
Usai sholat isya di musholla rumah sakit itu, Mardiyah pun kembali ke ruang rawat Rendra.
"Assalamualaikum.." ucap diyah sembari melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
Ternyata di ruang rawat hanya ada Rendra, sedang satria sudah tidak ada di sana.
"Masuk.." ucap Rendra tanpa menatap diyah.
"Kalau seseorang mengucap salam, harusnya tuan jawab waalaikumussalam," ucap diyah pelan.
"HM.. waalaikumussalam," jawab Rendra, baru kali ini ia mau di ingatkan dan langsung melaksanakan nasehat itu.
Diyah pun tersenyum karena senang melihat tuan muda mau mendengarkan nasehatnya. Diyah duduk di samping ranjang tuan muda.
"Tuan masih susah tidur?" tanya Diyah,
"Kamu nyuruh saya tidur jam segini? lihat jam itu, masih jam delapan lewat, masa saya tidur jam segini," protes rendra
"Nggak..saya cuma nanya kok tuan,"
"Mendingan kamu suapin saya makan, tadi kata dokter saya udah boleh makan," suruh Rendra, ia memang sengaja ingin melihat diyah dari dekat.
"Ta_tapi tuan.."
"Udah..lakuin aja apa yang saya suruh," ucap Rendra memotong pembicaraan Mardiyah.
Diyah pun hanya bisa pasrah melaksanakan apa yang tuan muda suruh itu.
Ia mengambil mangkok bubur yang ada di meja.
"Tuan muda bisa duduk?" tanya Diyah,
Rendra pun mencoba duduk agar ia bisa makan dengan tenang.
Diyah perlahan menyuapi tuan muda makan. Rendra tak pernah suka makan bubur seperti ini. Baginya itu bukanlah makana manusia. Namun kali ini ia memakan bubur itu.
__ADS_1
"Kamu nggak takut sama saya? pembantu yang lain pada takut loh.." ucap Rendra menatap diyah.
"Kenapa harus takut, pencipta kita sama sama Allah kok, bagaimana pun kepribadian tuan muda, saya yakin ketika Allah berkehendak tuan muda bahkan bisa menjadi pribadi yang sangat baik," balas diyah dengan lembut.
"Nggak lah, pasti Tuhan membenci saya, kamu tau sendiri kan saya ini bagaimana orangnya,"
"Tuan muda..dari mana tuan muda tau kalau Allah membenci tuan..itu salah! Allah sangat menyayangi tuan muda, buktinya tuan muda masih selamat dari maut, itu artinya Allah memberi kesempatan bagi tuan muda untuk membenahi diri, bagaimana mungkin Allah membenci tuan muda padahal tuan muda masih bisa menikmati semua ciptaan nya seperti udara yang kita hirup, kesehatan yang tuan muda miliki, dan masih banyak lagi," tutur diyah dengan pelan menasehati tuan Rendra.
"Nggak mungkin lah diyah, saya ini laki-laki berandalan,"
"Tuan..apanya yang tidak mungkin, Umar bin Khattab saja seorang laki-laki penentang Islam, tapi ketika dia bertaubat, dia menjadi ahli surga yang di cintai Allah. Tuan muda...ibaratnya ketika tuan muda kembali ke jalan Allah meski dengan merangkak, maka Allah akan lebih cepat merespon taubat tuan muda dengan berlari," jelas diyah sembari menunduk.
"HM..kamu memang sangat pandai bicara,"
"Saya serius loh tuan muda, apa tuan muda tidak ada niat untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup? saya tau kok kalau tuan muda selama ini banyak gelisah, hidup tidak tenang bahkan sudah tidur," lanjut diyah, perlahan ia mencoba membuka hati tuan muda agar mau berubah.
Panjang lebar diyah berbicara hingga tuan muda menghabiskan semangkok bubur itu.
Tak lama kemudian satria pun muncul, ia baru pulang dari musholla. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Ia ternganga melihat mangkok bubur telah kosong. "Hah? kamu habisin bubur ini?" tanya Satria terheran heran.
