Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
62. Tamu yang tiba-tiba


__ADS_3

Rendra berusaha tetap tenang, ia mencoba berbicara baik baik agar Elia mau melepas pisau itu.


"Oke..aku paham gimana perasaan kamu, apa pun kesalahan kamu, kamu tetap adik aku Lia, buang pisau itu, kita bicara baik baik," Rendra perlahan mendekat.


"Nggak...kamu juga pengen aku mati kan kak? Kamu cuma perduli sama perempuan cadar itu,"


"Kamu satu satunya adik aku, status kamu dan dia berbeda, kamu adik aku dan dia adalah perempuan yang ku cintai, tapi yang jelas aku sayang sama kamu lia, semarah apa pun aku kita tetaplah saudara,"


"Percuma kamu bicara kayak gitu! Aku lebih baik mati, untuk apa lagi aku hidup, papa juga udah buang aku," tegas Elia sedang pisau itu masih saja di letak di lehernya.


"Papa buang kamu, tapi aku akan tetap menerima kamu Lia, aku yang akan menjaga kamu, kamu tenang ya, jangan pikirkan apa pun saat ini,"


"Aku nggak percaya kak! jelas jelas kamu marah karena Diyah pergi,"


"Mana mungkin aku bisa marah sama kamu, sekarang..buang pisau itu ya, kita bicara baik baik,"


Akhirnya Elia perlahan meletakkan pisau di tangannya itu. Ia terjatuh ke lantai dan menangis tersedu.


"Kamu tenang ya, aku nggak akan bertanya banyak hal untuk saat ini," Rendra memeluk adiknya seraya menenangkan hatinya.


"Sekarang gimana kak? papa udah ngusir aku, aku mau gugurin kandungan ini aja, setelah itu aku akan pergi jauh, aku malu kak," Elia menangis di pelukan Rendra.


"Tenang ya, aku akan urus ini, tapi jangan gugurin kandungan mu, itu dosa besar, lagian apa kamu tega membunuh makhluk tidak berdosa,"

__ADS_1


"Terus gimana kak? Nggak mungkin aku tetap di sini jadi bahan luapan amarah papa,"


"Kemasi barang barang kamu, aku akan bawa kamu pergi jauh," ucap Rendra seolah memberi jalan bagi Elia.


Elia amat terharu, ia merasa Rendra sangat melindunginya sebagai kakak. Rendra bahkan tak memaki maki Elia seperti papa yang marah padanya.


Elia ke kamar dan mengemasi barang barangnya.


Sementara itu Satria datang menemui Rendra. "Kak, gimana pun juga Elia adik kita, gimana kalau Elia aku bawa ke kampungnya diyah, dia aman di sana, dan nggak akan ada orang orang yang merendahkan dia," usul Rendra pada Satria. Keduanya berdiskusi tentang Elia.


"Kamu yakin? tapi Elia nggak suka sama Diyah,"


"Tapi ini satu satunya jalan kak, Diyah pasti akan menjaga Elia, lagi pula aku khawatir jika Elia di bawa ke tempat lain, dia pasti diam diam akan menggugurkan kandungannya, tapi jika dia tetap di rumah ini, aku takut papa terus terusan marah dan menyakiti hati Lia," lanjut Rendra.


Akhirnya Satria pun sepakat dengan rencana Rendra itu.


...***...


Setelah setengah hari dalam perjalanan jauh, akhirnya sampailah di kampung halaman Diyah. Hari sudah sore. Tampak Rendra membawa koper berisikan barang Elia.


"Sebenarnya aku mau dibawa kemana sih kak, ini tempat apa?"


"Rumah Diyah, ini satu satunya tempat yang aman buat kamu, nggak akan ada yang menghina atau merendahkan kamu di sini karena nggak ada yang tau status kamu, dan kamu nggak akan lihat papa marah marah lagi,"

__ADS_1


"Nggak! Aku nggak mau tinggal sama Diyah kak!"


"Tapi ini jalan satu satunya,"


"Aku bisa tinggal di hotel atau dimana pun itu, tapi jangan di sini!"


"Kamu masih anggap aku kakak kamu kan?"


"Iya tapi.."


"Kalau gitu nurut aja! Jangan buat aku berubah pikiran dan berpihak pada papa," ucap Rendra dengan serius. Elia pun terdiam. Ia tak berani menentang karena takut Rendra tak lagi perduli padanya.


"Assalamualaikum.." ucap Rendra sembari mengetuk pintu rumah Diyah.


"Waalaikumussalam.." sahut diyah dari dalam rumah. Ia membuka pintu dan terkejut melihat kedatangan Rendra yang tiba-tiba. Padahal baru tadi pagi ia pulang. Ternyata sudah datang lagi.


"Diyah..maaf aku datang lagi, tapi aku datang sama adik aku," ucap Rendra menyapa diyah.


"Mba Lia.." sapa Diyah ragu-ragu. Ia tak mengerti mengapa Elia tiba-tiba datang bersama Rendra.


Elia tampak malu, ia hanya terdiam di belakang Rendra.


"Ya udah ayo masuk dulu, pasti kalian capek di perjalanan," Diyah pun mempersilahkan Rendra dan Elia masuk tanpa banyak pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2