
Malam itu Rendra tak jadi keluar. Ia memikirkan perkataan diyah semalaman. Perkataan diyah selalu terlintas di pikirannya.
"Apa aku coba saja untuk memaafkan dia? sepertinya diyah ada benarnya juga, mama saja memaafkan Sinta, kenapa aku tidak?" batin Rendra yang merenung malam itu.
***
Pagi hari,
Suara ketukan pintu terdengar ke telinga Rendra hingga membangunkan tidurnya.
"Ren...bangun..." panggil Satria sambil mengetuk pintu.
Dengan kesal Rendra terpaksa bangun dan membuka pintu kamarnya. "Apa sih? ganggu aja!" gerutu Rendra
"Buruan ke bawah, ada kabar baik, Elia akan tiba dalam satu jam lagi," ucap Satria yang memberi informasi penting itu. Sudah lama Elia anak terakhir pak Arif itu tidak pulang.
Rendra pun terkejut dibuatnya. Rasanya mengejutkan jika seorang Elia mau pulang ke rumah setelah papanya menikah.
"Serius?" tanya Rendra yang masih tak percaya.
"Iya..buruan!" suruh Satria dan langsung pergi dari kamar Rendra.
**
Sementara itu, Diyah masih bingung kenapa pagi ini sangat banyak yang harus di siapkan. Mulai dari makanan yang banyak dan persiapan untuk perlengkapan kamar seseorang yang akan datang.
"Bu..ini mau ada acara apa sih?" tanya Diyah membisikan pada Bu Maryam.
"Ibu dengar, nyonya Elia akan datang,"
"Elia siapa Bu?"
"Anak bungsu pak Arif, dia kuliah di luar negeri, udah lama nggak pulang, makanya kita diperintahkan untuk membuat hidangan sebanyak ini," jelas Bu Maryam saat keduanya tengah sibuk membuat makanan.
"O..gitu Bu, jadi penasaran sama putri tunggal pak Arif,"
..
Rendra bukan langsung siap siap. Ternyata ia baru turun ke bawah setelah satu jam yang lalu Satria datang ke kamarnya.
Kini barulah ia turun ke bawah menuju ruang makan keluarganya. Rendra datang dengan wajah santai ketika keluarga nya sudah pada duduk di sana.
__ADS_1
Dengan santainya Rendra duduk di sebelah Satria.
"Anak ini nggak ada berubahnya, baru bangun?" tegur papa menatap Rendra dengan kesal.
"Iya,"
"Kamu tuh ya...bisa nggak sih kamu dewasa sedikit, kemarin kamu udah mulai mau ikut ke kantor, tapi hanya karena masalah kecil kamu nggak mau ke kantor lagi," gerutu papa Arif.
Rendra masih saja tampak santai sembari memain mainkan gelas di meja.
"Pokoknya mulai besok kamu harus ikut ke kantor lagi! di usia kamu yang seperti ini harusnya kamu sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri!" tegas Pak Arif dengan serius.
"Nggak masalah...aku akan ke kantor, biar papa nggak ada alasan lagi untuk menganggap aku sebagai beban keluarga," balas Rendra tersenyum sinis.
Mama Sinta tampak diam karena tak berani ikut campur.
Tak lama kemudian, bi Maryam datang membawa kabar bahwa Elia telah sampai di depan.
"Nyonya Elia akan segera kemari tuan," ucap Bu Maryam seraya menginformasikan hal itu.
Muncullah seorang gadis cantik berambut kecoklatan dan pakaian mewah dengan warna putih tulang.
"Pagi.." ucap gadis bernama Elia itu. Ia tampak menyapa seluruh keluarga sembari membuka kacamata hitamnya.
Semua anggota keluarga menyapa Elia. Kedatangan Elia seolah meramaikan keluarga ini hingga terasa lebih utuh lagi.
"Makin cantik aja kamu, sini duduk di samping kakak!" suruh Satria seraya mempersilahkan Elia duduk.
"Gimana kabar kalian, baik kan? atau ada sesuatu yang terjadi?" tanya Elia mencoba menjalin keakraban dengan keluarganya. Tampak ia tersenyum bahagia menghadap anggota keluarganya.
