Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
47. Ternyata aku wanita yang ia sebut jodoh


__ADS_3

Sampailah di mesjid. Diyah menuju tempat wanita sedang Rendra menuju tempat khusus laki-laki. Keduanya menyimak kajian hingga usai.


Usai sudah kajian itu. Tampak diyah menunggu Rendra di mobil karena Rendra sedang berbicara dengan seorang ustadz di sana. Diyah hanya bisa melihat dari jauh.


"Pak Ustadz, sebenarnya saya sedang mencintai gadis Solehah sementara saya merasa tidak pantas untuknya, tapi saya benar benar ingin menjadikan gadis itu istri saya,"


"Benar dugaan saya, anak muda memang selalu menanyakan itu, jangan langsung merasa tidak mampu, kamu juga belum usaha kan, berusahalah lalu minta pada Allah, jika memang kalian berjodoh insyaallah pasti bersatu juga, tapi jikalau memang tidak,, mungkin dia bukan wanita yang Allah takdir kan untuk mu,"


panjang lebar Rendra berbicara dengan Ustadz itu hingga akhirnya ia berpamitan pulang.


Rendra pun kembali ke mobil. Saat ia masuk ke mobil ternyata diyah telah ada di sana terlebih dahulu.


"Mas Ren bahas apa sih? kok kayaknya serius bangat ya,"


"Ada deh..kamu mau tau aja sih,"


Rendra mulai menyetir mobil.


"Sebenarnya saya takut kalau orang orang di rumah ada yang tau kalau saya pergi berdua dengan mas Rendra," ujar Diyah yang mulai khawatir jika ia pulang dan ada orang yang melihatnya.


"Takut kenapa sih diyah, udah tenang aja, lagi pula kan kita bukannya jalan jalan Kemana mana, cuma ke mesjid doang kok," balas Rendra seraya menenangkan Diyah.


Suasana seketika senyap. Diyah tampak tak berbicara lagi.


"Kenapa diam aja?" tanya Rendra melirik Diyah.


"Oh ya..kapan rencana mas Rendra mau menikah?" tanya Diyah dengan tiba-tiba. Ternyata ia masih saja teringat kata kata Rendra tadi.


"Kenapa? kamu nggak pa pa kan kalau saya nikah?"


"Ya nggak pa pa, saya cuma nanya sih,"


"Rencananya sih secepatnya,"


"Oh bagus deh, saya doain semoga semuanya lancar mas,"


"Aamiin..semoga aja deh, semoga wanita itu menerima lamaran saya,"

__ADS_1


Diyah yang mendengar itu berusaha untuk tersenyum. Entah ia harus bahagia atau bagaimana. Rasanya aneh saja jika Rendra tiba tiba ingin menikah.


Sampailah di rumah. Diyah turun dari mobil. Perlahan ia melangkah ingin masuk ke dalam rumah. Rendra tiba-tiba memanggil diyah hingga menghentikan langkahnya.


"Diyah.." panggil Rendra


"Ada apa mas?" sapa Diyah menoleh ke arah Rendra.


Rendra melangkah satu langkah ke arah Diyah. Ia menarik nafas dalam dalam seolah ingin mengucap sesuatu yang amat penting.


"Saya akan nikah tapi.."


"Tapi apa mas Ren? apa ada masalah?"


"Saya hanya akan menikah jika wanita yang saya cintai bersedia menikah dengan saya, Mardiyah..apa kamu bersedia?" tanya Rendra dengan serius menatap Diyah.


"Hah? maksudnya apa mas Ren?" Diyah masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia seolah tak mengerti dengan apa yang dikatakan Rendra.


"Iya..wanita yang ingin saya nikahi hanyalah kamu, diyah tolong.. menikahlah dengan saya, saya akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu,"


Diyah benar-benar terkejut dibuatnya. "Mas Rendra bercanda ya, nggak lucu mas,"


"Maaf mas Ren, tapi saya nggak mungkin menjadi istrimu, saya hanya pembantu, sekali lagi maaf, permisi mas," ucap Diyah dan buru-buru pergi meninggalkan Rendra. Jelas ia takut untuk menerima itu. Meski dalam hatinya berat untuk mengatakan seperti apa yang telah ia katakan pada Rendra.


