
"Pa..aku mau pulang ! biar aku di rawat di rumah aja," ucap Rendra pada pak Arif yang masih berada di ruang rawat itu.
"Jangan dong Ren, kan kamu belum bisa pulang," jawab pak Arif karena memang Rendra belum di bolehkan pulang.
"Pa..aku nggak suka di rumah sakit lama-lama, aku lebih tenang di rawat di rumah," tegas Rendra lagi.
Pak Arif terlalu khawatir jika menolak permintaan Rendra bisa saja dia akan berontak lagi. Sikap dingin pada papanya mungkin saja bisa bertambah.
"Oke..kalau memang itu mau kamu, papa izinkan pulang, tapi..harus ada suster yang merawat kamu di rumah," jawab pak Arif.
"Jangan suster pa, bruder (Perawat laki-laki) aja, masa perempuan yang merawat aku, kalau aku mau ke kamar mandi gimana.."
"Ya sudah kalau itu mau kamu, itu sih gampang yang penting kamu harus segera sembuh," ujar Pak Arif.
Akhirnya Rendra dibolehkan pulang hari ini meski sebenarnya ia masih perlu perawatan dokter. Namun meski ia dibolehkan pulang tentu Rendra juga dalam pengawasan dokter yang akan datang sesekali ke rumahnya.
Sementara itu mama Sinta yang juga ada di ruangan itu hanya bisa mendengar dan memperhatikan percakapan Rendra dan papanya. Mama sinta tak berani berkutik karena khawatir itu akan merusak suasana hati Rendra.
Sementara itu Mardiyah telah pulang lebih dulu bersama Bu Maryam.
Seorang perawat laki-laki/ Bruder yang akan merawat Rendra ikut pulang bersama keluarga Rendra.
Sampailah di rumah, Rendra belum bisa berjalan, hingga ia harus di dorong bruder dengan kursi roda.
**
Malam hari, diyah akhirnya bisa istirahat setelah seharian ia bekerja di rumah. Kini ia bisa berbaring di kamar pembantu itu. Rasanya begitu nyaman saat ia merebahkan tubuhnya di kasur.
"Alhamdulillah.. akhirnya bisa istirahat juga," ucap diyah yang amat menikmati waktu istirahatnya.
Sementara itu tuan muda rendra tampak bosan di kamarnya. Bahkan bruder atau perawat laki-laki yang menjaga Rendra pun disuruhnya keluar karena Rendra merasa terganggu.
Rendra selalu menatap ke arah pintu. Entah kenapa ia seolah menunggu nunggu seseorang.
"HM..mana si diyah, kenapa seharian ini dia tidak ke sini," batin Rendra yang sedari tadi menoleh ke arah pintu kamarnya. Ia tak sadar bahwa seharian ini dia amat menanti diyah.
"Dih..kok aku malah berharap pembantu itu datang ke sini, nggak..nggak..aku pasti lagi kurang sehat makanya jadi kayak gini," batin Rendra yang berdebat dengan hati kecilnya.
Rendra mencoba tidur namun lagi-lagi ia tak bisa tidur. Ia menatap ke arah jam dinding. Sudah jam segini Mardiyah belum juga muncul.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ia dengan cepat menoleh ke pintu itu. Di kiranya diyah yang datang, ternyata itu adalah Bi Maryam.
"Gimana nak Rendra ..udah baikan belum?" tanya Bi Maryam sembari berjalan ke arah Rendra.
"Belum bi, aku susah tidur, oh ya.. pembantu bercadar itu mana bi, kenapa seharian ini dia tidak datang ke sini?" tanya Rendra
"Diyah maksudnya?"
"Iya bi.."
"Oh..diyah istirahat di kamarnya, seharian ini dia sangat capek," jelas Bi Maryam.
"Capek ngapain bi?"
"Biasalah..kadang saya lalai menjaga diyah sampai sampai dia di kerjain lagi sama pembantu yang lebih senior," balas bi Maryam.
