
Diyah jadi banyak melamun memikirkan lamaran itu. Ia juga masih tak menyangka bahwa dirinya ada hubungan keluarga dengan nyonya Sinta. Rasanya semuanya begitu mengagetkan hatinya.
"Kamu kenapa sih nak..kok asyik ngelamun aja?" tanya Bu Maryam
"Bu...tadi aku habis ngobrol sama nyonya Sinta, dia bilang dia itu adalah Tante aku Bu,"
"Maaf nak.. sebenarnya ibu sudah tau itu, tapi ibu tidak bisa jujur sama kamu karena itu perintah nyonya,"
"Jadi ibu tau dari awal?" tanya Diyah yang amat terkejut
Bu Maryam hanya menganggukkan kepala seraya mengiyakan.
"HM...ibu..harusnya ibu bilang aja sama aku, aku jadi nggak enak Bu, takutnya nanti orang orang mikir kalau aku ke sini buat numpang kaya doang,"
"Nggak...mana mungkin orang beranggapan seperti itu, kalau pun ada mungkin orangnya sedang berpenyakit hati," Balas Bu Maryam.
*
Sementara itu Rendra baru saja pulang dari kantor bersama papanya. Rendra di sambut ramah oleh Mama Sinta.
"Maasyaa Allah..kamu sekarang makin rajin ya nak.." sapa Sinta saat Rendra sudah masuk ke rumah.
"Kenapa? Anda merasa tersaingi? atau anda takut harta papa jatuh ke saya? oh saya tau, pasti sekarang kamu pura pura baik supaya saya mau menerima kamu?" ucap Rendra dengan ketus. Sikap dinginnya itu masih saja berlaku pada ibu tirinya.
"Nak..kamu salah menilai mama, cobalah untuk lebih mengenal mama, supaya kamu tau kalau mama nggak ada niat seperti itu," tutur Sinta
"Omong kosong," cetus Rendra dan langsung pergi tanpa memperdulikan Sinta di sana.
"Rendra! jaga bicara mu!" tegas pak Arif ketika ia mendengar kata kata kasar dari Rendra.
"Kenapa? papa mau belain dia lagi?"
"Papa pikir kamu sudah berubah Ren, tapi ternyata kamu malah lebih kasar sama mama kamu!" bentak Pak Arif melototi putranya.
Seketika suasana menjadi tegang. Rendra berbalik badan dan mendekat ke arah papanya. Ia kini berhadapan dengan papanya.
"Sekuat apa pun aku berubah, tetap aja nggak ada artinya buat papa kan.." ucap Rendra pelan tapi tajam.
__ADS_1
"Papa hargai perubahan kamu akhir akhir ini, tapi tolong kamu hormati mama kamu!"
"Udahlah pa, sekarang aku udah paham kalau papa hanya perduli sama perempuan jahat ini dari pada sama anak sendiri, jadi aku nggak perlu capek capek lagi untuk berubah!" ucap Rendra dengan tajam. Ia lalu beranjak ke kamarnya di lantai atas.
Sesampainya di kamar, Rendra mengambil kunci motor dan jaketnya. Dan bergegas turun kembali dari lantai atas. Melihat penampilannya, mungkin ia akan keluar malam ini.
"Mau kemana kamu?" tanya pak Arif dengan ketus menatap Rendra.
"Emangnya papa perduli?"
"Rendra..kamu baru aja kecelakaan," lanjut pak Arif dengan nada keras.
"Bukannya itu mau kalian ya," Rendra pun lanjut melangkah dan pergi dari rumah.
Diyah yang sedang di teras rumah melihat rendra keluar dengan jas hitam dan sedang mengambil motornya.
"Tuan Ren..eh mas Rendra maksudnya..mas Rendra mau kemana?" sapa Diyah menemui Rendra.
"Pergi," jawab Rendra dengan ketus
"Emang kenapa? mau ikut?"
"Nggak mas..ini kan udah malam, mas mau balap motor lagi ya?" tanya Diyah
Namun Rendra tak memperdulikan diyah, mungkin itu karena suasana hatinya yang sedang kacau.
"Dingin bangat kayak es," ucap Diyah menatap tuan muda yang segera pergi.
