
Pagi itu Rendra sudah rapi ingin keluar rumah bersama teman temannya. Namun tepat saat ia akan keluar tiba-tiba papa Arif memanggilnya.
"Mau kemana kamu?" tanya pak Arif menghentikan langkahnya.
"Emang papa perduli aku mau kemana?"
"Rendra..kapan sih kamu bisa bersikap dewasa sesuai usia kamu, papa cuma mau yang terbaik buat kamu, stop keluyuran, lebih baik kamu ikut papa ke kantor,"
Rendra malah tersenyum sinis mendengar perkataan papanya itu. "Aku nggak mau pa, aku nggak akan berubah sebelum papa menceraikan perempuan itu,"
"Rendra..jaga bicara mu!" tegas Papa yang hampir emosi melihat putranya. Untungnya mama Sinta buru-buru menenangkan suaminya itu.
"Mas..udah, jaga emosi mu mas," ucap mama Sinta menenangkan suaminya. Melihat itu Rendra tersenyum sinis. Ia pun pergi tanpa permisi.
Mardiyah tak sengaja melihat adegan itu, tentu ia bingung kenapa Rendra begitu benci pada ibu tirinya padahal Bu Sinta adalah seorang ibu yang baik.
**
Ternyata Rendra kali ini tidak kumpul dengan geng nya. Namun ia malah ke makam ibu kandungnya. Sudah lama ia tak ke sana.
Ia tersungkur di tanah menatap makam sang ibu yang sudah di tumbuhi rerumputan. Di cabut nya rumput-rumput itu meski air matanya menetes ke tanah.
"Ma.. bagaimana mungkin aku bisa menerima dia sebagai pengganti mama, dialah yang membunuh mama," batin Rendra di hadapan makam ibunya itu.
Memang fakta pahit ini tidak ada yang tau selain Rendra. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan itu menewaskan mamanya. Namun malah di kaitkan dengan penyakit jantung yang di derita Bu Rika (mama Rendra).
Tidak ada yang tau bahwa kematian ibu kandung Rendra di sebabkan oleh Mama Sinta yang tak sengaja menabrak ibu kandung Rendra.
Rendra tak memberitahu kepada siapa pun karena itu adalah permintaan terakhir sebelum mamanya meninggal dunia. Bu Rika memang seorang perempuan luar biasa. Ia malah menyuruh Sinta untuk menggantikan posisinya sebagai istri pak Arif sebelum kepergiannya. Hingga kini Mama sinta menjadi ibu tiri Rendra.
*
__ADS_1
Mumpung tuan muda tidak ada di rumah, Mardiyah di suruh untuk membereskan kamar tuan muda serapi mungkin. Ia sudah berjam-jam di kamar itu hanya untuk memastikan semuanya bebas dari debu.
Setelah semuanya bersih, barulah ia keluar dari kamar. Dan lagi-lagi ia berpapasan dengan Tuan Satria.
"Permisi tuan.." ucap Diyah saat ia lewat sembari menundukkan kepalanya.
"Tunggu..diyah..ada yang mau saya tanyakan," panggil Satria menghentikan langkah Diyah.
"Iya ada apa tuan?"
"Semalam..apa kamu nggak sadar kalau Rendra tidur di depan kamar kamu, saya bingung kok bisa ya," tanya Satria yang masih penasaran dengan gadis bercadar di hadapannya.
"Saya juga nggak tau tuan, tiba-tiba saat saya bangun di waktu subuh, eh tuan Rendra udah ada di depan pintu," jawab Diyah apa adanya.
"HM..ya sudahlah, kamu boleh pergi," ucap Satria.
Mardiyah pun pergi melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu Sari si pembantu senior sudah sangat geram dengan kehadiran Diyah di rumah ini. Kabar tidurnya tuan muda di depan pintu kamar Diyah telah sampai ke telinganya. Hingga ia merasa tersaingi oleh diyah.
"Iya ada apa mba," sapa Diyah yang menemui Sari di sana.
