
Pagi pagi sekali, Satria menemui Mardiyah yang sedang menyirami tanaman. Tampak Satria sangat rapi serta ada koper yang di bawa Supir pribadinya.
"Diyah, saya mau pergi untuk satu Minggu, ada urusan bisnis di luar kota, kamu jaga diri baik baik ya, saya pergi sekaligus untuk menenangkan diri saya, jujur saya kemarin terlalu berharap kalau kamu akan menerima lamaran saya, tapi ya udahlah..saya juga nggak bisa maksain kamu,"
"Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya harap tuan mendapatkan calon Istri yang jauh lebih baik dari pada saya, semoga urusan tuan Satria selalu dimudahkan oleh Allah, dan bisnisnya tetap lancar,"
"Aamiin..makasih ya, kalau gitu saya pamit, Assalamualaikum.."
"Waalaikumussalam tuan.."
Satria pun melangkahkan kaki untuk pergi. Tiba-tiba Rendra datang menghentikan langkah kakaknya.
"Tunggu..kok mendadak sih kak, bisnis apaan sih, kok nggak bilang bilang," ucap Rendra berjalan mendekati Satria.
"Ada deh..kamu nggak perlu tau, oh ya, aku titip Diyah..jaga dia, jangan sampai dia di kerjain Elia lagi, dan yang paling penting, jangan berulah lagi, awas aja kalau kamu sampai buat masalah, kalau sampai ada masalah..detik itu juga aku akan berangkat untuk memberi kamu pelajaran!"
"Nggak usah di suruh pun aku akan jaga diyah.. pokoknya tenang aja deh..mulai sekarang aku nggak akan buat ulah selama ada diyah,"
"Dasar kamu ya..kamu pasti senang kan karena Diyah menolak lamaran aku?"
"Hehe..gitu deh,"
"Lihat aja nanti, diyah pasti berubah pikiran," ucap Satria tak serius.
"Nggak akan kak.."
"Kamu tuh ya...Kerja yang bener, bantu papa di kantor,"
"Iya..iya.."
"Ya udah aku pamit, Assalamualaikum.." Satria Pergi sambil melambaikan tangan ke arah Diyah.
Kini Satria telah pergi.
Rendra berbalik badan, menatap Diyah yang masih ada di sana menyirami tanaman.
"Saya mau ke kantor, kamu harus kabari saya kalau ada apa apa ya," ucap Rendra yang berdiri di depan Diyah.
__ADS_1
"Tenang aja Tuan, saya akan jaga diri, tuan nggak usah terlalu mikirin saya, mulai sekarang saya sangat berharap agar tuan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan saya, Permisi tuan," ucap Diyah dan langsung pergi begitu saja.
"Tunggu..diyah...kamu apaan sih, kenapa kamu menjauh dari saya.." panggil Rendra namun Diyah tak menyahut sama sekali. Sikap diyah seolah membuat Rendra kepikiran terlebih panggilan Diyah yang kini kembali memanggil Rendra dengan panggilan Tuan seolah mereka hanya sebatas Pembantu dan Majikannya.
**
Siang Hari,
Diyah yang beberes, tak sengaja melihat pertengkaran heboh di ruang tengah. Tampak Tante Sinta sedang cekcok dengan Elia.
"Kamu yang udah merubah papa saya, kamu yang udah merusak suasana keluarga kami, Gara gara kamu saya harus pergi ke luar negeri bertahun tahun, gara gara kamu semua kehidupan saya hancur!" dengan Emosi Elia membentak Sinta hingga matanya berkaca-kaca.
"Elia..cukup nak, mama nggak pernah lakuin itu, coba kamu pikirkan baik baik, kamu yang mempersulit diri kamu sendiri, nggak ada yang ngusir kamu tapi kamu pergi sendiri, dan papa mu sangat menyayangi kamu, kamu yang tidak menyadari itu!" balas Sinta
"Semuanya gara gara kamu!!" tegas Elia mengeraskan suaranya.
Entah dari mana asal perdebatan itu. Namun Diyah mencoba menenangkan suasana.
