
Malam hari,
Rendra dan papanya baru pulang bekerja.
"Pokoknya kamu nggak boleh malas-malasan lagi, kalo gini kan papa senang jadinya, jadi kalau sewaktu waktu papa nggak sanggup kerja lagi, kalian yang akan menggantikan posisi papa," ucap pak Arif sembari menepuk pundak putranya.
"Asal papa nggak galak aja,"
"Papa nggak akan galak kalau kamu bersikap normal," balas Pak Arif.
Tampak keduanya berjalan bersama memasuki rumah. Hingga saling berpisah langkahnya ketika keduanya menuju kamar masing masing.
Yang dilakukan Rendra pertama kali adalah mencari diyah.
"Diyah...diyah...Mardiyah...kamu dimana sih.." panggil Rendra saat ia berkeliling dari dapur hingga ke ruangan lain. Namun ia tak menemukan Diyah.
Rendra melihat bu Maryam yang sedang duduk di dapur.
"Bi, lihat diyah nggak?" tanya Rendra
"Nggak tuh, bibi juga heran, dari sore tadi dia udah nggak keliatan,"
Rendra lanjut mencari Diyah. Berkeliling rumah dan mengecek semua sisi rumah. Namun tetap saja ia tak menemukan.
"Aku cek CCTV aja deh, harusnya dari tadi aku melakukan cara ini," akhirnya ide Rendra muncul untuk menemukan Diyah lebih mudah.
Ia bergegas melihat CC TV.
Rendra mengamati pergerakan Diyah dari rekaman CCTV. Tampak Elia menarik paksa tangan diyah pada sore tadi. Titik Akhirnya adalah di gudang.
Rendra tak berpikir panjang dan langsung berlari ke gudang mencari diyah.
Sementara itu,
Diyah terjebak di gudang tanpa cahaya itu. Ruangan gelap, pengap dan sempit membuatnya semakin takut.
"Nyonya Elia tolong bukain pintunya..." teriak diyah yang tampak putus asa. Sudah tiga jam ia berada di ruangan itu.
Tiba-tiba suara jatuhnya benda dari lemari bekas mengagetkan diyah. Suasana tampak menyeramkan meski itu hanyalah ulah tikus.
__ADS_1
Namun diyah hanya bisa pasrah, karena gudang sangat jarang di lalui oleh siapa pun.
Tiba-tiba pintu terbuka, cahaya muncul menerangi diyah dan seisi ruangan. Diyah mengangkat kepalanya, menatap ke depan dan melihat Rendra yang berdiri di hadapannya.
"Kamu nggak pa pa diyah?" tanya Rendra, tampak ia ingin membantu Diyah berdiri, namun ia mengurungkan niatnya, karena diyah tentu tak akan mau di sentuh.
Diyah mengelap air matanya. Entah kata kata apa lagi yang harus ia ucapkan atas rasa syukur nya dengan kehadiran Rendra.
"Makasih mas Rendra," ucap Diyah berlinang air mata.
"Maaf saya terlambat," Rendra menatap gadis di hadapannya dengan penuh rasa kasihan. Di tatapnya kaki diyah yang tanpa sendal atau alas apa pun. Tangan diyah merah bahkan berdarah karena terlalu keras memukul pintu.
"Kamu takut ya?" tanya Rendra dengan pelan, namun diyah hanya menunduk dan menangis.
"Mulai sekarang saya akan lebih menjaga kamu," lanjut Rendra.
"Jangan tuan, tidak pantas jika tuan muda menjaga saya, saya hanyalah pembantu," ucap Diyah sedang matanya berkaca-kaca. Ia teringat dengan hinaan Elia tadi. Hingga diyah pun kembali menggunakan panggilan tuan untuk Rendra.
"Tuan? kan saya udah bilang, jangan panggil saya dengan sebutan itu, panggilan itu seolah kita tak ada hubungan apa pun, bukankah kamu adalah teman terbaik saya?" balas Rendra mengingatkan diyah.
"Tuan...tolong jangan bertingkah seolah saya ini spesial," ucap Diyah dan langsung melangkah pergi.