Diyah pun khawatir dengan keadaan Rendra yang keluar rumah saat ia emosi. Karena Mardiyah pun telah mendengar pertengkaran tadi.
"Kemarin udah kecelakaan, terus kakinya bengkak, ini apa lagi, nanti bisa mukanya yang bengkak," batin Diyah
Namun meski demikian, diyah tetap saja tak tenang dengan perginya tuan muda itu.
Ia meminjam motor pak Satpam dan kemudian mengejar Rendra dengan motor beat milik pak Satpam.
Entah kemana arahnya ia harus mencari tuan muda, diyah tak hafal dengan jalan di kota ini. Motor Rendra pun sudah tidak kelihatan karena ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ternyata di jalan, Rendra di hadang oleh musuhnya yang berjumlah banyak dalam satu geng itu. Sedangkan Rendra hanya sendiri tanpa di kawal teman temannya.
"HH..mau main keroyokan?" ucap Rendra tersenyum sinis menatap lawannya di depan yang sudah berbaris menantangnya.
"Kasihan...cuma sendiri ya ...mana teman teman kamu?" ucap ketua geng dari lawan Rendra itu sembari menertawai Rendra.
"Maju kalo berani!" Rendra yang sudah emosi dari rumah semakin terpancing lagi emosinya. Ia pun maju menghadapi segerombolan geng motor yang merupakan musuhnya.
Bukan satu persatu tapi Rendra benar benar di keroyok oleh beberapa musuh, meskipun Rendra awalnya bisa melawan. Namun perlahan ia mulai jatuh karena keadaanya pun belum pulih seutuhnya setelah kecelakaan kemarin.
Sementara itu, diyah yang sedari tadi mencari Rendra tak sengaja melihat di jalanan sepi itu ada segerombolan geng motor yang berkerumun.
Ia penasaran dengan geng motor itu, di tatapnya dari kejauhan. Setelah di perhatikan lebih dekat, ternyata ada Rendra di tengah tengah segerombolan laki-laki seram itu. Diyah melihat jelas ketika Rendra di pukul hingga babak belur.
Diyah cepat cepat ke sana berjalan kaki. Sementara motornya ia tinggal di sana. Diyah sebenarnya takut, namun ia mengalahkan rasa takutnya dan berjalan ke tengah tengah segerombolan laki-laki tersebut.
"Berhenti..jangan pukul lagi! atau kalian akan saya lapor polisi," tegas Diyah dengan suara lantang. Sementara Rendra telah tergeletak dan tidak sanggup untuk berdiri.
"Hahaha..ini siapa lagi? kamu berani bangat datang ke sini," ucap salah satu dari geng motor itu.
"Kayaknya cantik, tapi kok mukanya di tutup neng," lanjut yang lain sembari mendekat ke arah diyah.
"Biasanya yang di tutup kayak gini memang wajahnya cantik," ucap Ketua gengnya sambil mencolek pipi diyah meski yang kena hanya cadarnya.
Rendra yang melihat itu tampak emosi, namun ia tak sanggup untuk melawan. "Jangan sentuh dia!" tegas Rendra
"Cewe kamu ya..haha...boleh juga nih," kata ketua geng sambil tertawa.
Diyah sangat ketakutan, namun ia tak bisa berbuat apa pun. Untuk melawan pun rasanya tak mungkin. Ia hanya bisa berdoa dalam hatinya agar Allah menolongnya dengan cara apa pun.
"Kalian manusia bukan sih? kenapa setega ini sama sesama manusia?" tegas Diyah memberanikan diri menatap Anggota geng musuh Rendra itu.
"Wow...keren juga ini cewek.." ucap salah satu dari mereka. Bahkan seseorang berambut gondrong nyaris menarik Diyah. Namun tiba-tiba segerombolan teman Rendra datang. Jumlahnya lebih banyak dari jumlah musuh Rendra itu. Hingga geng yang mengeroyok rendra pun langsung kabur.
Barulah diyah bisa bernafas lega. Ia tak sadar air matanya menetes karena menahan rasa takutnya tadi. "Alhamdulillah... terimakasih ya Allah,"
Diyah buru-buru menolong Rendra. "Tuan nggak pa pa?" tanya Diyah menatap Rendra yang tergeletak lemah.
__ADS_1