
Di kantor.
Rendra tampak fokus mengecek dokumen yang perlu ia periksa. Sepertinya ia mulai sungguh sungguh dalam menjalankan pekerjaannya.
Tiba-tiba hp nya berdering. Ia mengangkat telpon yang ternyata dari kakaknya Satria.
"Halo..ada apa kak, tumben nelpon," sapa Rendra.
"Nggak..aku cuma lagi gabut aja makanya telpon kamu,"
"Yang bener aja kak, aku lagi sibuk nih.."
"Cie..yang udah makin dewasa, aku udah dengar kabar tentang kamu dari mama, aku ikut bangga dengan perubahan kamu, BTW kamu kok berubah pas aku pergi, kamu emang pengen aku pergi dari rumah ya?"
"Apaan sih kak, nggak ada hubungannya kali,"
"Terus kamu berubah karena apa?" Satria semakin bertanya tanya mengapa adiknya bisa berubah secepat itu.
"Karena.. karena.. seseorang,"
"Siapa?"
"Adalah..kamu nggak perlu tau kak, jangan kepo deh,"
"Oh aku tau... Diyah kan?"
"Sok tau!"
"Udahlah Ren..aku tau kali, ya..aku emang suka sama diyah, tapi kan kamu tau sendiri kalau diyah udah nolak lamaran aku, dan kalau di perhatiin kayaknya diyah sangat perduli sama kamu,"
"Iya..iya..aku suka sama Diyah," akhirnya Rendra mengakui pada kakaknya meski sebenarnya Satria telah tau itu.
"Kalau gitu jangan di tunggu lama lama lagi, buruan nikahi Diyah, kamu nggak kasihan apa lihat diyah kerja setiap hari, harusnya diyah nggak perlu capek capek kerja lagi,"
"Iya Kak..tapi aku takut,"
"Takut kenapa?"
"Takut di tolak kayak kamu kak,"
"Ditolak lebih baik daripada kamu nggak ngapa-ngapain sama sekali,"
"HM..iya deh, biar ku pikir pikir dulu kak,"
__ADS_1
...**...
Sementara itu Diyah sedang beberes di kamar Rendra. Ia membersihkan debu yang ada di foto yang terpajang di dinding. Di tatapnya Foto masa kecil Rendra itu.
"Fotonya lucu deh, ternyata waktu kecil dia tampan juga ya,"
Tak sadar Diyah tersenyum memperhatikan satu persatu foto Rendra yang ada di kamar itu.
Tiba-tiba seseorang masuk. Seseorang itu tak lain adalah Elia. Ia menatap sinis ke arah Diyah.
"HH..segitu sukanya kamu sama kakak saya sampai sampai kamu mandangin fotonya, sadar diri! kamu cuma pembantu!" cetus Elia yang tampak angkuh di hadapan Diyah.
"Eh nyonya Elia, maaf nyonya..saya cuma membersihkan,"
"Halah..udahlah...kamu sama Tante kamu pakai pelet apa sih sampai sampai semua orang di rumah ini berpihak sama kamu, bahkan papa ikut ikutan baik sama kamu!" Elia benar benar geram dengan adanya Diyah di rumah ini. Ia merasa seperti mempunyai musuh baru setelah mama tirinya.
"Astaghfirullah..saya nggak nyangka kalau nyonya Elia bisa berpikiran sejauh itu,"
"Dengar ya...jangan pernah berpikir kalau kamu bisa merayu Kakak saya, Kak Satria dan Kak Rendra itu nggak selevel sama kamu, ngaca!"
"Maaf, saya nggak ngerti dengan kata kata nyonya, karena saya tidak pernah merayu siapa pun,"
"Udah deh..jangan sok baik, ingat ya, kalau sampai kamu masih dekat sama kak Satria atau kak Rendra..aku pastikan Tante kamu dalam bahaya," Elia dengan tegas mengancam Diyah.
Setelah itu Elia pun pergi. Tinggallah Diyah di ruangan itu. Ia merenungkan semua perkataan Elia tadi.
...*******...
Malam Hari,,
Rendra baru saja tiba di rumah. Ia mencari cari diyah. Tak lama ia pun menemukan Diyah tengah melamun sambil bersandar ke dinding di dapur.
