
Malam hari,
Rendra pulang dengan wajah yang amat bersemangat untuk menemui Diyah. Ia membawakan sebuah gelang wanita yang ia beli di perjalanan tadi. Hatinya amat deg degan karena khawatir Diyah tak ingin menerima. Tapi ia tetap optimis untuk memberikan gelang itu pada Diyah.
Rendra berjalan ke arah dapur mencari Diyah, namun ia tak menemukannya. Rendra mencari seisi rumah namun ia tak juga menemukan Diyah.
Bi Maryam tak sengaja melihat Rendra yang tampak mencari cari seseorang.
"Nak Rendra pasti cari Mardiyah ya?" sapa Bi Maryam.
"Iya bi, diyah mana?"
"Diyah..sudah berhenti kerja nak, dia sudah pergi," jawab Bu Maryam dengan pelan, sungguh ia khawatir Rendra akan syok mendengar itu.
Rendra terkejut hingga gelang yang ia pegang jatuh.
Rendra berlari ke lantai atas menuju kamar orangtuanya. Dengan keras ia menggedor pintu kamar itu.
Tak lama mama Sinta pun membuka pintu."Ada apa nak...kamu kok panik gitu?" sapa mama Sinta menatap Rendra.
"Diyah mana ma?"
"Oh...diyah...dia lagi pulang kampung nak, tenang aja dia cuma beberapa hari di sana," ujar mama Sinta, tampak ia santai karena mengira Diyah hanya pergi sebentar. Diyah memang izin untuk pergi sebentar saja, namun nyatanya ia tak akan kembali lagi.
Rendra pun agak lega mendengar itu. Ia kemudian bergegas ke kamar Diyah.
Rendra masuk ke kamar diyah itu, di tatapnya seisi ruangan. Sudah tak ada barang barang Diyah lagi. Bahkan di lemari tak ada sehelai pakaian pun.
Rendra merasa ada yang tidak beres. Kemudian ia mengingat kata kata diyah. Kemarin.
"Sampai kapan mas Rendra bisa menunggu? Bagaimana jika mas Rendra sudah menunggu lama tapi saya malah menolaknya?"
Kata kata Diyah kemarin itu seolah menunjukkan tanda tanda bahwa ia akan pergi jauh.
__ADS_1
Betapa paniknya Rendra saat ia tau ternyata Diyah tak akan kembali. Mana mungkin ia kembali jika seluruh barangnya telah ia bawa.
Rendra bahkan tak sempat untuk menangis, ia buru-buru berlari mengambil motor dan mengejar Diyah meski rasanya mustahil ia akan menemukan Diyah.
Ia pergi mencari meski tak tau arahnya kemana.
Pukul 23.00 malam. Rendra pulang ke rumah tanpa hasil. Wajahnya tampak lesu dan putus asa. Air mata sesekali menetes memikirkan Diyah. Langkah kakinya bahkan tampak berat saat berjalan menuju kamarnya.
"Kamu dari mana aja? ini udah tengah malam!" tegur Pak Arif yang melihat anaknya pulang tengah malam.
"Cari Diyah pa, Diyah pergi, Kenapa nggak ada yang ngasih tau aku? kenapa kalian biarin diyah pergi?"
"Papa nggak tau apa apa, kata mama kamu diyah cuma pulang kampung beberapa hari,"
"Nggak! Semua barang diyah udah dia bawa pa, pasti Elia yang maksa diyah pergi,"
"Udahlah Rendra..kamu tenang ya nak, nanti papa Carikan pembantu baru yang bercadar,"
"Maksud papa apa? Asal papa tau! perempuan yang merubah aku sampai sejauh ini adalah Diyah, aku cinta sama Diyah pa! nggak akan ada perempuan yang bisa menggantikan Diyah," tegas Rendra lalu ia pergi menuju kamarnya.
Rendra duduk bersandar di pintu kamarnya. Ia mengingat pintu itu yang selalu terbuka jika diyah ada di sini. Namun kini pintu ini harus selalu tertutup karena sudah tak ada yang ingin di tunggu.
