Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
54. Diam diam Salah tingkah


__ADS_3

Rendra masih berdiri di halaman rumah kontrakan itu. Ia menatap ke arah pintu rumah Diyah. Tak lama kemudian, Diyah muncul. Ia berjalan ke arah Rendra membawakan selimut tebal.


"Ini buat mas Rendra, di desa ini suasananya dingin meski tanpa AC, jadi pake selimut ini aja," Diyah memberikan sebuah selimut pada Rendra.


Rendra menahan senyumnya, ia semakin sadar kalau diyah sebenarnya sangat perduli padanya.


"Makasih diyah, ternyata kamu masih perduli sama aku, ya walaupun kamu udah punya laki-laki lain yang kamu cintai,"


"Apaan sih, jangan ngarang deh mas Ren,"


"Oh berarti nggak benar ya, berarti yang kamu cintai masih saya ya?"


"Ih, siapa juga yang cinta...ah udahlah..aku pergi dulu, assalamualaikum," ucap Diyah membalikkan badannya karena tidak ingin memperlihatkan wajah malunya meski ia bercadar.


"Selamat ya," ucap Rendra lagi hingga diyah menghentikan langkahnya karena penasaran.


"Selamat buat apa?"


"Selamat malam, semoga mimpi indah,"


Diyah menghela nafas sambil geleng kepala melihat tingkah Rendra.


"Kamu nggak ucapin hal yang sama ke aku?" tanya Rendra seolah berharap diyah akan mengucap selamat malam seperti yang Rendra ucapkan.


"HM.. selamat malam, mimpi indah ya mas Ren..." ucap Diyah sedikit terpaksa.


"Untuk apa mimpi indah kalau yang indah sudah ada di depan mata,"


"Astaghfirullah...mas..mas..terserah kamulah, aku pergi dulu," kali ini diyah benar benar pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Namun di balik cadarnya ternyata ia tersenyum sendiri melihat ucapan Rendra yang menurutnya itu lucu.


Diyah kembali ke rumahnya. Baru saja memasuki rumah. Ia sudah di sambut hangat oleh Ira untuk interogasi lebih lanjut. Ternyata Ira sedari tadi mengintip dari kaca.


"Cepat jelasin siapa laki-laki tampan itu? Jangan bilang itu pacar kamu!"


"Astaghfirullah...Yang bener aja Ra, aku mana mau pacaran, kamu kan tau prinsip aku nggak akan pacar pacaran,"

__ADS_1


"Terus dia siapa?" tanya Ira yang sudah amat penasaran.


"Dia tuh Mas Rendra, anak tiri Tante Sinta, dan dia juga majikan aku di kota,"


"Nggak...pasti lebih dari itu, aku bukan orang bodoh diyah, cara dia menatap kamu itu bukan tatapan seorang majikan pada pembantunya, tadi pas kamu masuk pun dia masih perhatiin kamu, aku lihat sendiri dari jendela,"


"Kamu ngintip ya..."


"Ya..dikit doang, saran aku sih kamu jauh jauh dari laki laki itu," usul Ira.


"Kenapa?"


"Orang kaya biasanya akan mempermainkan wanita seperti kita, aku nggak mau kamu sakit hati,"


"Iya Ra, aku tau itu kok,"


...**...


Pagi hari yang cerah.


Diyah datang mengetuk pintu rumah kontrakan Rendra. Tak lama kemudian Rendra pun datang membukakan pintu.


"Ini ada makanan mas, tadi aku masak, pasti mas Rendra belum makan kan?" sapa Diyah yang berdiri agak jauh dari hadapan Rendra.


"Iya aku lapar bangat nih, kamu tau aja kalau aku lapar, makasih ya,"


"Iya sama-sama, oh ya mas Rendra berangkat nya jam berapa?" tanya Diyah, ia benar-benar mengira kalau Rendra akan pulang pagi ini padahal Rendra berniat untuk tidak pulang sampai membuahkan hasil.


"Hehe...saya nggak pulang diyah, saya kayaknya betah di sini deh,"


"Loh kenapa? Mas Ren harus pulang dong, nanti pak Arif marah loh, udah buruan pulang, nggak mungkin mas betah di tempat kayak gini,"


"Diyah...bukannya apa apa, tapi aku memang lagi butuh refreshing ke tempat seperti ini, apalagi suasana di sini sejuk, lagian kenapa kamu yang keberatan ya, pak Kades aja izinin aku tinggal di sini,"


"Ini pasti cuma akal akalan mas Rendra aja kan..." Diyah tampak kesal karena merasa di bohongi oleh Rendra.

__ADS_1


"Kalau kamu keberatan ya udah sana komplain sama pak Kades," ucap Rendra yang membuat Diyah tambah kesal.


Diyah geram hingga menggigit giginya sendiri. "Mas Rendra .."


"Makasih makanannya, calon istriku!" ucap Rendra sembari mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum Diyah benar-benar marah.


Diyah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Rendra yang berhasil membuatnya kesal.


...**...


Pagi ini Ira ikut bekerja di kebon kopi karena Ira yang malas di rumah sendirian. Diyah, Ira dan pekerja lain yang memetik kopi tampak bercanda dan mengobrol agar pekerjaan tidak terasa lelahnya.


Sementara itu, Rendra sedang berjalan menuju kebon kopi. Tapi ia terkejut di tengah jalan, anak gadis di desa tampak menatap Rendra dengan tatapan kagum. Mereka berbisik bisik membicarakan Rendra.


"Eh..dia siapa? Ganteng bangat,"


"Jangan jangan artis yang mau syuting,"


"Masa sih, kayaknya bukan artis deh, tapi beneran ganteng,"


Para anak gadis berlomba lomba berfoto dengan Rendra. Mereka menyerbu Rendra bak Artis yang kesasar.


"Foto dulu bang,"


"Foto dulu mas,"


"Masnya dari mana?"


Rendra bingung harus menjawab yang mana dulu. Ia diam ternganga melihat tingkah aneh penduduk di desa ini seolah tidak pernah melihat laki-laki tampan.


Untungnya pahlawan ketampanan tiba. Budi datang dan berdiri di tengah kerumunan para gadis.


"Tenang tenang semuanya, pasti kalian kebagian foto sama aku," ucap Budi seolah membanggakan diri sendiri.


Rendra pun mengambil kesempatan ini untuk lari dari mereka.

__ADS_1


"Hu...siapa juga yang mau foto sama kamu budi," para gadis itu tampak kesal karena kehadiran Budi merusak suasana.


__ADS_2