Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
25. Kantor


__ADS_3

Keesokan hari,


Pagi yang cerah ini Rendra berpakaian rapi layaknya pekerja kantoran. Ia turun dari lantai atas melewati anak tangga.


Mama Sinta tak sengaja melihat itu. Ia langsung menyapa anaknya yang tampak rapi pagi ini.


"Rendra..tumben rapi begini, mau kemana nak?" tanya Mama Sinta


"Bukan urusan anda, kenapa? kamu takut saya ikut papa ke kantor? kamu takut punya saingan untuk mendapatkan harta papa?" ucap Rendra dengan ketus.


"Bukan nak..mama kan cuma nanya,"


"Bukan urusan anda, hidup, hidup saya, jangan sok ikut campur," tegas Rendra.


Mama Sinta menghela nafas dalam-dalam, berusaha tetap sabar menghadapi anak tirinya itu. Mama Sinta pun pergi dengan perasaan yang amat tersinggung dengan ucapan anaknya.


Ternyata diyah sedari tadi melihat itu, ia buru-buru menemui Rendra di sana.


"Astaghfirullah..bisa nggak sih tuan jangan galak galak sama nyonya Sinta," gerutu Diyah menatap Rendra


"Kamu yang kenapa? harusnya kamu ada di pihak saya,"


"Nggak ah, saya nggak mau ada di pihak yang salah tuan,"


"Lah kan kita udah baikan, kenapa gitu lagi sih,"


"Beri saya satu alasan kenapa tuan tidak suka sama nyonya Sinta,"


"Saya nggak bisa kasih tau kamu diyah,"


"Apa pun itu harusnya tuan tidak bersikap kasar sama mama tuan sendiri, lagian meskipun nyonya Sinta itu ibu tiri tuan, dia kan selalu memperlakukan tuan dengan baik,"


"Udahlah..kamu nggak akan faham," ucap Rendra dan berjalan meninggalkan diyah di sana.


"Tuan...tunggu ..emangnya kaki tuan sudah tidak sakit lagi?" tanya Diyah menghentikan langkah Rendra


"Udah sembuh!"


"Berarti Bima udah pergi ya?"


"Udah ku usir," ucap Rendra yang tampak santai.


*


Rendra kini sampai di ruang makan keluarganya. Ia pun duduk, namun hanya ada papa dan mama tirinya di sana. Ia tak melihat Satria.


"Pa..kak satria mana!" tanya Rendra


"Lagi demam,"


"Pasti kecapekan,"

__ADS_1


"Oh ya..tumben kamu rapi seperti ini, mau nongkrong lagi?" tanya pak Arif.


"Masa pakaian seperti ini di bilang mau nongkrong, mulai sekarang Rendra mau ikut ke kantor pa," ucap Rendra dengan serius.


Pak Arif tentu terkejut dengan hal ini. Dari dulu ia telah membujuk Rendra untuk ikut kantor namun Rendra tetap menolak.


"Kamu serius?"


"Iya pa..."


"Alhamdulillah.. akhirnya kamu mau ke kantor juga, tapi..apa sesuatu terjadi Ren? kenapa akhir-akhir ini kamu mulai berubah, tidak seperti biasanya yang selalu mengasingkan diri,"


"Karena seseorang pa, tapi papa nggak perlu tau lah, nanti ada saatnya papa tau orang itu,"


"HM..kamu punya pacar ya?"


"Nggak.."


"Kalau pun ada nggak pa pa kok, kamu kenalkan dulu perempuan itu sama papa, papa harus berterimakasih karena dia telah berusaha mengubah kamu," tutur Papa


Rendra pun tersenyum namun tak membalas perkataan papanya.


Lain halnya dengan Mama sinta yang sedari tadi duduk diam. Ia tak berani lagi berbicara pada Rendra setelah ucapan Rendra tadi.


*


Sementara itu diyah sedang bersih bersih di halaman belakang, tiba-tiba bu Maryam datang menemuinya.


"Diyah... akhirnya ibu ketemu kamu juga, dari tadi ibu cariin kamu,"


"Itu..tuan muda Satria sakit, kamu tolong bantu ibu ya, ibu lagi sakit perut ni, jadi tolong bawakan sarapan bubur untuk tuan Satria, sekalian kasih obatnya,"


"Ta-tapi Bu..aku.."