"Kenapa? lagi ada masalah?" sapa Rendra mengejutkan Diyah. Tak biasanya ia melihat Diyah melamun seolah sedang ada masalah.
"Eh mas Rendra udah pulang, nggak kok mas, semuanya baik baik aja," sahut Diyah yang terkejut dengan Rendra yang tiba-tiba ada di dapur.
"Beneran nggak ada apa apa?"
"Iya mas Ren.." tegas Diyah mencoba menunjukkan ekspresi seolah tidak ada masalah apa pun.
"Bagus deh kalau semuanya baik baik aja,"
"Oh ya mas Rendra ngapain ke sini?" tanya Diyah karena tak pantas jika Rendra berada di dapur seperti itu.
__ADS_1
"Saya sengaja ke sini mau ketemu kamu, besok kamu ada waktu nggak?"
"Emangnya kenapa mas? kalau saya sih sudah pasti sibuk ngerjain tugas saya,"
"Tenang aja, besok kamu nggak perlu kerja, saya yang urus,"
"Emangnya ada apa sih mas Ren?" Diyah semakin penasaran dibuatnya.
"Saya mau minta tolong sama kamu, tolong temani saya ke kajian di mesjid dekat sini, dan setelah kajian itu saya sudah janji mau ketemu secara pribadi dengan seorang guru atau ustadz, ada yang ingin saya konsultasikan, kamu mau kan temani saya?"
Mendengar itu membuat Diyah tak enak untuk menolak. Terlebih ia sangat kagum dengan ucapan Rendra. Baru kali ini Rendra berniat ikut kajian di mesjid yang artinya Rendra pasti ingin memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik lagi.
"Boleh sih mas, tapi saya nggak enak sama yang lain,"
"Tenang aja, nggak bakal ada yang tau, saya ingin memperbaiki diri diyah, kamu pasti akan bantu saya kan?"
"Iya deh mas, besok insyaallah saya akan ikut,"
"Yes..makasih ya," akhirnya Rendra lega karena diyah bersedia menemaninya.
"Sama sama mas Ren, oh ya mas Rendra mau makan apa? biar saya antar sekalian,"
Rendra tersenyum menatap Diyah. Rasanya begitu nyaman jika setiap hari bisa melihat Diyah. Apalagi jika Diyah benar benar jadi istrinya.
"Kamu aja yang pilih, makanan apa pun yang kamu bawa pasti selalu saya makan,"
"o-oke..kalau gitu sebentar saya siapkan dulu, mas Rendra ke atas aja nanti makanannya nyusul,"
Rendra pun bergegas ke kamarnya sedangkan diyah menyiapkan makan malam untuk Rendra.
Tak lama kemudian,
Sampailah Diyah di depan pintu kamar Rendra. Tak perlu mengetuk pintu lagi, ternyata pintu telah terbuka lebar.
Diyah langsung masuk, namun ia tak mendapati Rendra di kamar itu. Meski demikian Diyah meletakkan makanan itu di meja.
Diyah melihat selembar kertas di atas meja itu. Ia membaca pesan dari Rendra yang tertulis di sehelai kertas.
"Saya lagi mandi, taro makanan di meja aja. Makasih ya, jangan lupa besok pagi pergi sama saya. di atas meja ada kotak. ambil aja itu buat kamu. nggak usah bilang makasih..kamu pantas mendapatkan itu bahkan kamu juga pantas mendapatkan pemiliknya,"
Setelah membaca itu, diyah perlahan menoleh ke sebuah kotak di meja. Di bukanya kotak itu yang ternyata berisi sepatu wanita yang amat cantik. Namun Diyah tak berani mengambil karena sepertinya itu barang mahal.
Jadi ia memutuskan ingin menunggu Rendra dan mengatakan jika ia tak ingin menerima. Tak lama kemudian, Rendra yang hanya mengenakan celana panjang hitam muncul. Diyah tak sengaja melihat itu, ia benar benar kaget meski hanya tak sengaja melihat punggung Rendra.
__ADS_1
"A.. Astaghfirullah.." diyah lari keluar dari kamar.
Sementara Rendra dengan datar menatap heran karena diyah lari padahal ia merasa ini hal biasa jika laki laki tak memakai baju atasan.