Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
17. Awal untuk berubah


__ADS_3

Malam mulai larut, Bi Maryam membentangkan tikar di lantai dan meletakkan bantal. Lalu ia tertidur pulas di kamar rawat itu, tak lupa ia memakai selimut.


Begitupun Satria yang sudah tertidur di sofa. Namun Rendra masih sibuk menatap layar hp nya. Mardiyah sebenarnya mengantuk, namun ia tak tega membiarkan tuan muda bergadang lagi.


Diyah dengan berani mengambil hp tuan muda dan meletakkannya di meja. "Tuan..maaf ini demi kebaikan tuan muda, kapan pola hidup tuan muda bisa sehat kalau sampai sekarang masih begadang juga," ucap diyah dengan tutur kata lembut.


Rendra terdiam menatap mata diyah, entah mengapa ia tak marah ketika di tegur oleh seorang pembantu.


"Tuan..ini udah tengah malam, tuan muda coba pejamkan mata, nanti pasti akan tertidur," lanjut Diyah membujuk Rendra agar tidur.


"Tidak semudah itu diyah, saya susah tidur," kata Rendra. Ia memang susah tidur meski telah mencoba untuk memejamkan mata.


"Jadi tuan muda mau begadang lagi?"


"Entahlah..tolong temani saya malam ini," pinta Rendra.


"Sejak kapan tuan susah tidur seperti ini?" tanya Diyah mencoba mengobrol lebih panjang.


"Sejak aku menyaksikan kecelakaan mama lalu mama meninggal, sejak saat itulah aku jadi susah tidur,"


"Itu mungkin karena tuan belum bisa berdamai dengan masa lalu dan kenyataan yang ada, apa tuan belum ikhlas dengan kepergian almarhumah?" tanya Diyah


"Jelas aku tidak ikhlas,"


"Tuan muda ..mungkin inilah sebabnya tuan muda sering tidak tenang, semua dari kita akan kembali pada sang pencinta tuan, hanya saja cara kembalinya berbeda beda, ada yang meninggal saat kecelakaan, ada yang meninggal karena penyakit dan masih banyak lagi, itu semua sudah ketetapan Allah, bahkan kita tidak bisa menyalahkan siapa pun ketika Allah memanggil kita saat ini juga,," tutur diyah panjang lebar.


"Tapi diyah...


"Tuan..cobalah untuk berdamai dengan masa lalu, cobalah untuk mempunyai semangat hidup yang baru, ada banyak hal yang bisa tuan lakukan," kata diyah seraya menenangkan hati tuan muda.


"Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu tidak pernah merasa kehilangan," balas Rendra yang tidak tau apa apa tentang hidup diyah.


"Bahkan tuan jauh lebih beruntung dari saya, saya juga pernah merasakan kehilangan tuan, sebulan yang lalu ibu saya meninggal, itulah kenapa saya merantau ke sini, dan ayah saya...saya tidak mengenalnya, hanya cerita yang saya dapat bahwa ia meninggalkan saya dan ibu saya dulu ketika saya masih sangat kecil, tuan muda masih beruntung punya ayah seperti pak Arif,"


Diyah pun terpancing mengingat masa lalunya. Namun ia tak pernah mengeluh dengan itu semua.

__ADS_1


Kini Rendra paham bahwa hidup diyah ternyata sangat menyedihkan di bandingkan dengan dirinya.


Panjang lebar mereka bercerita. Hingga diyah tertidur. Tak sanggup menahan kantuk, diyah tertidur sebelum Rendra tidur.


Rendra memperhatikan gadis bercadar yang tidur di bangku sebelah ranjangnya. Ia tak sadar telah lama menatap gadis itu.


"Kenapa gadis ini selalu berhasil membuat perasaan ku lebih tenang, sebenarnya siapa gadis ini hingga bisa membuatku merasakan ketenangan yang belum pernah aku dapatkan," batin Rendra saat ia memperhatikan Mardiyah.


Keesokan harinya,


Azan subuh berkumandang, diyah terbangun dari tidurnya. Ternyata ia telah tidur bersandar di ranjang tuan muda. Ia tak menyadari itu. Ia menatap tuan muda yang juga tertidur pulas.