"Udah..cepat sana, ibu udah nggak tahan ini, perut ibu mulas mulu," ucap Bu Maryam memotong perkataan Diyah.


Diyah pun tak bisa menolak lagi, ia menuruti perintah Bu Maryam untuk mengantarkan obat tuan Satria.


"Permisi.." ucap Diyah saat ia mengetuk pintu kamar Satria.


"Masuk!" suara dari dalam kamar.


Diyah membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. Dengan perlahan ia melangkah mendekati tuan Satria.


"Tuan..ini sarapan dan obatnya," ucap Diyah sembari menundukkan kepalanya.


Satria membuka matanya kemudian menatap pembantu yang datang. Ternyata itu adalah Mardiyah.


"Eh kamu diyah, bi Maryam mana?"


"Lagi sakit perut tuan," jawab Diyah pelan

__ADS_1


Diyah pun membantu Satria memakan buburnya hingga meminum obat yang sudah ia bawa.


"Semoga tuan cepat sembuh ya, kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum," ucap Diyah sembari melangkahkan pergi setelah ia selesai mengerjakan amanah bu maryam.


Satria tersenyum menatap langkah diyah yang semakin jauh.


Tak lama kemudian mama Sinta datang menemui Satria, ia berniat melihat kondisi putranya itu.


"Gimana nak? sudah baikan?" sapa mama Sinta sembari menatap Satria.


"Udah lebih mendingan dari semalam ma, lagian ini cuma demam biasa kok, nanti juga sembuh tanpa harus ke dokter," jawab Satria.


"Tadi diyah ke sini ya?" tanya Mama Sinta


"Iya ma,"


"Sebenarnya ada hal yang ingin mama bicarakan," ujar mama


"Apa ma?"


"Kamu sudah tau kalau diyah itu punya hubungan keluarga sama mama, dia anak dari almarhum Abang mama,"


"Terus.."


"Usia mu semakin berjalan nak, pasti semua orang juga akan bertanya kapan kamu akan menikah, sampai sekarang kamu tidak memperkenalkan wanita mana pun pada kami, bagaimana kalau diyah saja yang menjadi istrimu," tutur mama Sinta


Satria terkejut mendengar ucapan mamanya. Namun memang satria pun suka dengan gadis seperti Diyah.


"Ini terlalu buru-buru ma, lagi pula papa pasti tidak akan mengizinkan aku menikah dengan diyah karena diyah hanyalah seorang pembantu, kalau aku sih setuju setuju aja ma, laki-laki mana yang tidak mau sama diyah," jawab Satria sambil mengingat ingat kembali tentang diyah.


"Masalah papa mu, akan mama usahakan agar dia mau,"


"Iya ma, satria serahin semuanya sama mama," tutur Satria seraya menuruti perkataan mamanya.


"Makasih ya, kamu selalu menghargai pendapat mama," ucap mama si ya seraya tersenyum pada anaknya.


*


Usai sarapan pagi tadi, Pak Arif dan Rendra berangkat ke kantor bersamaan. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol di mobil itu.


"Memangnya kakimu nggak sakit lagi Ren?" tanya Papa


"Udah mendingan pa, paling nyeri dikit,"


"Baguslah, papa masih nggak nyangka kalau kamu tiba-tiba mau ke kantor seperti ini,"


"Rendra sadar pa, nggak mungkin selamanya Rendra bergantung sama papa,"


"Akhirnya doa papa dikabulkan oleh Allah, sekarang kamu telah menunjukkan perubahan yang positif,"


"Tapi papa jangan berharap banyak, aku tetap dengan pendirian ku, aku tidak suka dengan wanita itu," tegas Rendra mengungkit ibu tirinya.

__ADS_1


Pak Arif terdiam sejenak, ia amat sedih dengan sikap Rendra yang masih membenci mama Sinta.


"Semoga suatu saat kamu mau menerima mama Sinta, papa berharap suatu saat keluarga kita akan bersatu lagi," ucap papa yang memikirkan anak anaknya termasuk rendra dan anak perempuan satu satunya yang sudah pergi ke luar negeri tanpa mau kembali.


__ADS_2