Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
57. Pengganggu di malam hari


__ADS_3

Malam hari,


Budi anak tunggal pak Kades itu datang mendatangi rumah diyah dengan membawa sekotak martabak spesial seperti cintanya pada Mardiyah.


"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh, Dek diyah..." Budi sangat semangat hingga ia sibuk menata rambutnya saat mengetuk pintu rumah Diyah.


Ternyata Rendra melihat itu. Tentu ia bisa langsung melihatnya karena rumah kontrakannya dekat dengan rumah Diyah itu.


Langsung saja Rendra datang dan mencegat kedatangan Budi ke sana.


"Ngapain sih anda ke sini gangguin jodoh orang aja," gerutu Rendra menatap Budi dengan geramnya.


"Jodoh? jodoh itu di tangan tuhan! Mardiyah itu cocoknya sama aku," balas Budi yang amat percaya diri.


"Udah sana sana pulang, udah malam ini, aku mau istirahat, jangan ganggu dulu!"


"Lah..siapa yang ganggu anda," cetus Budi


"Kamu lah..kamu gangguin calon istri saya berarti itu sama aja kalau kamu ganggu saya,"


Tak lama kemudian Diyah pun muncul. Lagi-lagi ia mendapati keduanya berdebat saat ia membuka pintu rumahnya. Begitu pun Ira yang geleng kepala melihat dua laki-laki yang memperebutkan Diyah.


"Ini ada apa lagi sih, kok pada ke sini, bang Budi sama mas Rendra mau apa lagi?" tanya Diyah yang muncul bersama Ira.


"Ini nih si Budi..dia mau rusak rumah tangga kita," ucap Rendra sembari menatap diyah.

__ADS_1


Ira benar benar ingin tertawa lepas namun ia tak ingin merusak suasana. Memang rasanya kurang ajar menertawai teman sendiri yang sedang kesusahan.


"Eh kalo ngomong jangan halu ya, rumah tangga? Tangga rumah kali.." gerutu Budi yang geram melihat Rendra.


"Udah...udah... sebenarnya ada perlu apa?" tanya Diyah mencoba menghadapi situasi dengan kepala dingin.


"Gini dek, Abang mau ngantar martabak ini buat kamu, di makan ya dek," ucap Budi memberikan sekotak martabak.


"Makasih bang Budi, kalau gitu Abang mending pulang aja dulu ya, takutnya nanti warga bisa salah paham,"


"Ya udah deh, kalau gitu Abang pamit ya, Assalamualaikum " ucap Budi dan menuruti perkataan diyah untuk pulang.


Namun Budi tetap menatap tajam Rendra sebelum ia pergi. "Awas ya, kalo berani kita selesaikan secara jantan," ucap Budi ke telinga Rendra. Rendra malah tersenyum seolah meledek Budi.


Ira yang berdiri di sana langsung masuk ke rumah karena merasa menjadi nyamuk di tengah obrolan Rendra dan Diyah.


"Bulan depan kak Satria nikah,"


"Alhamdulillah...bagus dong mas," respon diyah seperti positif mendengar itu.


"Dia udah mau nikah, aku kira kira gimana ya, sampai kapan aku kayak gini terus, ada tapi nggak di anggap," ucapan Rendra seolah mengharap belas kasihan Diyah.


"Maksud mas Rendra apa sih,"


"Aku yakin kamu juga mengerti perasaan aku diyah, kamu yang datang di kehidupan ku dan mengubah semuanya, aku bahkan enggan untuk berubah ke masa lalu yang kelam itu karena kehadiran kamu yang sudah memberikan harapan untuk aku bahagia, awalnya aku mengira hidup ini penuh dengan kebencian dan dendam, tapi semuanya berubah setelah aku ketemu kamu,"

__ADS_1


"Berapa kali lagi aku harus bilang, aku orang susah mas Ren, kita jauh beda,"


"Iya..kamu memang orang susah. Susah dilupakan,"


"Tuh kan..bercanda lagi,"


"Ini serius Diyah, aku akan menetap di sini kalau kamu nggak mau pulang ke rumah,"


"Kok gitu sih, nggak bisa lah mas, mas Rendra harus pulang!" tegas Diyah, ia tak ingin Rendra mengorbankan masa depannya untuk Diyah.


"Emangnya kamu nggak kangen sama mama Sinta, kamu nggak kangen sama bi Maryam? Mereka kangen sama kamu diyah, kamu sendiri yang bilang kalau mereka adalah pengganti orang tua buat kamu," tutur Rendra yang kali ini berbicara serius.


Diyah terdiam sejenak, ia teringat dengan bi Maryam dan Tante Sinta yang selama ini sangat baik padanya. Jika di pikir pikir diyah pun sebenarnya tak ingin jauh dari dua orang yang ia sayangi itu.


"Itu cuma alasan mas Rendra buat maksa aku pulang kan,"


"Beri aku satu alasan untuk berhenti mencintai kamu! setelah itu baru aku pulang tanpa memaksa kamu ikut!"


"Kita berbeda mas Ren,"


"Itu alasan yang tidak logis, kita sama, sama sama manusia, sama sama ciptaan Allah, derajat kita sama di mata Allah, itu kan yang pernah kamu bilang sama aku dulu,"


"Bukan itunya, tapi status sosial kita yang jauh beda mas,"


"Untuk apa mencari wanita kaya, toh menafkahi itu kewajiban laki-laki, yang perlu aku cari hanyalah perempuan Solehah yang akan menjadi ibu dari anak anak ku nanti, kelak surga anak anak ku ada di telapak kaki ibunya, itulah kenapa aku harus mencari yang tepat, yaitu kamu, bukan perempuan yang serba kaya tapi tidak baik," jelas Rendra meyakinkan Diyah.

__ADS_1


__ADS_2