Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
20. Pembantu juga bisa marah


__ADS_3

Keesokan harinya,


Diyah tak lagi mau berurusan dengan tuan muda Rendra. Ia mencari kesibukan lain agar tidak ditugaskan ke sana. Pagi ini diyah tampak membersihkan kolam.


Seketika ia teringat akan kejadian kemarin saat ia tenggelam di kolam dan diselamatkan tuan Rendra.


"Astaghfirullah..kok aku malah teringat itu sih," batin diyah yang tidak ingin mengingat tentang tuan Rendra.


*


Satria pagi ini tampak mengobrol dengan papanya sembari bersantai minum teh di teras.


"Emangnya kamu belum ada calon? masa sampai sekarang belum nikah juga, kamu udah punya penghasilan sendiri, sudah sangat siap untuk berumah tangga, tapi kok belum nikah juga," tanya pak Arif pada putranya.


Satria malah tersenyum, ia tak mempermasalahkan jika ia belum menikah hingga saat ini.


"Pa..menikah itu perkara serius, tidak bisa main-main, aku hanya akan menikah dengan perempuan yang benar-benar baik menurut ku, tunggu saja dulu pa, kelak Allah pasti mempertemukan aku dengan perempuan yang aku inginkan," balas Satria menjawab pertanyaan papanya.


"HM...tapi jangan lama-lama lagi sat, kalau kamu ingin melamar seorang perempuan, cepat katakan pada papa, biar papa cari tau dulu seperti apa perempuannya," lanjut pak Arif.


"Iya pa...untuk saat ini belum ada, tapi nggak tau gimana nanti," ucap Satria, ia tampak tak masalah jika belum menemukan jodohnya.


**


Sementara itu, pagi ini tuan Rendra baru saja bangun. Ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata tertidur. Betapa senangnya taun muda itu karena ia bisa tidur semalam, padahal biasanya ia akan susah untuk tidur malam.


"Ternyata benar kata diyah, mungkin selama ini aku suka gelisah dan susah tidur itu semua karena aku tak sholat," batin Rendra yang teringat dengan Mardiyah.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar tuan muda.


"Siapa?" tanya Rendra


"Ini bi Maryam," sahut Bi Maryam dari luar kamar. Ia membawakan sarapan pagi untuk tuan muda.


"Masuk aja bi," ucap Rendra seraya mengizinkan bi Maryam untuk memasuki kamarnya.


Bi Maryam pun masuk membawakan sarapan itu dan meletakkannya di meja tuan muda.


"Ini sarapan dulu nak rendra, bibi udah buatkan spesial," Kata bi Maryam dengan semangat mempersilahkan Rendra sarapan.

__ADS_1


"Iya makasih bi. Diyah mana bi? kenapa bukan dia yang ngantar?" tanya Rendra, ia ingin diyah yang selalu melayaninya. Rendra tak tau saja bahwa diyah telah sakit hati dengan kata-katanya semalam.


"Bibi juga nggak tau nak, tadi bibi udah manggil diyah untuk mengantar ini, tapi katanya dia tidak mau lagi melayani nak Rendra," jelas Bi Maryam apa adanya.


"Pasti karena semalam, apa dia marah ya, ya udahlah..terserah dia aja, pembantu kok main marah marahan, eh tapi ...jangan sampai dia berduaan sama bruder nggak tau diri itu," batin Rendra.


"Bi..tolong suruh diyah lagi ya, tolong Bi Maryam suruh dia secepatnya ke sini," pinta Rendra


"Tapi tuan..


"Tolong bangat Bi..ini penting bangat," lanjut Rendra memotong pembicaraan Bi Maryam.


"Ya udah deh, kalau gitu bibi permisi dulu ya," ucap Bi Maryam dan segera keluar dari kamar itu.


Bu Maryam menemui Diyah yang sedang membersihkan kolam renang.


"Diyah.." sapa Bu Maryam sembari berdiri di belakang diyah.


Diyah pun menoleh. "Iya..ada apa Bu?"


