Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
38. Pura pura tak sengaja bertemu


__ADS_3

Tak lama kemudian Diyah pun keluar dari kamar Rendra itu dengan keadaan pintu yang sedari tadi masih terbuka.


Tepat saat itu, Elia yang akan ke kamar Rendra melihat diyah baru saja keluar. Tentu ia kaget melihat hal ini.


"Hei..kamu..ngapain di sini?" tanya Elia dengan ketus.


"Oh itu nyonya..saya baru ngantar pesanan tuan Rendra," balas Diyah sembari menundukkan kepalanya.


"Udah sana sana..yang ada kakak saya pasti muak lihat pembantu modelannya kayak kamu," ucap Elia seraya mengusir diyah.


Diyah amat tersinggung dengan perkataan Elia itu. Ia berkali kali istighfar dalam hati mengumpul kesabaran menghadapi Elia.


"Baik..saya akan pergi nyonya..permisi," ucap Diyah kemudian ia buru-buru pergi.


Sementara itu Elia masuk ke kamar rendra. Dulu ia memang biasa mengobrol santai dengan kakaknya itu. Namun kini saat Elia masuk ke kamar, ia malah menemui Rendra yang masih rebahan di ranjang.


"Woi ..bangun kak..udah siang kali," ucap Elia seraya membangunkan Rendra. Rendra sebenarnya tak tidur ia hanya berbaring karena malas kemana mana hari ini.


"Apa sih Lia, jangan ganggu aku, ini hari terakhir aku bisa tidur siang, mulai besok aku akan kerja," gerutu Rendra yang merasa terganggu dengan kedatangan Elia.


"Ih..kok kamu gitu sih kak, aku baru pulang loh, masa kamu nggak kangen"


"Kangen sih kangen, tapi nggak usah ke sini juga kali,"


"Nggak seru bangat sih, aku cuma pengen ngobrol ngobrol kak,"


"Nanti aja," jawab Rendra yang masih saja berbaring di ranjang.


*


Sementara itu, Diyah yang baru saja turun ke bawah tiba-tiba di kejutkan dengan suara Satria yang memanggilnya dari arah belakangnya.


"Mardiyah.." panggil Satria.


Diyah menoleh ke belakang. "Iya tuan.." jawab diyah saat ia menyadari ternyata Satria lah yang memanggilnya.


"Bisa tolong bantu saya?"


"Bantu apa ya tuan.." tanya Diyah

__ADS_1


Satria kemudian mendekat, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan pada diyah tapi tak ingin di dengar oleh orang lain.


"Begini..mama ulang tahun hari ini, kamu mau nggak temani saya beli kue sama hadiah untuk mama, kan mama Sinta juga keluarga kamu," pinta Satria pada Diyah.


"HM ..gimana yah, bukannya saya nggak mau tuan, tapi saya takutnya nanti kalau saya pergi sama tuan, apa kata orang di rumah ini? takutnya yang lihat berpikir buruk tuan," tutur Diyah memberi alasan.


"Jangan khawatir dan jangan pikirkan apa pun, udah ayo..nggak akan ada yang berpikir buruk," ujar Satria meyakinkan diyah untuk tetap ikut.


"Ya udah deh..boleh, tapi jangan lama lama ya tuan, soalnya saya harus kerja,"


"Iya.. tenang aja" Satria amat senang karena diyah menerima permintaannya.


Kini keduanya sedang menaiki mobil. Tampak Satria membukakan pintu mobil untuk diyah. "Nggak usah repot-repot tuan.." ucap Diyah yang merasa tidak enak.


"Nggak pa pa," balas Satria dengan senyuman.


Sementara itu, tepat saat ini Rendra sedang berdiri di jendela kaca kamarnya. Ia bangun dari ranjang karena Elia tak henti mengganggunya hingga saat ini.


Tak sengaja mata Rendra menatap ke bawah. Dari kaca itu ia melihat Diyah dan Satria yang sedang menaiki mobil. Mata Rendra melotot tak terpejam melihat pemandangan itu. Seketika ia geram pada satria yang berani neraninya mengajak diyah jalan.


Rendra pun tak banyak berpikir, ia langsung berlari cepat ingin menyusul.


