Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
31. Terjebak hujan


__ADS_3

"Tuan bisa aja, nggak mungkin lah.." balas Diyah sembari tersenyum


"Tuh kan ..masih panggil tuan,"


"Iya..mas Ren," ucap Diyah yang akhirnya mengalah untuk menuruti perintah.


"Gitu dong, oh ya, kamu oles obat ke luka saya ya, saya nggak mau wajah saya lebam seperti ini, nanti gantengnya saya berkurang," ujar Rendra, akhirnya ia bisa tersenyum menatap diyah saat mengucap kalimat itu.


Diyah hanya cengar-cengir, mungkin ia merasa ucapan tuan muda terlalu narsis.


"Nggak ..nggak berkurang kok," balas diyah untuk membuat tuan muda senang, meski diyah hanya asal bicara. Sungguh ia merasa geram dengan ucapan Rendra yang sok ganteng itu.


"Masa sih? bagus lah kalau gitu, soalnya saya nggak mau muka saya jelek di hadapan kamu, saya takut kamu ilfil sama saya," lanjut Rendra . Ucapannya seolah membuat diyah ingin mengomelinya, namun diyah sadar, saat ini tidak tepat untuk merusak mood Rendra. Jadi diyah memilih untuk diam saja.


"Jangan takut sama saya! saya tidak akan melukai perempuan yang ingin saya jaga," ucap Rendra sembari tersenyum. Padahal baru saja ia marah marah pada Sari, tapi kini ia telah tersenyum menatap diyah.


"Mas Ren..maaf, saya baru ingat kalau saya ada tugas dari Bu Maryam, saya permisi ya," ucap Diyah dan buru-buru pergi sambil membawa wadah berisi handuk dan air es itu.


"HM..diyah pasti takut sama aku, aku nggak boleh kasar lagi di hadapan dia, apalagi bersikap dingin seperti kemarin," batin Rendra menatap langkah diyah yang semakin jauh.


**


"Diyah.." panggil Sari si pembantu senior.


"Iya mba.." sahut Diyah dan buru-buru menemui Sari. Mungkin akan ada tugas yang di suruh Sari.


"Ayo ikut saya belanja, nanti saya nggak sanggup buat ngangkat belanjaan yang banyak itu,"


"Iya mba.." jawab diyah yang langsung menurut dengan perintah Sari.


Sari dan Diyah pun berangkat ke pasar mengendarai taksi.


Sesampainya di pasar, Diyah dan sari berbelanja beberapa jam hingga semua bahan sudah di beli.


"Masih ada yang kurang nih diyah, kamu tolong belikan kacang panjang ke sana ya," suruh Sari pada Diyah.

__ADS_1


Diyah pun pergi membelikan belanjaan yang kurang itu. Siapa sangka ternyata Sari sengaja menyuruh diyah agar ia bisa pulang diam diam dan meninggalkan Diyah di pasar sendirian.


Sari pulang memesan taksi sedangkan diyah masih ada di pasar. Sari tau betul bahwa diyah sedang tidak memegang uang. Pasti diyah tidak akan bisa pulang kecuali berjalan kaki.


Tak lama kemudian, diyah pun kembali ingin menemui Sari, namun diyah tidak mendapati Sari di sana.


"Mba Sari mana ya..kok nggak ada di sini," diyah bertanya tanya sembari mencari Sari.


**


Hari hampir sore, Rendra tak menemukan Diyah dimana mana. Ia telah berkeliling rumah dan tidak menemui Diyah.


Tepat saat itu ia bertemu Sari yang sedang membereskan belanjaan di dapur. Tampak wajahnya sangat bahagia.


"Mana diyah?" tanya Rendra melototi Sari


"Kok tuan tanya saya sih, saya mana tau tuan!" balas Sari seolah ia tak tau apa apa.


"Tadi saya lihat kamu bawa diyah ke pasar, mana diyah?" tanya Rendra mempertegas suaranya.


Sari shock mendengar itu, ia tak menyangka bahwa tuan muda tau jika ia membawa diyah ke pasar.


