
Malam hari, Rendra melamun di kamarnya. Ia ingin turun dari jendela kamarnya dan kabur seperti biasa. Namun ketika ia menatap ke bawah, ternyata di sana sudah ada penjaga yang di utus pak Arif untuk berjaga di malam hari agar Rendra tidak keluar malam.
Ia mencoba bermain game untuk mencari kesibukan. Tapi ternyata itu tidak berhasil. Ia malah semakin bosan.
Seketika Rendra teringat dengan ucapan Diyah tadi. Bahwa ia harus sholat untuk mendapatkan ketenangan.
Dan tiba-tiba Rendra juga teringat dengan momen ketika ia membuka paksa cadar Diyah. Memang cantik, tapi bukan itu yang membuat ia penasaran.
Banyak wanita cantik di luar sana, dia tak begitu terkejut melihat kecantikan Diyah. Namun sepertinya ada yang spesial dari wajah diyah.
Wajah diyah mengingatkan Rendra pada mimpinya yang pernah bertemu seorang bidadari cantik. Setelah di perhatikan, gadis di mimpinya sangat mirip dengan Diyah.
Suara ketukan pintu terdengar di telinga Rendra,
"Siapa?"
"Bi Maryam, boleh masuk nggak?" tanya Bi Maryam sembari membawa makan malam untuk Rendra.
Wanita berusia 50 tahun itu pun masuk ke kamar. Bahkan di usia tuanya ia tak akan berhenti bekerja karena memang ia tak bisa meninggalkan tuan muda yang sudah ia sayangi seperti anak sendiri.
"Syukurlah malam ini tuan muda tidak keluar," ucap Bi Maryam sambil meletakkan makanan itu di meja.
"Gimana mau keluar Bi, itu di bawah banyak bodyguard papa,"
"Apa kamu masih tidak bisa tidur nak?" tanya Bi Maryam.
Rendra malah tersenyum, "Gitu dong Bi..jangan panggil tuan muda lagi, aku lebih nyaman di panggil nak seperti itu,"
"Iya nak Rendra, tapi kan kalau di depan orang banyak bibi manggilnya harus tetap tuan muda biar sopan,"
"Iya deh, terserah bibi,"
"Ngomong ngomong...semalam berhantam sama siapa?" tanya Bi Maryam, ia berharap Rendra akan mau bercerita padanya.
Rendra hanya terdiam, ia tak ingin menceritakan masalah seperti ini pada bi Maryam karena khawatir jika itu hanya akan menambah beban bagi orang lain.
__ADS_1
Malam semakin larut, Rendra masih belum tidur juga. Ia turun ke lantai bawah untuk sekedar jalan jalan karena tak tau apa yang harus dilakukan.
Hingga Rendra tiba di depan kamar Diyah, ia juga bingung apa yang membawanya ke sana. "Kok aku malah ke sini.." batin Rendra saat ia menyadari ternyata ia sudah berjalan sejauh ini.
Rendra pun melangkah untuk pergi dari depan kamar Diyah. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara lantunan Al-quran.
Surah Al-waqi'ah yang Mardiyah lantunkan seolah menarik perhatian Rendra.
"Kenapa aku jadi pengen dengar suara mengaji seperti ini ya," batin Rendra, ia tak sadar telah merasakan ketenangan mendengar suara Diyah mengaji.
Saking betahnya ia di sana, sampai-sampai Rendra mengambil posisi dengan duduk di depan pintu kamar Diyah sambil bersandar di dinding.
Pukul 23.00 WIB. Rendra telah tidur nyenyak di depan pintu kamar Diyah. Kebetulan tepat saat ini Satria lewat, ia ingin ke bawah untuk mengambil air minum, namun ia di kejutkan dengan pemandangan di depannya.
Bukannya membantu memindahkan Rendra, ia malah tersenyum lucu melihat tingkah adiknya itu. Ia memotret adiknya dengan posisi yang tertidur di depan pintu.
