
Di rumah Pak Arif.
Satria tampak mengobrol dengan papanya. Panjang lebar ia menceritakan alasan perginya Diyah dari rumah ini.
"Pa..aku harap papa memaklumi keputusan Rendra yang menyusul Diyah ke kampung, aku udah jelasin semuanya sama papa kalau ini ulah Elia," ucap Satria setelah ia menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Papa benar benar nggak nyangka, kalau gitu suruh Rendra membawa Mardiyah ke rumah ini secepatnya, lagi pula papa khawatir dengan mama kamu yang setiap hari sedih karena merindukan diyah, papa akan bicara sama Elia begitu dia kembali,"
"Iya pa, makasih udah percaya sama Satria,"
"HM.. sebenarnya papa juga merasa kalau gadis itu membawa perubahan baik untuk Rendra,"
"Itu karena Rendra mencintai gadis itu pa,"
"Jadi itu beneran? Papa kira Rendra hanya main main,"
"Iya itu benar pa, Rendra benar-benar mencintai Diyah,"
"Kalau begitu sebaiknya Mardiyah secepatnya kembali, papa berharap kehadiran Diyah menjadi penawar dari sikap buruk Rendra yang pernah ada dalam dirinya,"
...****...
Pagi hari,
Pagi ini Diyah dan Ira akan bergegas ke kebon kopi. Tiba-tiba HP diyah berdering. Ia mengangkat telpon yang ternyata dari Elia.
"Assalamualaikum..ada apa lagi nyonya Lia?" sapa Diyah di telpon.
__ADS_1
"Aku tau Kak Rendra menyusul kamu ke kampung, nggak usah merasa jadi Cinderella, ingat janji kamu untuk menjauh dari kakak aku,"
"Maaf mba Lia, tapi dia yang selalu mengikuti saya, apa mba Elia masih bisa bilang kalau ini salah saya?"
"Kurang ajar, jangan sok paling cantik ya, dia ngikutin kamu karena kamu yang selalu godain kakak aku kan,"
"Terserah mba Lia aja mau berpikir seperti apa, yang jelas saya tidak mendekati mas Rendra, tapi ada satu hal yang harus mba Lia ingat, kalaupun mba Lia sampai jungkir balik menjauhkan kami, kalau sudah jodoh pasti mas Rendra akan menjadi milik saya," tegas Diyah yang sengaja asal bicara untuk membuat Elia kesal. Diyah sudah tak tahan dengan sikap Elia yang selalu menyalahkan dirinya.
"Kurang ajar, berani kamu ya!" Elia tampak geram namun Diyah buru-buru mematikan telpon.
Diyah yang sedari tadi menelpon ternyata disaksikan oleh sahabatnya Ira. Ira mengacungkan jempol pada Diyah yang berbicara tegas Di telpon.
"Mantap! Gitu dong... sebagai wanita kita harus tegas jangan mau di rendahkan," ucap Ira yang amat mendukung Diyah untuk tegas melawan Elia.
Ira telah tau tentang Elia karena Diyah bercerita sepanjang malam.
"Tumben, kemana dia?" batin Diyah, ia tiba-tiba merasa ada yang kurang saat Rendra tidak terlihat.
"Astaghfirullah...kenapa juga aku harus cari dia," tiba-tiba ia tersadar telah salah karena memikirkan Rendra.
"Cie...pangerannya nggak muncul ya..nggak usah takut kali, paling dia lagi mandi atau lagi jalan jalan keliling desa," Ira meledek Diyah yang terlihat menatap ke arah kontrakan itu.
"Ih apaan sih Ra, nggak...aku cuma lagi siap siap mau ke kebun kopi,"
Diyah dan Ira pun berangkat ke kebon kopi, keduanya tampak berjalan kaki sambil menikmati udara pagi.
"Kalau kamu nikah sama dia pasti kamu akan bahagia, HM..tapi kamu jangan lupain aku ya,"
__ADS_1
"Ngomong apaan sih Ra, siapa yang mau nikah," balas Diyah, keduanya berjalan beriringan.
"Aku tau kamu juga cinta sama si cogan kota itu, nggak usah bohong lagi, aku bukan orang yang bisa kamu bohongi, kita udah kenal lama diyah,"
"Nggaklah..kamu jangan ngarang deh,"
Di perjalanan, tiba-tiba saja Diyah melihat Rendra yang sedang gotong royong bersama warga untuk mengangkat kayu yang patah dan jatuh di tengah jalan. Warga beramai ramai memindahkan kayu yang cukup besar itu.
Termasuk Rendra yang juga ikut di tengah bapak bapak warga desa. Rendra amat bekerja keras hingga keringatnya tampak bercucuran membasahi pakaiannya.
"Maasyaa Allah, aku kira dia masih tidur, ternyata..." Diyah melamun menatap ke arah Rendra. Kagum, itulah yang ia rasakan.
"Ehem..senyum apaan tuh, aku mencium bau bau cinta nih," Ira lagi-lagi dapat membaca isi pikiran Diyah yang tertuju pada Rendra.
Akhirnya kayu besar itu berhasil dipindahkan. Rendra menatap ke arah depan dan melihat Diyah yang sedang memandangnya juga. Ia langsung berjalan menemui Diyah.
"Pagi bidadari.." sapa Rendra tersenyum menatap perempuan yang ia cintai itu.
"Mana bidadari? kok aku nggak lihat, nggak ada bidadari di sini," balas Diyah
"Ya iyalah..kamu nggak akan bisa lihat diri kamu sendiri, nanti pas udah pulang ke rumah, coba kamu lihat kaca, kamu pasti lihat bidadari yang aku maksud," lanjut Rendra membuat Diyah semakin salah tingkah.
"Mas Rendra nggak ada habis habisnya ya, dari kemaren gombal mulu, nggak bosan apa?"
"Mana mungkin aku bosan melihat masa depanku,"
"Astaghfirullah..pasti ada aja jawabnya, mendingan sekarang mas Rendra pulang terus mandi,"
__ADS_1