"Kamu ninggalin dia di pasar?" tanya Rendra melototi Sari


Sari hanya terdiam menunduk tak berani menjawab itu.


Rendra tak banyak bicara, ia langsung keluar mengendarai mobil karena hujan sepertinya akan turun. Tak mungkin Rendra menaiki motor di saat sudah mendung seperti ini.


Sementara itu, Diyah tak ada pilihan lain selain berjalan kaki. Ia tidak memegang uang sepeser pun untuk di jadikan ongkos.


"HM..kok Sari tega bangat ya," ucap Diyah saat ia berjalan di tepi jalan.


Terdengar suara Guntur yang di ikuti dengan hembusan angin. Awan hitam mulai menyelimuti. Tetes demi tetes hujan jatuh membasahi bumi.


Diyah mempercepat langkahnya karena khawatir hujan akan semakin deras. Namun tak bisa di pungkiri jika bajunya telah basah. Secepat apa pun ia berjalan, ia tetap terkejar hujan. Hujan deras telah membuatnya basah kuyup.

__ADS_1


Seketika air hujan tak menetes di atasnya, ia menatap ke belakang, ternyata ada Rendra yang memayungi dirinya. Diyah begitu terkejut melihat tuan muda tiba-tiba ada di belakangnya.


"Mas Ren ngapain di sini?" tanya Diyah yang masih tak percaya melihat Rendra ada di sini.


"Kenapa sih kamu mau bangat di bodoh bodohin sama Sari? kamu tau kan dia orangnya gimana..tapi kenapa kamu masih mau di kerjain kayak gini?" gerutu Rendra yang amat khawatir pada Diyah.


"Mana saya tau kalau akhirnya akan jadi seperti ini, lagian siapa suruh mas Ren jemput saya ke sini,"


"Emang nggak ada yang nyuruh, tapi saya merasa bertanggung jawab untuk menjaga kamu, udah..ayo buruan.." ucap Rendra mengeraskan suaranya di tengah hujan.


"Lah..Mas Ren nggak ada tanggung jawab untuk menjaga saya kok, tanggung jawab dari mananya sih,"


"Udah..ayo ..jangan banyak komen," tegas Rendra sembari memberikan payung itu pada Diyah sedang Rendra sendiri tak memakai payung hingga basah kuyup.


"Mas Rendra aja yang make payungnya, lagi pula saya udah terlanjur basah kok," kata Diyah sembari memberikan payung itu.


"Kamu aja diyah, nanti kamu sakit,"


"Justru kalau mas Ren sakit, pasti akan terjadi masalah besar,"


"Maksud kamu!" tanya Rendra yang amat penasaran


"Ya kalau mas Ren sakit kan nanti semua pembantu di rumah pada bingung gimana caranya ngasih obat buat mas Ren, kan mas Ren selalu aja bentak bentak semua pembantu di rumah," lanjut Diyah


"Kalau saya sakit, pembantu yang lain nggak perlu repot-repot, karena saya cuma butuh kamu," ucap Rendra menatap Diyah sembari tersenyum.


"Nggak jelas!" cetus Diyah sambil menolak payung yang di berikan Rendra. Diyah lebih memilih berjalan di tengah derasnya hujan.


"Mau kemana? mobil ada di sana, ayo pulang," ajak Rendra sembari menarik tangan Diyah.


Diyah dengan spontan menghempas tangan Rendra. "Apaan sih, bukan mahram," ucap Diyah dengan ketus sembari melototi Rendra.


"Maaf..maaf..saya reflek tadi, ya udah..kita pulang ya, mobilnya ada di sana, silahkan jalan ke arah mobil saja nona," ucap Rendra mempersilakan diyah untuk berjalan ke mobil.


"Tumben bawa mobil, kenapa? motor rusak mas?" diyah tersenyum sinis

__ADS_1


"Sembarangan, saya naik mobil supaya kamu tidak kehujanan," balas Rendra


Diyah pun terdiam sejenak, ia tak menyangka jika Rendra memang datang khusus untuk menjemputnya.


__ADS_2