Setelah itu barulah satria pergi begitu saja. Ia berjalan ke bawah, namun tiba-tiba papa memanggilnya.
"Satria.." panggil pak Arif.
"Kamu belum tidur kan? coba cek adikmu, siapa tau dia masih kabur meskipun banyak penjaga," suruh pak Arif pada Satria.
Satria malah tersenyum, ia berniat memberi kejutan ini pada papanya. "Papa ikut aku deh, pasti papa akan kaget," satria menarik tangan papanya ke lantai dua untuk melihat adiknya Rendra.
"Lihat apaan sih, kamu ini ada ada aja,"
"Udah..papa ikut aja.." ucap satria saat ia membawa papanya untuk melihat keadaan Rendra.
Benar saja, sesampainya di depan kamar Diyah, Pak Arif ternganga melihat putranya tidur bersandar di dinding.
"Kok..Rendra.."
"Iya pa..aku juga bingung, kok Rendra bisa tidur di depan pintu kayak gini, padahal selama ini dia nggak bisa tidur malam meskipun itu di kamar yang bagus," ujar Satria memotong perkataan papanya.
"Iya juga ya...kenapa bisa gitu ya, Rendra beneran tidur kan? dia nggak pingsan kan?" tanya pak Arif.
__ADS_1
"Iya pa..dia tidur," jelas satria.
Pak Arif pun tertawa lepas melihat tingkah anaknya yang aneh." Ah sudahlah..biarkan saja dia tidur di situ, mungkin itu memang tempat terbaik yang membuat adikmu bisa tidur," ucap Pak Rendra dan kemudian pergi begitu saja.
Begitupun Satria yang juga pergi tanpa membangunkan adiknya. Hingga Rendra tidur di depan pintu sampai menjelang subuh.
Karena saat menjelang subuh Diyah keluar kamar untuk mandi dan berwudhu. Ia terkejut ketika membuka pintu kamarnya.
"Astaghfirullah.." ucap Diyah dengan spontan. Untungnya ia tak menginjak tuan muda yang tertidur di sana.
"Tuan..bangun..tuan.. hello..ini bukan tempat tidur," ucap Diyah seraya membangunkan Rendra. Karena tak bangun bangun, Diyah pun mengambil bantal guling untuk memukul Rendra. Apa boleh buat itu adalah cara terampuh karena diyah tak mungkin menyentuh Rendra.
"Aduh..aduh..apaan sih, ganggu aja," ucap Rendra sembari mengucek matanya karena ia baru bangun.
"Tuan kok tidur di sini? kamarnya di renovasi ya?" tanya Diyah yang asal bicara.
"Emang udah jam berapa?" tanya Rendra.
"Udah subuh tuan,"
"Hah? masa sih?" Rendra masih tak percaya, ia melihat jam di tangannya. Dan benar saja ini sudah subuh. Rendra tak menyadari karena tidur terlalu nyenyak.
"Lagian tuan ngapain tidur semalaman di sini?" tanya Diyah yang masih memegang bantal guling itu.
Rendra merasa malu, ia tak menjawab perkataan Diyah dan buru-buru pergi ke lantai atas.
"Dasar aneh.." ucap Diyah sembari menggelengkan kepalanya menatap Rendra yang berlari ke lantai atas.
Rendra berlari ke kamarnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kok aku bisa ketiduran di sana ya.." ucap Rendra yang masih tak percaya.
Ia mengingat momen sebelum ia tidur ketika ia mendengar suara seseorang membaca Al-Qur'an yang tentunya itu adalah suara Diyah.
Sebuah notifikasi berbunyi dari hp nya. Ia melihat sebuah foto yang dikirim oleh Satria. Terlihat fotonya yang tidur bersandar di dinding bagai seorang pengemis.
"Astaga..kurang ajar kak satria..foto aib kok di simpan sih," gerutu Rendra yang amat kesal.
__ADS_1
Ia benar-benar menyesali dirinya yang tertidur di depan pintu seorang pembantu. Rasanya harga dirinya berkurang karena foto aib itu.