Rendra menganggukkan kepalanya seraya mengiyakan. Sungguh ini sangat mengherankan bagi satria. Sejak kapan adiknya itu mau makan bubur.
"Oh ya..tuan Satria kan udah datang, kalau gitu saya pamit ya tuan, tidak mungkin saya menginap di sini," ucap Mardiyah sembari berdiri dari duduknya.
"Ya udah bentar ya aku telpon supir di rumah untuk jemput kamu," kata Satria, ia pun menelpon pak supir untuk menjemput diyah.
"Jangan! kamu nginap di sini aja, nanti kalau saya butuh apa apa gimana? pokoknya diyah tidak boleh pulang!" tegas Rendra, entah mengapa ia tak ingin pembantu bercadar itu pulang.
"Tapi tuan.., masa saya menginap di sini, saya kan perempuan, sementara tuan Rendra dan tuan Satria juga di sini, maaf tuan, saya harus pulang," balas diyah, tentu ia tak nyaman jika harus menginap dengan dua laki-laki di rumah sakit itu.
"Ya udah kalau gitu kak satria aja yang pulang dan kamu temani saya di sini," tegas Rendra.
"Wah kurang ajar ini anak, kamu suruh aku pulang?" gerutu Satria yang geram pada adiknya, sudah di bela belain menemani adik di malam hari namun ia malah di suruh pulang.
__ADS_1
"Jangan gitu tuan Rendra, mending saya aja yang pulang, saya nggak mungkin perempuan sendirian di sini," keluh Diyah
"Ya udah kalau gitu telpon bi Maryam untuk segera ke sini, biar kamu ada temannya,"
"Hah? ta_tapi tuan.."
"Nggak ada tapi tapi..buruan Telpon!" tegas Rendra memotong pembicaraan diyah. Dengan terpaksa Mardiyah keluar ruangan untuk menelpon bi Maryam.
"Halo assalamualaikum bu, ibu tolong datang ke rumah sakit ya, ini perintah tuan muda," ucap diyah di telpon.
"Waalaikumussalam..kok tumben ya diyah,"
"Aku juga nggak ngerti Bu,"
"O..maksudnya kita gantian gitu..kamu pulang terus ibu ke sana?"
"Nggak bi..aku tadi udah izin pulang karena nggak enak kalau aku di sini perempuan sendirian, tapi kata tuan muda suruh ibu ke sini aja biar aku nginap di sini sama ibu, nggak jelas bangat kan,"
"Udah kita mah nurut aja, Ya udah ibu segera ke sana ya," ucap Bu Maryam kemudian mematikan telepon.
Bi Maryam menemui nyonya Sinta untuk meminta izin.
"Nyonya..saya permisi mau ke rumah sakit ya, tadi diyah nelpon saya, katanya tuan muda menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit," tutur Bu Maryam menghadap nyonya Sinta yang sedang membaca buku di ruang tengah.
"Masa sih? kok tumben tumbennya," nyonya Sinta pun terheran padahal jelas jelas Rendra tadi tidak ingin di ganggu siapapun.
"Saya juga nggak tau nyonya,"
"Terus diyah gimana? apa dia akan pulang dan Bu Maryam menggantikan dia di sana?" tanya nyonya Sinta
"Nggak nyonya..malahan tuan Rendra menyuruh diyah untuk tetap di sana, tapi diyah menolak karena dia tidak nyaman jika menjadi satu-satunya perempuan di sana, makanya tuan Rendra menyuruh saya ke rumah sakit," jelas bi Maryam.
Nyonya Sinta sempat tersenyum, ia semakin paham bahwa Rendra sepertinya menyukai Mardiyah.
"Ya udah..bibi nggak pa pa pergi aja, biar nanti pak supir yang ngantar," kata nyonya Sinta seraya mengizinkan bi Maryam ke rumah sakit.
__ADS_1