"Kamu sekarang ke kamar tuan Rendra ya, katanya ada hal yang sangat penting," suruh bu Maryam pada Diyah


"Diyah..ayolah nak..kamu jangan masukin ke hati apa pun yang dikatakan tuan Rendra, dia memang seperti itu,"


"Bu..diyah sadar kalau diyah bukankah manusia yang luar biasa kesabarannya, dan kali ini diyah nggak bisa nahan lagi, silahkan ibu bilang sama tuan muda itu kalau memang dia ingin memecat diyah, silahkan bu," ucap diyah yang masih dengan pendiriannya.


Bu Maryam pun pergi menemui tuan muda Rendra lagi untuk menyampaikan ucapan diyah tadi.


"Gimana bi? diyah nya mana?" tanya Rendra saat ia melihat bi Maryam yang baru saja memasuki kamarnya.


"Diyah nggak mau nak rendra, maaf sekali, tapi kata diyah lebih baik dia di pecat dari pada harus ke sini, memangnya ada apa ya nak Rendra? kenapa diyah bisa marah seperti itu?" tanya Bi Maryam yang amat penasaran.


"Masa sih Bi, pokoknya diyah tidak boleh pergi bi, gimanapun caranya bibi harus memastikan diyah untuk tetap di sini bi," pinta Rendra.


Bu Maryam hanya menganggukkan kepalanya seraya mengiyakan meski ia tak yakin bahwa ia bisa membujuk diyah.


*


Diyah sedang membersihkan ruang tamu, tak sengaja Satria lewat dari hadapan diyah. Satria yang melihat diyah langsung datang menyapa.

__ADS_1


"Pagi diyah..kamu lagi sibuk ya?" tanya Satria.


"Namanya juga kerja jadi art tuan, ya beginilah, pasti harus selalu aktif membersihkan rumah," jawab diyah


"Saya mau temani mama ke mall, tapi kamu di suruh ikut, kamu mau kan?" tanya Satria


"Maksudnya..nyonya Sinta yang nyuruh saya ikut ya?"


"Iya diyah..gimana? kamu mau kan?" tanya Satria lagi. Ini adalah ide dari Bu Sinta yang memang ingin mencoba menyenangkan diyah dengan belanja ke mall.


"Baik tuan, saya ikut aja," jawab Diyah.


Diyah dan Satria beserta Bu Sinta pun berangkat ke mall. Tampak Satria menyetir mobil sedangkan diyah duduk di belakang dan Bu Sinta duduk di depan.


"Makasih ya udah mau temani saya belanja," ucap Nyonya Sinta menatap diyah dari spion.


"Iya sama-sama nyonya," balas diyah dengan senyuman.


"Oh ya..kamu nanti juga ikut belanja ya, ambil aja apa yang ingin kamu ambil, anggap aja itu sebagai bonus awal mu," tutur Bu Sinta


"Nggak usah nyonya..nggak enak sama pembantu lain, masa saya yang masih baru sudah dapat bonus aja, sedangkan mereka yang sudah senior tidak dapat bonus,"


"Jangan khawatir, nanti mereka saya kasih bonus juga kok," balas nyonya Sinta.


Sampailah di mall.


Nyonya Sinta melihat-lihat perhiasan yang amat indah. Sedang Diyah dan Satria hanya mengikut di belakang.


Nyonya Sinta mengambil sebuah cincin permata yang amat cantik itu. "Diyah.. menurut kamu ini cantik nggak?" tanya nyonya Sinta menatap diyah.


"Cantik nyonya," jawab Diyah.


"Ya udah sini tangan mu," suruh nyonya Sinta. Ia pun memasangkan cincin itu di jari manis diyah.


"Nyonya mau minta saya cobain cincin ini ya?"


"Bukan? itu buat kamu," jawab nyonya Sinta mengejutkan Diyah. Ia tak percaya kenapa tiba-tiba nyonya memberikannya sebuah cincin.


"Jangan.. nyonya, ini terlalu mahal, maaf saya tidak bisa menerima ini," tolak diyah dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2