
Diyah menghela nafas dalam, ia tak tau lagi kata-kata apa yang tepat ia lontarkan untuk menyanggah perintah tuan muda.
"Tuan...di luar ada perawat, kenapa nggak di suruh masuk sih? kenapa saya yang di suruh kemari, saya ini perempuan tuan, nggak pantas ada di sini malam malam!" tegas diyah yang kali ini memberanikan diri untuk tegas.
"Emangnya kenapa sih? saya kan nggak nyuruh kamu yang lain lain, saya cuma suruh kamu untuk menemani saya, dan sebenarnya ini saya lakukan karena saya susah tidur, waktu itu saya pernah tertidur di depan kamar mu, siapa tau kamu bisa buat saya tertidur lagi,"
"Baik..kalau memang ini perintah yang tidak terbantah, tapi ada syaratnya tuan,"
"Apa itu.."
"Pintu kamar tuan harus selalu terbuka lebar seperti ini selama saya masih ada di kamar ini, tidak boleh di tutup," tegas diyah, ini ia lakukan untuk menghindari adanya fitnah.
"Oke..oke.."
Sejam berlalu, entah apa yang mau dilakukan diyah di kamar itu. Ia hanya mondar mandir dan sesekali berdiri di depan jendela kaca.
"Kamu nggak capek berdiri di situ? duduk!" perintah Rendra.
Diyah pun mencoba duduk di sofa. Tentu ia tak tau apa yang harus dilakukan untuk membuat tuan muda tertidur.
"Tuan..kenapa tuan tidak mencoba saran saya kemarin sih, saya kan udah bilang, coba tuan muda sholat dan berdzikir, pasti hati tuan muda akan lebih tenang," tutur diyah menatap Rendra yang memainkan hpnya di tempat tidur.
Rendra terdiam, ia seolah tak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Ta..tapi.."
"Nggak ada tapi tapi tuan..ayo sholat!" tegas diyah lagi, memang sedikit aneh jika pembantu yang menyuruh majikan. Namun itulah yang terjadi di sana.
"Emang kamu mau memapah saya ke kamar mandi untuk wudhu?" tanya Rendra
"Bukan saya yang memapah tuan, bentar saya panggil bruder itu ya," ujar diyah, ia pun segera memanggil Bima si perawat laki-laki.
Diyah keluar dari kamar itu, menemui Bima yang duduk di luar. "Bima..kamu bantuin tuan muda wudhu ya,"
"Oh iya..iya.." jawab bima dengan cepat, ia pun bergerak cepat menolong tuan muda.
"Mari saya bantu pak.." ujar Bima saat ia sudah berada di kamar Rendra.
__ADS_1
Dengan sedikit terpaksa, Rendra pun berwudhu, entah mengapa rasanya ia sulit untuk membantah kata-kata diyah yang menyuruh dirinya untuk sholat.
Usai berwudhu, Rendra pun di papah ke atas sajadah, namun ia belum bisa berdiri tanpa di papah.
"Gimana mau sholat sih diyah? kaki ku sakit loh.." ucap Rendra menoleh ke arah Mardiyah di sofa.
"Bisa tuan, tuan muda bisa sholat dengan posisi duduk jika memang tuan belum bisa berdiri lama-lama!" ujar Diyah.
Rendra pun melakukan apa yang diyah sarankan itu. Ia sholat dengan posisi nya yang duduk karena memang kakinya masih sakit.
Diyah amat senang melihat pemandangan di depannya itu, baru kali ini tuan muda sholat setelah setahun terakhir. Ia memperhatikan gerakan demi gerakan tuan muda yang sholat itu.
"Assalamualaikum warahmatullah..
"Assalamualaikum warahmatullah..
Usai sudah tuan muda sholat isya, di lanjutkan dengan ia berdoa.
Setelah itu, sebelum Rendra berdiri, diyah sudah datang memberikan Al Qur'an untuk tuan muda itu.
"Tuan ngaji dulu ya, sedikit aja, biar hatinya tambah tenang," pinta diyah dengan senyuman seraya membujuk Rendra.