Tak henti ia menangisi kelalaiannya dalam menjaga diyah untuk tetap di sisinya.
"Andai aku tidak menyatakan cinta, pasti diyah masih di sini. Kalau mengungkapkan cinta membuat kita jauh, harusnya aku diam dan memendam meski itu akan sangat berat, dari pada harus merasakan sakit karena kamu menghilang dari pandangan ku,"
Suara ketukan pintu. Rendra menghapus air matanya dan membuka pintu itu. Ternyata ada bu Maryam membawakan sebuah surat untuk Rendra.
"Ambil ini nak, Diyah menitipkan Surat ini sebelum dia pergi,"
"Makasih bi,"
Rendra mengambil itu dan kembali mengunci diri di kamarnya. Di bukanya surat dari Diyah itu. Perlahan Rendra pun membacanya dalam hati.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mas Rendra, maaf tidak sempat pamit sebelum saya pergi. Saya harus pergi karena memang inilah yang seharusnya saya lakukan sebagai bentuk dari kesadaran diri bahwa saya hanya pembantu. Dan maaf saya dengan tegas menolak lamaran itu. Namun Jangan merasa bahwa cinta mas Rendra bertepuk sebelah tangan karena saya pun telah berdosa karena sempat mencintai mas Rendra. Tapi yang perlu mas Rendra ingat adalah -Cinta tak harus memiliki, saya harap mas Rendra menikah dengan wanita yang tepat,"
...***...
Pagi hari, Rendra dengan emosi menggedor pintu kamar Elia. "Elia..." panggil Rendra dengan keras. Namun tak ada jawaban.
Rendra pun mendobrak pintu karena tak sabar menunggunya keluar. Anehnya kamarnya malah kosong.
Seorang pembantu datang dan mengatakan bahwa Elia telah pergi ke luar negeri kemarin.
"Kok Bisa..apa aku orang bodoh di rumah ini? aku yang paling nggak tau apa apa," gerutu Rendra yang amat kesal. Ia khawatir jika kepergian Elia ini ada hubungannya dengan kepergian Diyah.
"Apa jangan jangan Elia membawa Diyah pergi,"
Rendra menemui papanya bermaksud menanyakan keberadaan Elia. Namun tampaknya pak Arif tak terlalu mengkhawatirkan Elia karena Elia sudah terbiasa di luar negeri.
"Elia kan emang biasa tiba tiba pergi ke luar negeri, kamu nggak perlu heran Rendra," ucap pak Arif menatap putranya.
"Tapi pa...dia pergi di saat diyah juga pergi,"
"Sudahlah nak...papa yakin kamu hanya kasihan pada Diyah, cinta dan kasihan memang tidak jauh berbeda, tapi kamu harus pandai pandai membedakannya, lagi pula dia sudah pergi, kita tidak bisa apa apa, itu keputusan dia,"
"Papa nggak akan ngerti!"
Mama Sinta tak sengaja mendengar percakapan Rendra dan pak Arif itu. Ia datang dan mencoba menenangkan Rendra. "Kamu jangan khawatir nak, diyah pasti akan kembali secepatnya, kamu kangen sama dia ya? kan baru sehari dia pergi," ucap Sinta.
"Aku bukan orang bodoh! semua barang barang diyah udah di bawa, tidak ada sehelai pakaian pun di kamarnya, dia pergi dan berhenti kerja, bukan hanya pulang kampung saja," tegas Rendra.
Mama Sinta pun syok mendengar itu. Tentu ia khawatir jika Diyah pergi jauh tanpa pengawasannya.
...**...
Malam hari,
__ADS_1
Di suatu tempat, diyah menyandarkan kepalanya di jendela sembari menatap ke atas, melihat bulan yang bulat terang. Diyah mencoba tersenyum di sela sela air matanya. Pasti Rendra pun melihat bulan yang sama. Ia berusaha membendung air mata itu, namun tetap saja sesekali menetes.