetap berdiri paling depan untuk percaya dan mendukung kamu," ucap Rendra menyemangati diyah.
"Makasih mas Ren," ucap Diyah sembari tersenyum menghilangkan semua pikiran negatifnya.
Sementara itu, Satria tampak berbicara berdua dengan Elia.
"Pokoknya aku nggak mau ada keluarga ibu tiri di sini!" tegas Elia pada kakaknya.
"Kamu masih aja nggak suka sama mama? ingat Lia... almarhumah mama yang mewasiatkan agar kita memperlakukan Mama Sinta dengan baik!"
"Udah nggak ada tapi tapi... pokoknya kamu jangan berbuat macam macam di rumah ini, jangan lukai diyah dan mama,"
"HH..harusnya aku nggak pernah pulang ke rumah ini!" tegas Elia sedang matanya berkaca-kaca. Ia pun pergi meninggalkan Satria.
*
Pagi hari
Diyah menyiram tanaman di depan. Namun sepertinya ia sedang melamun. Tentu ia tak henti memikirkan keadaan yang kini sangat sulit baginya.
Tiba-tiba sebuah pesawat kertas mendarat di hadapannya. Ia memungut kertas itu, kemudian menatap ke atas. Ia mengecek arah datangnya pesawat kertas di tangannya.
"Mas Rendra.." ucap Diyah saat ia menoleh ke atas.
__ADS_1
Rendra berdiri di jendela lantai dua sembari tersenyum menatap ke bawah.
Sementara itu, Diyah melihat lihat pesawat kertas di tangannya. Ia membuka pesawat kertas dan membaca isinya.
Jangan lupa bahagia hari ini^_^
Diyah sempat tersenyum melihatnya. Sederhana tapi bisa menghiburnya.
Sementara itu Rendra turun ke bawah, menemui Diyah yang masih menyirami tanaman.
Tampak Rendra berpakaian rapih dengan dasi hitamnya.
"Pagi.." sapa Rendra berjalan mendekat ke arah Diyah.
"Pagi mas Ren,"
"Hari ini..saya harus mulai kerja, soalnya saya udah nggak sanggup lagi mendengar Omelan papa setiap hari, dan saya juga harus mandiri, biar bisa punya penghasilan sendiri, dan.."
"Dan apa mas?"
"Dan supaya saya bisa menafkahi perempuan yang akan jadi istri saya nanti," lanjut Rendra dengan senyuman.
"Semangat ya mas Ren, emang udah seharusnya mas Rendra kerja," ucap Diyah seraya menyemangati Rendra.
"Kemarin kemarin saya malas-malasan karena tidak ada motivasi dan tujuan, tapi sekarang...saya sudah punya tujuan yang sangat jelas,"
"Tujuan mas Rendra apa? dan kenapa kemarin kemarin mas Ren tidak ada tujuan?" tanya Diyah yang masih tak peka dengan perkataan Rendra.
"Tujuan saya sangat jelas, coba kamu perhatikan bola mata saya, pasti kamu akan melihatnya," jelas Rendra
Diyah dengan polosnya mencoba menatap mata Rendra sesaat. Ia pun faham bahwa yang dimaksud adalah dirinya. Karena saat ia melihat mata Rendra tentu yang ia lihat di sana adalah dirinya sendiri.
"Saya pergi dulu ya, kalau ada apa apa, hubungi saya," ucap Rendra sebelum ia melangkah pergi.
"Iya mas, Assalamualaikum," ucap Diyah seolah mengingatkan Rendra untuk mengucap salam.
__ADS_1
"Waalaikumussalam...da.." Rendra mengedipkan sebelah matanya sebelum ia benar benar pergi.
Tak sadar diyah tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah Rendra pagi ini. "Ada ada aja mas Rendra,"