
Keesokan harinya,
Benar saja, Rendra tidak lagi mau merubah sikap buruknya. Ia kembali pada kebiasaannya yang dulu. Tak mau berbaur dan tidak memikirkan masa depannya.
Pagi ini Rendra tampak olahraga di ruang rahasia yang ada di balik lemari kamarnya.
Tapi Rendra terhenti sesaat ketika ia menatap foto mamanya di dinding. Ia mendekat ke dinding itu lalu di tatapnya wajah mamanya yang sangat ia rindukan.
"Ma..kenapa Rendra tidak boleh membalas wanita itu, mama terlalu baik karena menganggap wanita jahat itu sahabat mama, padahal hatinya busuk, dia mencelakai mama dan juga mengambil alih semua milik mama," ucap Rendra meneteskan air mata menatap foto itu.
*
Sementara itu, di ruang makan. Tampak keluarga pak Arif tengah makan bersama. "Rendra mana pa? kemarin kan dia udah mulai mau makan bersama," tanya Satria pada papanya.
"Entahlah, anak itu memang sulit di atur," jawab papa yang tampak cuek saja.
"Mas...harusnya mas jangan terlalu keras sama Rendra," ucap Sinta mengelus pundak suaminya.
"Udahlah...jangan di bahas lagi, mending sekarang kita sarapan," ujar pak Arif seraya mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya pa..apa mama sudah cerita sama papa kalau aku ada niat mau menikah?" tanya Satria memberanikan diri untuk memberitahu papa bahwa ia berniat melamar diyah.
"Nggak tuh, mama belum cerita, ...yang bener kamu mau nikah? wah..bagus itu, usiamu makin lanjut, nanti ketuaan nggak ada yang mau sama kamu," balas pak Arif, tampaknya ia sangat setuju jika anaknya akan menikah. Namun ia belum tau bahwa perempuan yang di sukai satria adalah Diyah.
"Iya pa..tapi aku belum tau sih, lamaran aku diterima atau nggak,"
"Memangnya siapa perempuan itu? apa papa mengenalnya?" tanya papa bersemangat.
Satria meyakinkan dirinya untuk jujur karena bagaimanapun juga ia tak bisa menutup-nutupi hal sepenting ini.
"Mardiyah pa," jawab Satria pelan
"Hah? pembantu bercadar itu? nggak salah Sat?" pak Arif tampak terkejut
"Nggak pa, perempuan yang aku suka memang dia,"
__ADS_1
"Apa kamu sudah tau kalau diyah itu ponakannya mama kamu?" tanya pak Arif pada Satria
"Sudah pa, itulah kenapa aku jadi ingin memperistrinya, awalnya aku hanya ingin mengawasi dia karena perintah mama, tapi lama kelamaan aku tertarik untuk mengenalnya lebih dekat," tutur Satria.
Pak Arif berpikir sejenak, bagaimana mungkin putranya mencintai pembantu seperti diyah, meskipun diyah adalah ponakan istrinya. Namun pak Arif berpikir dari sisi anaknya, Kapan lagi satria mau menikah sedang umurnya semakin lanjut. Belum lagi satria adalah orang yang susah tertarik pada wanita.
"Gimana pa? apa papa merestuinya?" tanya Satria yang sudah deg-degan dengan jawaban papanya.
"Apa kamu serius nak? apa yang membuat kamu tertarik dengan gadis itu?" tanya papa
"Diam diam aku sudah memperhatikan dia pa, dia gadis yang baik, akhlaknya mulia, dan Solehah, kalau soal kaya...aku memang tidak ingin menikah dengan wanita kaya pa, lagi pula harta tidak bisa menjadikan keturunan ku nanti menjadi anak anak yang baik, tapi istri yang berakhlak baik pasti bisa mendidik keturunan ku menjadi anak anak yang baik pa," jelas Satria dengan jujur.
"HM...kamu sudah dewasa nak, kamu lebih tau apa yang terbaik untuk kamu, masalah jodoh papa tidak ingin terlalu otoriter," balas pak Arif. Tampaknya ia hanya pasrah jika satria menikah dengan diyah. Kalau di pikir-pikir itu jauh lebih baik daripada satria tak mau menikah sama sekali.
