Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
24. Bahagia melihatnya berubah


__ADS_3

Malam hari,


Rendra merenung di jendela kaca kamarnya. Ia mengingat ingat kembali semua masa lalu tentang ibunya. Dulu ibunya sering mengingatkan tentang sholat dan juga tentang makna kehidupan. Hingga Rendra tak pernah bisa melupakan itu. Di samping itu ia juga mengingat diyah yang selalu menyuruhnya untuk sholat.


"Sepertinya diyah benar, sampai kapan aku seperti ini, arah hidupku sangat tidak jelas mau kemana," batin Rendra yang mulai menyadari kesalahannya.


Azan isya berkumandang, Rendra pun berjalan dengan tongkatnya ke kamar mandi untuk wudhu. Meski dengan kondisinya yang masih kurang baik, ia tetap melaksanakan sholat karena mengingat ucapan diyah.


Rendra sholat isya di kamarnya.


Tepat saat itu diyah membuka pintu kamar yang memang tak di kunci. Ia melihat tuan muda yang sholat tanpa harus di paksa paksa lagi.


Matanya begitu sejuk melihat pemandangan di depannya. "Maasyaa Allah tuan muda, akhirnya dia sadar kalau sholat itu penting,"


Tak lama kemudian Rendra pun usai sholat. Ia menoleh ke belakang, ternyata sudah ada diyah di sana.


"Alhamdulillah... akhirnya tuan muda mau sholat tanpa saya suruh," ucap diyah sembari tersenyum menatap Rendra.


"Mulai sekarang saya akan berusaha melaksanakan kewajiban saya, oh ya kamu udah sholat?" tanya Rendra.


Diyah tampak malu untuk menjawabnya, hingga ia mengalihkan pembicaraan. Ia merasa risih untuk menjawab bahwa ia sedang haid.


"Oh ya tuan muda..di bawah semua keluarga tuan muda sedang makan malam bersama, kenapa sih tuan nggak pernah mau ikutan, kenapa makanan tuan muda harus selalu di antar ke sini,"


"Kenapa? kamu bosan mengantar makanan saya?"


"Bukan...cuma saya merasa tuan terlalu mengasingkan diri, ayolah tuan, masa depan masih panjang, kenapa sih tuan hanya bertahan di kamar ini saja, paling keluarnya cuma nongkrong sama teman-teman tuan, apa nggak ada kegiatan lain?"


Rendra terdiam sejenak, ia memikirkan perkataan diyah ini. Sepertinya ada benarnya juga jika Rendra harus stop mengasingkan diri.


"Tuan...apa tuan tidak berpikir untuk mencoba hidup seperti orang-orang di luar sana, orang-orang di luar sana sangat bersusah payah mencari nafkah, mereka hidup sembari bekerja keras dengan harapan esok hari bisa menafkahi keluarganya, sedangkan tuan..tuan hanya menghabisi waktu bermain dan menyendiri di sini, apa tuan pikir semua fasilitas tuan itu datangnya dari langit? nggak kan. Tuan Arif lah yang membiayai itu semua," tutur Diyah panjang lebar. Ia berniat untuk membuka pemikiran rendra agar lebih memikirkan masa depan.

__ADS_1


"Kamu benar sih..tapi kan saya terlahir kaya, ya bedalah sama orang-orang di luar sana," balas Rendra.


"Tuan..apa tuan akan terus bergantung pada tuan Arif? sampai kapan? sampai usia tuan 30..40..atau selamanya?"


"Kamu tuh ya.. selalu aja mendebat saya sampai saya tidak tau harus menjawab apa," gerutu Rendra menatap diyah yang tampak pandai berbicara.


"Ini demi kebaikan tuan muda," balas Diyah sedikit tersenyum.


"Iya..iya.. karena kamu teman saya, saya akan mendengarkan kata-kata kamu, tapi kamu juga harus dengar kata-kata saya ya!"


"Iya..." jawab Diyah sembari tersenyum di balik cadarnya.


*


Tampak keluarga pak Arif tengah makan malam bersama di ruang makan. Ada Satria dan mama Sinta di sana. Namun malam ini ada yang berbeda. Rendra tiba-tiba muncul dan mengambil posisi dengan duduk di sebelah satria.


