
"Ternyata kamu pintar juga ya, kamu pasti berpikir bahwa uang tidak seberapa dibandingkan harta yang akan kamu dapat setelah berhasil merebut Kakak saya, iya kan?" ucap Elia tersenyum sinis menatap Diyah.
"Nggak! saya tidak mau uang dan harta, saya di sini kerja! maaf nyonya, saya bukan lancang tapi tolong nyonya berhenti berpikir buruk tentang saya,"
"Saya nggak berpikir buruk, saya yakin kamu tidak sama dengan Tante mu yang gila harta itu, jadi dengan baik baik saya minta kamu untuk pergi secepatnya, atau..."
"Atau apa nyonya?"
"Aku akan mencelakai Tante kamu, pergilah yang jauh, dengan begitu Tante mu akan baik baik saja," Elia dengan santai berbicara tanpa memikirkan orang lain.
"Saya baru saja bahagia karena bisa ketemu Tante Sinta, kenapa saya harus pergi?"
"Kehadiran kamu di rumah ini sangat mengganggu keluarga ku Diyah, gara gara kamu dua kakak ku jadi berubah, mereka lebih perhatian sama kamu dan Ibu tiri iblis itu, jadi kamu harus pergi dari sini, kamu benar benar merugikan ku,"
"Tapi .."
"Pergi atau Tante mu celaka!" tegas Elia pelan tapi tajam.
...****...
Keesokan hari,,
Pagi hari, Diyah tampak melamun saat ia menyirami tanaman di halaman depan. Tepat saat itu Rendra datang menemui Diyah sebelum ia berangkat bekerja.
"Pagi diyah.. mikirin apa nih? mikirin aku ya?" sapa Rendra menghentikan lamunan Diyah.
"Eh Mas Rendra, mau berangkat kerja mas," balas Diyah yang langsung tersadar ternyata Rendra telah ada di hadapannya.
"Iya saya mau kerja, tapi kok kamu banyak ngelamun sih, lagi ada masalah ya?"
"Nggak kok mas,"
"HM..kalau ada masalah kamu bisa cerita sama saya kok, atau...kamu mikirin tentang lamaran saya?" tanya Rendra.
Namun Diyah terdiam karena ia tak tau harus menjawab apa. Ia memang sedang memikirkan itu dan juga memikirkan ucapan Elia kemarin.
"Diyah..jangan terlalu di pikirin, saya akan tunggu jawaban kamu sampai kapan pun, saya nggak maksa kamu jawab secepatnya kok, atau kamu ragu kalau saya masih sama seperti Rendra yang dulu?" lanjut Rendra.
Diyah tetap menunduk tanpa berbicara.
__ADS_1
"Tolong percaya! saya cinta sama kamu! kamu satu satunya wanita yang merubah hidup saya, kamu yang membawa perubahan perubahan baik dalam diri saya,"
"Saya percaya kok mas, apa benar mas Rendra akan menunggu?"
"Iya..saya akan tunggu,"
"Sampai kapan mas Rendra bisa menunggu?"
"Sampai kapan pun kamu memberi jawaban itu,"
"Bagaimana jika mas Rendra sudah menunggu lama tapi saya malah menolaknya?"
"Saya akan berusaha dan berdoa supaya hati kamu tergerak untuk menerima saya, dan kalau itu belum berhasil juga, saya akan minta pada Allah agar kamu dan saya berjodoh di akhirat saja jika memang di dunia ini tidak bisa di satukan,"
Mendengar jawaban itu membuat hati Diyah semakin tersentuh. Wanita mana yang tidak luluh dengan ucapan seperti itu, terlebih Rendra memang selalu bersikap baik pada Diyah.
"Saya tidak bisa berkata apa apa lagi mas, terimakasih sudah mau menunggu, tapi sekarang..mendingan mas Rendra berangkat kerja aja ya, nanti terlambat loh, kan katanya mau jadi calon imam, kalau mau jadi kepala keluarga itu harus mampu cari nafkah mas,"
Rendra pun tersenyum dan semakin bersemangat untuk berangkat bekerja. "Siap Bu Diyah! saya berangkat ya, Assalamualaikum.." Ucap Rendra kemudian bergegas menuju mobilnya.