Tak di sangka, ternyata Elia mendengar percakapan itu. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Rendra menyukai gadis seperti Diyah.


Buru-buru Elia menemui Diyah di kamarnya.


Diyah yang baru saja sampai di depan pintu kamarnya di kaget kan dengan kedatangan Elia yang tiba-tiba.


"Mardiyah! bagus ya..bukannya kerja ternyata seharian kamu malah godain kakak aku, maksud kamu apa godain kak Rendra, kemarin kemarin kamu godain Kak Satria, sekarang kak Rendra, dasar perempuan ular," tiba-tiba saja Elia mengomeli Diyah dengan penuh emosi.


"Maaf nyonya Elia, saya nggak godain siapa siapa, kalau memang saya ingin menggoda.. sudah lama saya terima lamaran tuan Satria," balas Diyah memberanikan diri.


"Ih...ngeselin bangat sih, kenapa sih manusia seperti kamu ada di rumah ini, pokoknya jangan pernah mimpi bisa dekat sama kak Rendra!"


"Nyonya Elia tenang aja, saya nggak akan dekatin siapa pun, tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Jangan salahkan saya jika mereka yang datang pada saya,"


"Nggak tau diri! ngaca!" bentak Elia yang semakin terpancing emosi pada Diyah.


Terdengar suara langkah, Elia buru-buru pergi karena khawatir jika yang datang adalah Rendra. Benar saja, Rendra datang dan menemui Diyah.


"Mas Rendra ngapain lagi kesini?" sapa Diyah, ia khawatir jika Elia melihat itu lagi.


"Tolong pikirkan lagi diyah, saya tidak menyuruh kamu buru buru menjawabnya, cobalah untuk berpikir baik baik," pinta Rendra bersungguh sungguh.


"Oke..tapi tolong jangan ke sini mas Ren, saya nggak enak kalau ada yang lihat,"


"Makasih, saya merasa ada harapan jika kamu masih mau berpikir, kalau gitu saya pergi ya," Rendra pun pergi karena ia lebih tenang setelah diyah tidak langsung menolaknya mentah mentah.


Malam hari, Diyah tampak melamun menatap langit langit kamarnya. Ia bingung harus bagaimana jika sudah seperti ini.


"Nggak ada gunanya juga kalau aku nikah sama mas Rendra, bisa saja aku akan bernasib sama seperti Tante Sinta, kaya tidak menjamin bahagia, apalagi aku hanya seorang pembantu, pasti aku hanya akan jadi bulan-bulanan nyonya Elia di rumah ini,"


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu menghentikan lamunan Diyah. Diyah memakai cadarnya dan bergegas membuka pintu itu. Diyah kaget begitu membuka pintu sudah ada Elia di sana.


"Kenapa kaget ya?" Elia tersenyum


"Hah? nggak..ada apa lagi nyonya?"


"Jangan khawatir, saya datang baik baik, dan ingin bicara baik baik, ayo duduk dulu," ucap Elia yang langsung menerobos masuk ke kamar diyah dan duduk di tempat tidur itu.


Diyah pun duduk meski ia masih bingung dengan Elia.


"Kamu mau uang berapa? saya akan kasih kamu berapa pun, asal kamu pergi dari rumah ini, atau saya juga bisa mencarikan kamu kerjaan di tempat yang jauh,"


"Maaf nyonya, saya tidak butuh uang nyonya,"


"Halah...jangan munafik..kamu tidak perlu capek capek merayu ke sana kemari, saya akan kasih apa yang kamu incar, kamu hanya ngincar uang kan?"


"Astaghfirullah..nyonya..saya memang miskin, tapi bukan wanita seperti itu, saya dengan tegas menolak uang nyonya!"

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2