"Nyonya Elia..maaf, bukannya saya ikut campur, tapi sebaiknya nyonya tenangkan diri dulu, cobalah untuk berdamai dengan masa lalu, supaya hidup nyonya lebih tenang,"
"Halah..jangan ikut campur, kamu nggak tau apa apa, kamu juga sama seperti wanita ini, sama sama perusak di rumah ini," bentak Elia dan langsung pergi.
"Sekarang aku faham gimana sakitnya Tante bertahan di rumah ini," ucap Diyah di pelukan Tantenya, ia mencoba menenangkan.
"Udah..Tante nggak pa pa nak, tapi Tante berharap nanti kamu tidak akan pernah merasakan seperti apa yang Tante rasakan ini,"
*
Sore hari,
Diyah sedang merapikan kembali kamar Rendra sebelum Rendra tiba. Ia harus memastikan ruangan itu bersih dari kotoran.
Saat ia sedang mengelap kaca di kamar itu, Tiba-tiba Rendra datang namun Diyah tak menyadari Rendra yang ada di sana.
"Saya nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, Diyah, asal kamu tau..kamu sangat penting bagi saya, seperti Motivator yang menyemangati saya, kalau kamu begini, mungkin saya akan kembali ke titik awal saat pertama kali kamu mengenal saya, saya akan kembali pada kebiasaan saya yang dulu,"
Diyah menoleh ke belakang, benar saja Ia di kejutkan dengan kedatangan Rendra yang tidak sesuai dengan jam pulang kerja.
__ADS_1
"Tuan..maaf, tapi saya juga tidak akan rugi kalau tuan berubah lagi sesuai keinginan tuan, permisi," Diyah melangkah pergi.
"Oke..itu kan mau kamu? malam ini juga saya akan ikut balap motor," Rendra mencoba mengancam Diyah.
Diyah awalnya tak ingin perduli, tapi setelah di pikir pikir lagi, ini pasti akan berdampak juga bagi Tante nya.
Diyah menghentikan langkahnya.
"Kapan sih tuan bisa bersikap dewasa? ingat umur.. tuan lebih tua dari saya, tapi pemikiran tuan seperti anak anak,"
"Itulah kenapa saya butuh kamu, biar saya bisa sepemikiran dengan kamu,"
"Tapi nggak bisa gitu tuan, saya ini pembantu! ada tembok besar yang membatasi kita, bahkan kalau berbicara haruslah berjarak dan menundukkan kepala seperti ini,"
"Kata siapa? Elia? kamu masih dengerin dia?"
"Tapi itu benar tuan!"
"Nggak..itu nggak benar! kamu sendiri tau kalau semua manusia sama di hadapan tuhan! jadi kenapa kamu masih mendengar kata kata seperti itu?"
Diyah terdiam, ia tak tau kata kata apa lagi yang bisa meyakinkan Rendra agar menjauh dari diyah tanpa mengubah perilakunya menjadi seperti dulu.
"Diyah..apa pun yang Elia katakan, jangan dengarkan. Mulai sekarang saya mau kamu jangan menghindari saya lagi, dan ingat! jangan panggil saya tuan lagi, saya lebih suka saat kamu panggil saya Mas,"
Rasanya percuma saja jika diyah menentang perkataan Rendra ini. Lebih baik ia mengiyakan saja, namun ia berniat memanfaatkan situasi ini.
"Baik, tapi ada syaratnya,"
"Apa pun itu, saya pasti bisa!"
"Cobalah untuk menerima Tante Sinta sebagai mama sambung tuan!"
Rendra terdiam, syarat ini rasanya sangat sulit baginya.
"Saya mau nurutin semuanya, tapi kecuali ini diyah! kamu tau sendiri kalau saya tidak suka dengan wanita itu!"
"Baiklah, tidak pa pa tuan, kalau gitu besok saya akan berhenti kerja, saya udah capek melihat permasalahan di keluarga ini," tegas Diyah seolah mengancam Rendra.
__ADS_1
"Oke..oke...saya akan coba, tapi jangan pernah pergi kemana pun!" ucap Rendra dengan berat hati ia harus setuju.