"Waalaikumussalam.." Diyah melambaikan tangan menatap ke arah mobil Rendra yang sudah mulai jauh.
Setelah Rendra benar benar pergi, barulah ia meneteskan air matanya yang sedari tadi ia pendam.
...**...
Siang hari,
Hal yang tak terduga terjadi, Elia tak biasanya mengajak mama tirinya makan bersama. Tapi kali ini ia benar benar melakukan itu pada mama Sinta.
"Mama masih nggak percaya, baru kali ini kamu ngajak mama makan bersama seperti ini nak," ucap mama sinta saat keduanya telah duduk bersama di ruang makan.
"Santai aja, aku juga bosan kok terus terusan benci kamu, udah santai aja.." balas Elia sembari menuangkan air di gelas ibu tirinya.
Elia tampak duduk di samping mama Sinta. Tiba-tiba Sendok garpu milik Elia jatuh ke lantai hingga ia harus menunduk mengambilnya.
Tak lama Diyah pun datang dan melihat itu. Tentu ia pun ikut kaget melihat pemandangan di hadapannya.
Elia telah mengambil garpu yang jatuh. Ia melihat Diyah di sana dan sengaja ingin mengancam Diyah.
__ADS_1
Elia memegang garpu dengan posisi tangannya di belakang Mama Sinta. Ia tersenyum licik menatap Diyah. Tatapannya seolah menjadi seseorang yang ingin membunuh dengan benda sederhana seperti garpu.
Benar saja Diyah terpancing. Ia berlari kencang dan menarik sendok garpu dari tangan Elia.
"Kamu kenapa sih? saya mau makan!" gertak Elia melototi Diyah.
"Kenapa di tarik nak, Elia kan mau makan!" tegur Tante Sinta yang tidak tau apa apa.
"Iya maaf, tadi aku cuma mau ganti sendok ini kok, kan tadi udah jatuh, pasti udah kotor," balas Diyah.
Melihat wajah panik diyah membuat Elia tersenyum dalam hatinya. Tentu ia bangga karena berhasil memancing rasa khawatir Diyah.
Diyah pergi ke belakang. Namun ia selalu khawatir dengan tantenya yang sewaktu waktu bisa saja celaka karena Elia.
Saat Diyah sedang mencuci piring di sana, tiba-tiba ia dikagetkan lagi dengan datangnya Elia menemuinya.
"Seperti yang kamu lihat, saya bisa berbahaya dengan cara sederhana saya, jadi tunggu saja sampai saatnya tiba, Tante kamu akan kenapa-napa," ujar Elia tersenyum licik menatap Diyah.
"Jangan sentuh Tante saya nyonya, dia satu satunya keluarga saya sekarang,"
"Tapi kamu yang membuat dia dalam bahaya, saya sudah beri kamu pilihan, dan kamu memilih ini,"
"Kalau saya pergi, apa nyonya akan memperlakukan Tante Sinta dengan baik?"
"Ya..tentu,"
"Bagaimana saya bisa mempercayai itu?"
"Saya janji, kamu tenang aja, gini gini saya adalah orang yang tidak pernah ingkar janji,"
Diyah berpikir sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas perlahan.
"Oke..saya akan pergi, tapi nyonya harus tepati janji,"
"Gitu dong, tenang aja, saya akan tepati janji saya, tapi kamu harus pergi sekarang juga,"
"Jangan nyonya, saya harus pamit sama mas Rendra,"
"Jangan pamit sama mereka, kalau kamu pamit..yang ada kamu nggak akan di bolehin pergi, bodoh bangat sih!"
__ADS_1
"Tapi .."
"Udah buruan kemas barang barang kamu!" tegas Elia tanpa mendengar ucapan Diyah.