"Apa aku semalam tertidur sebelum tuan muda tidur?" batin diyah yang bertanya tanya.


"Diyah..ayo Sholat," ajak Bu Maryam menatap diyah. Mardiyah pun ikut sholat bersama Bu Maryam. Sedang Rendra masih tertidur di ranjang.


Tak lama kemudian Rendra pun bangun. Ia menatap ke samping ternyata bangku diyah sudah kosong. Tak ada diyah di sana. Rendra langsung bisa menebak bahwa diyah pasti sholat subuh.


*


Usai sholat subuh bersama Bu Maryam, Diyah merapikan jilbabnya di kaca hp. Bu Maryam seperti menatapnya dengan serius.


"Puluhan tahun ibu bekerja di sini, baru kali ini tuan Rendra mau ditemani pembantu terlebih di malam hari, apa mungkin tuan muda menyukai kamu?" pertanyaan Bu Maryam ini membuat diyah semakin tak nyaman.


"Ibu kok mikirnya gitu sih, ya nggak lah Bu, lagian aku kan cuma menjalankan tugas untuk menjaga tuan Rendra Bu, nggak lebih, itupun karena tuan Rendra yang minta,"


"Ah masa sih..tapi ibu lihat tuan muda itu selalu memanggil kamu, dari banyaknya pembantu tapi dia maunya cuma kamu yang melayani dia," lanjut Bu Maryam


"Ah sudah..sudah Bu..jangan bahas dia lagi," ucap Diyah sembari berjalan keluar musholla.


Matahari mulai memancarkan sinarnya. Pagi yang cerah ini pak Arif dan istrinya Bu Sinta sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Tampak Bu Sinta dan Pak Arif duduk santai di belakang sopir.


"Jadi satria ada di rumah sakit?" tanya pak Rendra pada istrinya

__ADS_1


"Iya mas, sama Bi Maryam juga dan pembantu baru kita yang namanya diyah," jawab Bu Sinta.


"Pembantu baru? yang pakai cadar itu?"


"Iya mas.."


"Hah? sejak kapan Rendra mau di temani pembantu? bukannya dia selalu berhasil membuat setiap pembantu di rumah mengundurkan diri?" tanya pak Arif yang masih tak percaya.


"Aku juga nggak tau mas, Mardiyah tampaknya selalu menjadi pembantu yang di suruh suruh sama Rendra dan Satria," lanjut Bu Sinta.


**


Sampailah di rumah sakit,


Pak Arif dan istrinya bergegas menuju ke ruang rawat Rendra.


Saat mereka masuk ke ruangan itu mereka langsung melihat Bu Maryam dan Mardiyah di dalam.


Ternyata benar yang dikatakan Bu Sinta bahwasanya Rendra di temani Mardiyah dan Bu Maryam di rumah sakit.


Sedang satria sudah berangkat ke kantor sehabis subuh tadi karena ia pun harus mandi dan bersiap siap terlebih dahulu.


"Pagi tuan..nyonya.." ucap diyah sembari menunduk saat ia melihat pak Arif dan Bu Sinta memasuki ruangan.


"Pagi!" jawab pak Arif singkat.


Rendra begitu malas melihat wajah kedua orang tuanya di sana.


"Gimana? udah baikan belum?" tanya pak Arif menatap Rendra di ranjang.


"Emangnya papa peduli?"


"Anak ini...masih nanya lagi, kalau papa nggak perduli papa nggak akan datang ke sini," tegas pak Rendra.


"Oke..aku percaya sama papa, makasih pa, karena masih menginginkan Rendra hidup," ucap Rendra meski ia gengsi untuk berterima kasih.

__ADS_1


Pak Arif bahkan ternganga mendengar itu, sejak kapan anaknya mau mengucapkan kata kata seperti itu. Mungkin ini adalah hasil awal dari usaha diyah yang semalam menasehati Rendra.


"Iya sama-sama..asal kamu tau ya, papa mu ini selalu ingin yang terbaik buat kamu, tapi kamu tak pernah menyadari itu," balas pak Arif yang tak sadar bahwa ia telah tersenyum


__ADS_2