
Akhirnya Diyah selesai mengobati dan membalut luka Rendra. "Kalau masih sakit di tahan aja dulu mas, soalnya nggak ada obat medis, adanya cuma ini doang," ucap Diyah yang amat khawatir Rendra menahan kesakitan.
Padahal sebenarnya Rendra tak merasa sesakit itu. Ini hanyalah hal biasa baginya. Luka pukulan saja sudah biasa Rendra rasakan saat dulu ia sering berkelahi, apalagi hanya luka goresan kayu tajam.
"Mas..mas Rendra.."
"I-iya kenapa?" tanya Rendra yang tersadar dari lamunannya. Ternyata ia tak mendengarkan apa yang diyah katakan sedari tadi.
"Mas Ren kenapa sih, kok ngelamun?"
"Ngelamunin kamu!"
"Astaghfirullah..tuh kan..mulai deh," gerutu Diyah sambil berdiri menjauh dari Rendra.
"Sebenarnya ini bukan apa apa buat aku diyah, luka ini nggak sakit kok, tapi tadi..kamu udah buktiin kalau kamu benar-benar mencintai saya, buktinya kamu sampai rela merobek ujung jilbab mu hanya untuk membalut luka ku,"
"Mas Rendra salah paham, kalau pun yang luka itu orang lain, aku akan melakukan hal yang sama,"
"Tatapan khawatir kamu nggak bisa bohong,"
__ADS_1
Diyah akhirnya terdiam.
Ia tak tau lagi kata kata apa yang tepat untuk menyanggah perkataan Rendra. Kini Diyah duduk satu meter di samping Rendra. Ia memang selalu membuat jarak apabila sedang berbicara serius.
"Rasanya aku seperti orang bodoh setiap hari menyembunyikan padahal mas Rendra udah tau kan? kenapa aku sebegitu bodohnya hingga orang lain bisa tau perasaan ku," ucap Diyah seolah menyalahkan dirinya.
"Kamu bukan bodoh, tapi berharga, makanya kamu sangat sulit di dapat,"
"Mas Rendra, mungkin sekarang udah nggak ada gunanya lagi kalau aku lari dan menghindar, makanya sekarang aku akan menghadapi ini, tapi sebelumnya aku ingin tanya sesuatu, gimana kalau wajah asliku buruk, apa perasaan mas Rendra masih akan sama?" tampaknya pembicaraan semakin serius karena diyah tak ingin Rendra terlalu lama di desa ini.
Tentu pertanyaan ini membuat Rendra harus jujur kalau ia sudah pernah melihat wajah Diyah sebelumnya.
"Hah? Tau dari mana? Jangan jangan..." Pikiran diyah mulai negatif terhadap Rendra. Siapa tau Rendra mengintip dirinya sampai ke rumah.
"Jangan jangan apa sih? Jangan soudzon dulu, sebenarnya...dulu pas kamu kerja di rumah ku, aku nggak sengaja lihat kamu tanpa cadar di kamar pembantu, pintunya kebetulan terbuka, tapi aku nggak berani masuk karena takut kamu malu," jelas Rendra dengan jujur.
Diyah tampak syok mendengar itu. Entah dia harus marah atau bagaimana. Namun ia sangat malu di hadapan Rendra.
"Jangan marah ya..aku beneran nggak sengaja, sumpah!" ucap Rendra lagi, ia amat khawatir jika diyah akan marah hingga tak memperdulikan Rendra lagi.
__ADS_1
"Iya..iya.."
"Terus sekarang gimana? Kamu mau menerima ku dan pulang ke rumah sama sama?"
Diyah terdiam sejenak. Ia berpikir panjang tentang keputusan apa yang tepat untuk hal ini. Tapi yang pasti Rendra tidak bisa terlalu lama mengikuti Diyah karena diyah akan merasa bersalah.
"Gini aja mas Ren, kamu pulang aja dulu, yakinlah kalau jodoh pasti akan bertemu juga, untuk saat ini aku nggak bisa ikut ke kota mas,"
"Kenapa nggak bisa?"
"Karena.. karena cinta, aku tak bisa ikut tinggal di rumah itu sedangkan kita sama sama mencintai mas, kata almarhumah ibuku itu tidak baik, kecuali jika kita telah halal," Diyah benar benar berpikir panjang ke arah yang lurus.
"Kamu memang benar, itulah kenapa kita akan kembali dan langsung menikah,"
"Jangan dong mas Ren, untuk saat ini mendingan mas Rendra pulang dulu, nanti pak Arif bisa marah kalau mas Rendra terlalu lama di sini, biar aku menenangkan diri dulu di desa kelahiranku ini, lagi pula mas Rendra lebih baik belajar lebih banyak dulu, menjadi kepala keluarga juga butuh ilmu agama, begitu pun aku yang akan belajar lebih dalam,"
"Iya sih, kamu benar diyah, aku perlu memantaskan diri aku untuk menjadi suami kamu, baik, aku akan pulang, tapi tolong berjanji untuk menungguku, karena hanya kamu yang aku harapkan untuk menjadi pengantin wanita ku nanti,"
"Iya mas Ren, aku janji akan menunggu, pulanglah dan tunjukkan kalau kamu bisa melakukan yang terbaik untuk keluarga pak Arif," balas Diyah yang meminta Rendra untuk pulang secepatnya.
__ADS_1
"Makasih ya, sekarang aku lebih lega dan lebih tenang untuk pulang," ucap Rendra yang akhirnya mengalah untuk pulang. Namun ia pulang bukan tanpa hasil. Kini Rendra dan Diyah telah berjanji untuk bersama setelah memperbaiki diri masing-masing.