Rendra lagi-lagi tak dapat menolak perintah itu. Ia mengambil Al-Qur'an itu dan akan mengaji meski hanya sebentar.
Diyah kembali duduk di sofa memantau tuan muda membaca Alquran.
Perlahan Rendra membuka lembaran al Qur'an itu, di bacanya mulai dari surah Al-fatihah lanjut ke surah Al-Baqarah.
Siapa sangka, diyah terkejut dengan kemampuan mengaji tuan muda. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa tuan muda ternyata suara mengajinya sangat baik. Jauh lebih baik dari ekspektasinya.
Diyah tak sengaja tersenyum bangga melihat tuan muda.
"Maasyaa Allah, ternyata cover tak menjamin isi, meskipun tuan muda terlihat jahat tapi dia punya sisi yang baik," batin diyah tersenyum memperhatikan Rendra.
Setelah usai membaca Alquran, Rendra kembali ke tempat tidurnya di bantu oleh Bima.
"Bim..makasih ya udah bantu tuan muda wudhu," ucap diyah menatap Bima yang berdiri di samping ranjang Rendra.
__ADS_1
"Iya sama-sama, ini kan bagian dari pekerjaan aku juga," balas Bima sembari tersenyum menatap diyah.
"Oh ya, kamu nggak pernah pulang kampung ya, apa nggak rindu sama orangtuamu di kampung?" tanya Diyah pada teman sekampung halamannya itu.
"Pasti rindu sih, tapi mau gimana lagi, kan aku masih kerja,"
"Iya juga sih..semangat ya Bim, perantau seperti kita memang harus selalu kuat dalam situasi apa pun,"
"Iya diyah, oh ya turut berduka ya, maaf aku nggak bisa datang pas ibumu meninggal,"
"Iya nggak pa pa kok bim, makasih ya.."
Diyah dan Bima asyik bercerita, sedangkan Rendra sedari tadi melototi keduanya. Ia sangat merasa terganggu dengan pemandangan di hadapannya itu.
"Ehem.." Rendra memberi kode teguran hingga diyah dan Bima menatap ke arah Rendra.
"Ngapain pada ngobrol di situ? Bima ..kamu keluar aja," suruh Rendra, ia sudah tak tahan lagi melihat Bima dan Mardiyah yang mengobrol akrab.
"Diyah..aku duluan ya," ucap Bima dan langsung pergi dari sana.
"Iya Bim.." jawab diyah, ia masih menatap langkah kaki Bima hingga Bima keluar.
Sementara itu Rendra melototi Diyah di sana. "Kenapa kamu akrab sama Bruder itu? kenal dari mana?" tanya Rendra menoleh ke arah diyah.
"Oh itu..dia satu kampung sama saya tuan," jawab Diyah.
"Kamu tuh bercadar tapi main pacar pacaran ya, ternyata benar kalau perempuan yang seperti kamu ini cuma covernya aja yang sok alim," gerutu Rendra yang tiba-tiba mengatai diyah. Tentu Diyah terkejut dengan kata-kata buruk dari tuan muda ini.
"Astaghfirullah tuan..kok tuan bisa bicara seperti itu sih? saya nggak pacaran tuan, lagi pula tuan tidak boleh mengucap kalimat hinaan seperti itu sama orang lain,"
"Halah..udahlah, saya lihat sendiri kalau kamu tadi senyum-senyum sama bruder itu, meskipun kamu tertutup cadarmu, tapi saya bisa lihat," lanjut Rendra yang masih berdebat
"Tuan muda...jangan karena saya ini hanya pembantu lantas tuan seenaknya merendahkan saya,"
"Apa sih, itu kan fakta.."
"Susah ya bicara sama anda yang terlahir kaya, terserah anda ingin menilai saya apa, saya tidak perduli dengan penilaian anda, permisi!" ucap diyah sembari bergegas pergi meninggalkan kamar Rendra. Ia sudah tidak perduli lagi meskipun harus dipecat karena berdebat dengan tuan muda. Karena harga diri tak senilai dengan pekerjaan yang ia pertahankan ini.
__ADS_1