"Oh gitu Bi, saya boleh minta tolong nggak bi?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong Bi Maryam suruh diyah ke sini untuk membawakan saya cemilan," pinta Rendra, padahal ini hanyalah modusnya untuk bertemu diyah. Entah kenapa ia ingin melihat diyah.
"Jangan bi! diyah aja," balas Rendra dengan cepat.
"HM..ya udah kalau kamu maunya cuma diyah, sebentar ya," bi Maryam pun bergegas ke kamar diyah.
Baru saja diyah menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba bu Maryam datang mengetuk pintunya. "Diyah..udah tidur nak.." sapa Bu Maryam sembari mengetuk pintu kamar diyah.
"Belum bu.." sahut diyah dari dalam
"Ibu boleh masuk?"
"Iya boleh, masuk aja Bu, nggak di kunci kok," jawab diyah
Bu Maryam pun membuka pintu dan memasuki kamar diyah.
"Ada apa Bu?" tanya Diyah yang penasaran, diyah mengira bahwa ini sangat penting karena bu Maryam telah menemuinya langsung.
"Tolong antar cemilan ke kamar tuan Rendra ya, tadi dia kasih pesan ke ibu, katanya kamu ke sana dulu, bawakan dia cemilan," suruh Bu Maryam
__ADS_1
Sial betul rasanya diyah mendengar itu. Ia baru saja akan istirahat namun sudah di suruh melayani tuan muda. Betapa malasnya ia harus menghadapi tuan muda yang gila itu di malam hari
"Iya Bu iya.." jawab diyah meski dengan berat hati ia harus menemui tuan muda.
"Dari banyaknya pembantu di sini, kenapa harus aku yang di suruh sih," batin diyah yang amat kesal dibuatnya.
Namun meski demikian, diyah akan tetap naik ke lantai atas untuk membawakan cemilan tuan muda Rendra.
Diyah pun sampai di depan kamar tuan Rendra. Belum sampai ia mengetuk pintu, tiba-tiba ia di kejutkan dengan seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Mardiyah? kamu Mardiyah kan!" tanya laki-laki itu. Ia adalah Bima, laki-laki yang menjadi bruder atau perawat Rendra.
"Bima..iya ini aku Mardiyah, kamu ngapain di sini?" tanya Diyah setelah ia menyadari bahwa yang menyapa dirinya adalah Bima, teman sekampungnya dulu.
"Aku bruder diyah, dan aku sini jadi perawat pak Rendra," jelas Bima sembari tersenyum ramah.
"Nggak nyangka ya kita bisa ketemu di perantauan seperti ini," lanjut diyah
Belum sempat mengobrol lebih jauh, tak lama tuan muda pun memanggil diyah dari dalam kamar.
"Diyah..saya tau kamu udah di situ, cepat masuk!" panggil Rendra.
"Iya tuan iya .." sahut diyah sembari buru-buru masuk ke kamar tuan muda.
Diyah dengan sengaja membuka pintu lebar lebar tanpa menutupnya saat ia memasuki kamar tuan muda. Ia seorang gadis tentu tak nyaman jika mengunci pintu kamar di saat keadaan hanya berdua.
"Ini cemilan yang tuan muda minta, kalau gitu saya permisi ya," ucap diyah sembari meletakkan cemilan itu di atas meja.
"Kamu mau kemana sih? kenapa seharian ini tidak melihat saya?" tanya Rendra melototi Diyah.
"Hah? kenapa saya harus lihat tuan ya? kerjaan saya kan banyak tuan," balas diyah
"Kerjaan yang mana sih, oke..mulai sekarang kerjaan kamu hanya mengurus saya!" tegas Rendra.
"Apaan sih tuan, nggak boleh gitu lah.."
"Pokoknya kamu harus nurut, ini perintah!"
"Perintah apanya? ini melanggar perjanjian kerja,"
__ADS_1
"Saya nggak perduli.. pokoknya kamu harus selalu mengurus saya," tegas Rendra lagi, malam ini ia benar-benar membuat diyah semakin kesal.