***
Pagi pagi sekali Elia sudah ada di depan pintu kamar diyah. Tepat saat diyah keluar kamarnya, ia dikejutkan dengan Elia yang berdiri di depan pintu.
"Ingat! jangan pernah bermimpi jadi Kakak ipar ku! sadar diri!" tegas Elia ke telinga Diyah. Elia hanya mengucap kata kata itu dan langsung pergi.
Karena memang, tepat pagi ini diyah sudah harus memberi jawaban pada Satria. Apakah ia akan menerima lamaran itu atau tidak.
**
Rendra mengetuk pintu kamar Elia dengan keras. Ia tampak emosi karena perlakuan semena-mena Elia pada Mardiyah.
"Apa sih kak, berisik banget deh," gerutu Lia saat ia membuka pintu kamar itu.
"Kenapa kamu ngerjain Mardiyah?" tanya Rendra dengan tegas
"Nggak, aku nggak ngerjain dia, cuma main main dikit aja, main petak umpet biar akrab," Jawab Elia tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Main main? ini udah keterlaluan Lia, Mardiyah ketakutan di gudang dan kamu masih bilang kalau itu main main?"
"Lebai bangat sih kak, aku nggak ngapa-ngapain dia kok,"
"Aku nggak mau tau, jangan ganggu diyah lagi!" tegas Rendra sebelum ia pergi.
**
Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruangan tengah. Tampak suasana sangat serius saat semuanya sedang menanti jawaban Diyah.
"Maafkan saya tuan Satria, jawaban saya mungkin akan mengecewakan tuan, saya tidak bisa menerima lamaran ini tuan, rasanya tidak pantas jika saya yang hanya pembantu menjadi nyonya di rumah ini," ucap Diyah dengan tutur kata lembut agar Satria tidak tersinggung.
"Tapi diyah... sebenarnya kamu bukanlah pembantu, kamu bisa tinggal di sini tanpa harus jadi pembantu, kamu adalah keponakan mama kami, harusnya kamu bukanlah pembantu, tapi kamu yang tidak mau melepas pekerjaan itu," balas Satria.
"Tuan...ini keputusan saya, lagi pula saya masih ingin bekerja karena usia saya pun baru memasuki 20 tahun, menurut saya ini terlalu muda untuk menjadi seorang ibu," tutur Diyah mencoba meyakinkan semuanya.
Sementara Rendra tampak lega mendengar Jawaban itu. Jika bukan karena banyak orang, mungkin Rendra sudah tertawa lepas dan melompat lompat dengan girangnya.
Elia yang juga di sana ikut tersenyum, dalam hatinya ia amat senang mendengar jawaban diyah.
"Nak..apa keputusan kamu ini sudah bulat? apa kamu tidak ingin mempertimbangkan lagi?" tanya Sinta yang duduk di samping Diyah.
"Iya Tante ....diyah sudah sangat yakin dengan keputusan ini," balas Diyah.
"Mardiyah...setelah saya tau tentang kamu, saya telah meresmikan dalam hati saya kalau Anggota keluarga ini telah bertambah satu, jadi jangan menyusahkan diri dengan menjadi pembantu di sini," ucap papa Arif yang akhirnya angkat bicara soal Diyah.
"Jangan tuan, diizinkan bekerja di sini saja saya sudah senang," tutur Diyah dengan senyuman.
Satria tampak sedih dengan jawaban itu. Seminggu ia menunggu dan berharap diyah akan menerimanya, namun ternyata semuanya sia sia.
**
Akhirnya diyah lega setelah menolak lamaran Satria tadi. Diyah tampak beristirahat di kamarnya karena ia tidak dibolehkan bekerja hari ini mengingat kondisi nya yang masih lemah setelah terkurung di gudang.
Tiba-tiba ada chat yang masuk. Ia mengecek hp nya dan melihat chat siapa yang datang.
"Saya tau kamu pasti lega kan, jangan khawatir dan jangan merasa bersalah, jangan pernah merasa sendiri, saya selalu siap membantu,"
Diyah membaca chat itu yang ternyata dari Rendra.
__ADS_1
"Makasih mas Ren, tapi tolong jangan terlalu baik, saya tidak bisa menerimanya!"
Balas Diyah di chat itu.