"Baik..kamu gimana ? baik kan?" tanya Satria balik.
"Iya, aku baik seperti yang kalian lihat, kak Rendra gimana? masih suka balapan?" tanya Elia menatap ke arah Rendra.
Rendra tersenyum menyapa adiknya itu. "Jangan urusin aku, urus diri sendiri dulu, gimana kuliahnya, jangan jangan kamu nggak kuliah tapi malah main main di sana," balas Rendra.
"Enak aja...aku kuliah lah.. emangnya kamu kak, kerjaannya cuma balapan mulu balas Elia. Tampak ketiga bersaudara itu mengobrol seraya melepas rindu.
Lain halnya dengan Mama Sinta yang tidak di anggap di tengah tengah keramaian keluarga ini.
"Selamat datang ya nak, mama kangen sama kamu," sapa Mama Sinta tersenyum ramah pada Elia. Namun Elia bahkan tak menoleh ke arah Sinta. Ia tak menganggap adanya Sinta di sana.
__ADS_1
Mama Sinta pun mencoba mengerti, mungkin Elia belum bisa menerimanya. Rasanya memang sakit ketika tidak dianggap di tengah tengah keluarga sendiri. Namun Sinta harus tetap sabar menghadapi itu.
**
Diyah membereskan kamar yang akan di tempati Elia.
Namun tiba-tiba Elia muncul dan memasuki kamarnya saat diyah masih beberes di sana. Diyah belum mengenal Elia. Begitupun Elia yang tak mengenal Diyah sama sekali.
"Hei...Who are You?" Elia menatap diyah seolah menatap sesuatu yang sangat aneh.
"Saya pembantu di sini, di tugaskan untuk membersihkan kamar ini," balas Diyah sembari menundukkan kepalanya. Ia bisa menebak bahwa yang dihadapannya adalah nyonya muda yang baru datang.
"Oalah...pembantu rupanya, makanya kostumnya jangan aneh aneh biar orang nggak kaget!" cetus Elia yang seolah malas menatap Diyah.
"Ya udah kalau gitu saya permisi nyonya biar nyonya bisa istirahat," ucap Diyah sembari melangkah pergi.
Namun Tiba-tiba Elia menghentikan langkah diyah. "Et..tunggu! tolong bantu saya," suruh Elia yang sudah rebahan di ranjang.
"Iya..apa yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Diyah sembari mendekat.
"Buka sepatu saya!" suruh Elia dengan ketus. Diyah tak banyak protes dan langsung membuka sepatu Elia.
Setelah itu barulah Diyah mencoba pergi. "Siapa yang suruh kamu pergi? pijit!" suruh Elia lagi. Ia memang selalu menganggap dirinya ratu di hadapan pembantu.
"Iya nyonya," jawab Diyah, tak berpikir panjang ia langsung memijat kaki Elia.
**
Siang hari, setelah Berjam jam diyah melayani Elia, kini ia harus mengantar pesanan Rendra. Ia berjalan menaiki anak tangga. Mengumpulkan segala tenaganya untuk bekerja.
Sampai sudah di kamar Rendra. Ia meletakkan jus pesanan Rendra itu di meja. "Silahkan di minum mas!" ucap Diyah sembari menatap Rendra yang sedang melamun di kaca jendelanya.
"Oh iya...makasih," ucap Rendra
Diyah melangkah pergi, Namun Rendra memanggilnya kembali.
"Tunggu..."
"Iya ada apa lagi mas?" tanya Diyah sembari menghentikan langkahnya dan mendekat ke arah belakang Rendra.
"Apa menurut kamu saya harus mencoba menerima mama tiri saya? bisakah kamu beri saya satu alasan yang kuat agar saya lebih yakin untuk mencoba memaafkan dia?" tanya Rendra yang masih melamun.
__ADS_1
"Ya.. menurut saya mas Ren Memang harus melakukan itu, menghilangkan dendam itu akan menghilangkan beban di hati dan pikiran, itu tandanya tuan menyayangi diri tuan sendiri, dendam itu adalah penyakit hati yang merusak kebahagiaan mas Rendra," tutur Diyah memaparkan pendapatnya.