*
Siang itu,
Sari si pembantu senior mengetuk pintu kamar Rendra. Ia membawakan makan siang karena diyah sudah tak ingin di tugaskan ke sana lagi.
"Masuk!" sahut Rendra, ia mengira itu adalah diyah.
Sari pun masuk membawakan makan siang itu. "Ini makan siangnya tuan," ucap Sari dengan dandanannya yang amat heboh karena sengaja ingin tebar pesona.
Rendra sangat tidak suka melihat kedatangan sari ke ruangan itu. Wajahnya tampak emosi namun tak berkata sepatah pun.
"Silahkan di makan tuan!" ucap Sari dengan nada lembut.
"Mana diyah?" tanya Rendra tanpa menatap Sari.
Wajah Sari seketika masam mendengar pertanyaan itu. "Oh diyah, si diyah beralih tugas tuan, biasalah pembantu malas memang begitu, dia suka pilih pilih tugas tuan, dia malas naik tangga ke kamar tuan ini, emang kurang ajar pembantu kayak si diyah itu," Sari berbicara komat-kamit menjelekkan diyah.
Rendra yang mendengar itu pun merasa kesal karena sari menjelekkan diyah. Lagi pula Rendra tau betul bahwa Sari tak suka dengan diyah.
Tak di sangka, Rendra mengambil gelas dan memecahkannya ke hadapan Sari. "Keluar!" suruh Rendra dengan nada keras.
__ADS_1
"Ta-tapi tuan.."
"Keluar!" bentak Rendra hingga matanya melotot. Sari ketakutan dan langsung pergi keluar.
Ternyata diyah ada di dekat pintu kamar Rendra. Ia mendengar amukan Rendra dari luar. Diyah benar benar takut melihat Rendra yang tampak emosi. Ia pun langsung melangkah pergi. Namun tiba-tiba...
"Stop..jangan melangkah!" perintah Rendra. Siapa sangka ternyata Rendra bisa mengetahui bahwa diyah ada di luar.
Diyah hanya bisa berdiri membisu. Rendra berjalan ke arah diyah.
"Kenapa kamu menghindar? kamu marah sama saya? atau kamu takut? atau..kamu mengira saya ini gila," tanya Rendra dengan ketus.
Nada suaranya yang tinggi membuat diyah semakin jantungan. "Tu-tuan...nggak kok, saya nggak takut, saya juga udah nggak marah, mana mungkin saya bisa marah sama tuan," balas diyah, tampaknya diyah tak berani menatap Rendra.
"Kalau gitu, kamu temani saya dulu, saya butuh teman," suruh Rendra
"Hah? kenapa harus saya?" diyah tampak tidak mau
Rendra lalu menatap dengan tatapan tajam seolah memaksa diyah.
"I-iya..iya.." diyah pun mau karena tak ingin memperpanjang amukan Rendra.
Diyah dan Rendra tampak saling diam di dekat jendela kaca itu. "Tolong kompres luka wajahku," suruh Rendra.
"Iya tuan," jawab Diyah. Ia pun mengambil alat untuk mengompres dingin wajah Rendra yang masih lebam.
Sembari mengobati tuan muda, diyah mencoba mengobrol dengan Rendra.
"Tuan...kenapa akhir akhir ini jadi begini sih, bukannya kemarin sudah membaik," tanya Diyah dengan nada suaranya pelan.
"Kamu udah janji tidak akan panggil saya tuan, saya seperti orang asing kalau kamu panggil dengan panggilan itu," tegur Rendra.
"Saya kan emang orang asing," balas Diyah yang sadar diri kalau ia hanya seorang pembantu.
"Kamu wanita yang paling dekat dengan saya saat ini," ucap Rendra mengejutkan Diyah.
__ADS_1
Diyah hanya terdiam seolah tak ingin mengomentari itu, meski ia merasa tidak nyaman dengan perkataan Rendra.