"Kamu tolong belanja ya, aku lagi sibuk, ini uangnya dan ini catatan yang harus kamu beli," suruh Sari sembari memberikan uang dan catatan belanjaan pada Diyah. Namun uang yang di berikan sangat tidak sesuai dengan banyaknya bahan yang harus di beli.
"Tapi mba..ini uangnya jelas jelas kurang untuk belanjaan sebanyak ini," balas Diyah
"Ah..udah sana sana..biasanya juga segitu kok, kecuali kalau kamu mau korupsi," lanjut Sari mengerjai Diyah.
Diyah pun tak banyak membantah lagi, ia pergi ke pasar meski hanya membawa selembar uang merah. Belum lagi diyah hanya akan berjalan kaki meski pasar cukup jauh dari rumah itu.
Kebetulan saat ini Tuan Satria akan keluar rumah, ia melihat Pembantu bercadar berjalan sendirian. Satria pun menghentikan Mobilnya, ia membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Mau belanja ya? ayo naik, dari pada jalan kaki mendingan kamu saya antar aja, sekalian saya juga mau beli sesuatu," ajak Satria menatap Diyah di jalan.
"Jangan, nggak usah tuan, nggak enak kalau saya ikut mobil tuan," balas Diyah.
Satria tersenyum menatap Diyah, "Jangan merasa spesial, Bi Maryam juga sering saya antar kok, bukan hanya kamu aja, ayo naik," suruh Satria lagi.
Diyah tak enak untuk menolak, ia kemudian menaiki mobil itu. Diyah masih malu malu semobil dengan Satria yang ia kenal sebagai lelaki baik itu. Sejak pertama melihat satria diyah sudah bisa menilai bahwa satria adalah laki-laki yang baik.
"Kok kamu yang belanja, biasanya kan Sari," tanya Satria sembari ia menyetir.
"Tadi mba Sari lagi sibuk kayaknya tuan, jadi dia nyuruh saya, oh ya, maaf kalau saya lancang, apa memang uang belanjaan hanya seratus ribu untuk belanjaan sebanyak ini?" tanya Diyah yang memberanikan diri untuk bertanya.
Satria pun heran dengan ucapan Diyah itu, karena setahunya uang belanjaan selalu melebihi belanjaan.
"Setahu aku sih nggak ya, emangnya itu siapa yang ngasih?" tanya Satria
"Mba Sari, katanya uang belanjaan memang selalu segini, dan harus cukup untuk membeli belanjaan sebanyak ini," tutur Diyah sembari menunjukkan catatan belanjaan yang amat banyak. Mungkin sebanyak catatan dosa Sari.
"Kamu pasti dikerjain, si Sari itu emang gitu orangnya, kemarin pembantu yang berhenti itu juga karena nggak tahan di kerjain Sari terus, mama juga udah sering mau mecat dia, tapi dia selalu aja pintar membujuk mama biar nggak jadi di pecat," jelas Satria.
"O..Gitu, makasih ya tuan, udah mau cerita, saya jadi nggak pusing mikirin belanjaan ini, nanti saya beli aja sesuai uang yang ada," ucap Diyah yang kini lebih lega.
"Nggak usah khawatir, belanja aja sesuai catatan yang di kasih, nanti biar saya yang bayar," ucap Satria dengan ramahnya.
Bruk..
Tiba-tiba mobil tak sengaja menabrak kucing. Satria dan Diyah pun buru-buru turun dari mobil. Mardiyah mengecek kondisi kucing itu, ternyata kucing sudah mati berlumuran darah.
Diyah tak tega melihatnya hingga air matanya menetes. "Tuan...gimana ini..kucingnya mati," ucap Diyah berderai air mata.
"Aduh gimana ya, saya nggak sengaja tadi," Satria pun bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Diyah tanpa jijik langsung berniat menguburkan kucing itu. "Kalau tuan mau duluan silahkan aja, nggak pa pa tuan, saya mau menguburkan kucing ini dulu," ucap Diyah menatap Satria.
"Maasyaa Allah, hati gadis ini selembut almarhumah mama," batin Satria, ia mengingat almarhumah ibunya yang dulu pernah melakukan hal yang sama pada seekor kucing yang mati.