"Mau kemana kak?" tanya Elia sembari mengejar Rendra.


Rendra buru-buru mengambil motornya dan dengan cepat mengejar mobil Satria.


Sampailah di mall. Satria dan Diyah baru saja keluar dari mobil. Sementara motor Rendra baru saja sampai. Rendra kini sudah melihat Satria dan Diyah. Namun sangat aneh rasanya jika ia datang tanpa alasan.


Oleh karena itu Rendra berencana untuk membuat suasana seolah mereka nanti tak sengaja bertemu.


"Sekarang kita mau kemana dulu tuan?" tanya dIyah sambil berjalan bersama Satria.


"Rencananya sih aku mau beli hadiah kalung atau gelang buat mama," jawab Satria.


Mereka tak menyadari bahwa ada Rendra yang membuntuti di belakang. Rasanya Rendra sudah seperti Intel yang sedang memantau target.


"Dasar modus! berani beraninya Kak Satria ngajak diyah jalan," batin Rendra yang amat kesal dalam hatinya.


Saat Diyah sedang sibuk memilih kalung untuk Sinta, Satria pun sibuk mencari gelang yang pas untuk mamanya.

__ADS_1


Rendra memanfaatkan kesempatan ini untuk pura pura tak sengaja bertemu dengan Diyah.


"Diyah.." sapa Rendra yang pura pura memilih gelang juga.


"Mas Rendra? ngapain di sini?" tanya Diyah terkejut melihat Rendra di sampingnya.


"Aku lagi nyari sesuatu, kamu sendiri ngapain? sama siapa?" tanya Rendra seolah ia tak tau bahwa diyah datang dengan Satria.


"Sama tuan Satria, itu dia lagi nyari gelang," jawab diyah sembari menunjuk ke arah Satria yang sedang sibuk.


"Kebetulan sekali kita ketemu di sini, temani saya yuk," ajak Rendra yang sengaja ingin mengambil kesempatan untuk menjauhkan Satria dengan Diyah.


"Temani kemana?" tanya Diyah


"Temani saya memilih sepatu yang cocok, karena kan papa udah menegaskan kalau mulai besok saya harus kerja,"


"Oh iya juga sih, ya udah deh, nggak pa pa, mumpung saya lagi baik, ayo saya temani, tapi saya izin dulu sama tuan Satria ya mas, kan saya ke sini sama dia, nggak enak kalau pergi tanpa permisi,"


"Ya udah bilang sana,"


Diyah pun menemui Satria dan meminta izin. "Tuan Satria ..saya izin permisi sebentar ya, mau temani tuan Rendra beli sepatu," ucap Diyah menatap Satria yang sedang sibuk memilih gelang.


"Apa? Rendra?" tanya Satria yang amat terkejut


"Iya tuan..itu dia tua Rendra," Diyah menunjuk ke arah Rendra yang berdiri di sana.


Satria pun menatap ke arah Rendra, ia begitu terkejut melihat Rendra mengedipkan sebelah matanya seolah meledek Satria.


"Boleh kan tuan?" tanya Diyah lagi, sementara Satria masih terdiam menatap sinis ke arah Rendra.


"Ya udah, tapi nanti ke sini lagi ya!" perintah Satria. Satria tak berani membantah karena khawatir diyah akan ilfil padanya.


Sementara itu dengan bahagianya Rendra mengajak Diyah jalan jalan berkeliling di mall mencari barang untuk Rendra.


"Sebenarnya kalian ke sini mau ngapain diyah?" tanya Rendra seraya mengobrol dengan Diyah.


"Mau beli hadiah sama Tante Sinta, kata Tuan satria Tante Sinta ulang tahun hari ini,"


"Oh ..gitu," Rendra tak banyak komen lagi.

__ADS_1


"em...kalau boleh tau...kamu sudah menolak lamaran kak Satria? kapan kamu akan menolaknya?" tanya Rendra yang amat percaya diri


"Kok mas Ren nanya nya gitu sih, pertanyaannya sangat menganggu kenyamanan saya," balas Diyah seolah tak ingin menjawab pertanyaan itu.


__ADS_2