Mama Sinta, papa Arif dan Satria dengan serentak menatap Rendra dengan ternganga, Karena baru kali ini Rendra mau gabung makan malam dengan keluarga.


"Kamu baik baik aja kan?" tanya Satria terheran heran.


"Pada kenapa sih...Stop lihatin aku," tegas Rendra.


"E..ayo..ayo.. silahkan mulai makan, jangan lupa semuanya berdoa dulu," ucap Pak Arif terbata-bata karena ia pun masih kaget dengan kehadiran rendra.


"Makanan di sini semuanya enak enak, tapi kok yang di antar ke kamar aku biasanya cuma ayam sama tempe, curang bangat deh, mulai sekarang aku akan ikut makan malam bareng pa," ucap Rendra meski ia masih agak gengsi untuk mengatakan itu.


Pak Arif pun tersenyum melihat anaknya yang kini sedikit berubah dari sebelumnya. "Iya Ren..kamu harus makan malam bareng keluarga, biar kita semakin kompak," ujar Pak Arif Pratama


Mama Sinta tersenyum menatap Rendra, namun ia tak berani berkutik karena khawatir mood Rendra akan berubah.


"Kamu nggak sakit kan Ren?" tanya Satria yang masih saja menatap adiknya itu.

__ADS_1


"Apa sih kak, tuh lihat makananmu sampe tumpah, udah kayak lihat setan aja deh,"


"Sudah..sudah ...ayo makan mumpung makanannya masih hangat," ujar pak Rendra tertawa melihat anak anaknya.


Diyah mengintip dari balik pintu dapur, ia memperhatikan Rendra yang perlahan makin membaik. Tak sadar ia ikut bahagia melihat perubahan tuan muda itu.


Tiba-tiba Bu Maryam menepuk pundak Diyah."Liatin apa?" tanya Bu Maryam mengejutkan Diyah. ."Astaghfirullah..ibu..aku terkejut Bu," ucap diyah saat ia menoleh ke belakang.


"Lagian kamu ngapain liatin mereka makan? kamu lapar?"


"Nggak Bu..tuh ibu lihat, tuan Rendra ikut makan bareng," ucap Diyah menunjuk ke arah tuan muda yang tampak makan di sebelah satria.


Bu Maryam menatap ke sana, benar saja, ia melihat tuan Rendra yang ikut makan malam.


"Kok bisa? ibu nggak salah lihat kan? kenapa tiba-tiba tuan Rendra mau ya.." tanya Bu Maryam yang juga terheran-heran.


"Bagus lah Bu, akhirnya perlahan tuan muda mau berubah," ucap diyah, tampak wajahnya amat bahagia.


"HM..ibu tau, ini pasti berkat kata-kata bijak mu kan, tuan muda kan cuma mau dengerin kata-kata kamu," Bu Maryam langsung dapat menebak yang sebenarnya.


"Alhamdulillah Bu, ini pasti berkat Hidayah Allah. Ibu tau nggak, sekarang tuan muda sudah mau sholat, tadi pas diyah nggak sengaja buka pintu kamarnya, diyah lihat dia lagi sholat bu, malahan dia sholat di awal waktu,"


"Alhamdulillah...ibu senang dengarnya, kamu bagai keajaiban yang datang tiba-tiba di hidup tuan muda, selama ini dia tak pernah mendengar nasehat papanya, bahkan ia selalu cekcok dengan ibu tirinya," kata Bu Maryam yang ikut terharu dengan fakta ini.


"Ibu jangan berlebihan gitu ah, setelah aku perhatikan.. tuan muda sebenarnya memang orang baik Bu, tapi mungkin masalah besar keluarga mereka yang terjadi di masa lalu membuat dia berubah, nampak sekali kalau dia pernah menjadi orang baik,," tutur Diyah.


Bu Maryam tersenyum, "Sekarang ibu mengerti kenapa tuan muda mau mendengarkan kata-kata mu,"


"Maksud ibu?"


"Kamu menganggap dia orang baik di saat semua orang telah menganggap nya orang yang tidak benar, itulah kenapa kamu selalu menasehatinya dengan caramu, makanya tuan muda mau mendengar kata-kata mu," jelas bu Maryam.

__ADS_1


__ADS_2