
Tiba-tiba seseorang masuk ke ruang rawat Rendra. Perempuan berpakaian serba pendek itu adalah Wenny. Ia benar-benar mengkhawatirkan Rendra yang baru saja terkena musibah. Wenny menerobos masuk dan menemui Rendra yang masih terbaring.
"Ren..kamu nggak pa pa kan? mananya yang luka Ren, tau nggak sih aku khawatir bangat sama kamu," ucap Wenny sambil melangkah mendekat ke ranjang hingga ia mendorong diyah agar menjauh.
Diyah pun terheran melihat wanita yang tiba-tiba menerobos itu.
"Aku nggak pa pa!" jawab Rendra singkat.
"Ren..nggak pa pa gimana sih..kamu udah luka luka, kaki kamu juga parah bangat kayaknya," lanjut Wenny seraya memperhatikan Rendra.
"Aduh Wenny..kamu bisa diam nggak sih, aku butuh kesunyian," tegas Rendra dengan wajahnya yang tampak tak suka dengan kedatangan Wenny.
"Rendra..Wenny cuma mau jenguk kamu, jangan galak gitu lah.." ujar Satria yang duduk di sofa
"Iya Ren..aku tuh cuma mau melihat kondisi kamu, aku mau kamu cepat cepat sembuh biar kita bisa jalan jalan bareng, kamu kan udah janji mau ngajak aku jalan," lanjut Wenny .
Rendra semakin tak nyaman dengan kehadiran Wenny di ruangan ini, rasanya ia semakin terganggu.
Sementara itu Satria pun merasa demikian, ia melihat Wenny sepertinya terlalu heboh saat menjenguk adiknya.
"Wenny..kamu jangan berisik dulu ya, Rendra itu nggak mau di ganggu dulu," ucap Satria menatap Wenny.
"Kak..aku kan cuma mau jenguk Rendra," balas Wenny
"Tapi ini bukan momen yang tepat untuk kamu membahas jalan jalan, jadi tolong kamu pulang ya, biarin Rendra istirahat," suruh Satria dengan sangat berharap agar Wenny pulang.
Wenny dengan wajah yang amat marah langsung keluar dari ruangan itu. Bagaimana tidak kesal, ia merasa dirinya di perlakukan dengan tidak hormat. Padahal ia adalah perempuan cantik yang jadi rebutan Se komplek rumahnya.
Diyah tak sengaja tersenyum di balik cadarnya, karena ia pun merasa risih dengan kehadiran Wenny yang menerobos masuk tadi.
Azan Maghrib berkumandang, Mardiah sholat di ruangan rawat itu. Sementara Satria telah pulang satu jam lalu untuk mandi dan ganti pakaian. Tinggallah Mardiyah yang diamanahkan untuk menjaga Rendra di sana.
Mardiyah sholat Maghrib dan dilanjutkan dengan membaca Alquran sebentar.
Rendra memperhatikan gadis bercadar yang sedang mengaji itu. Entah mengapa ada perasaan tenang di dalam hatinya saat ia melihat diyah membaca Alquran.
__ADS_1
"Shodaqallahul'azim.." akhirnya diyah pun usai membaca Alquran itu.
"Mardiyah.." panggil Rendra menatap diyah di sana.
Diyah terkejut karena baru kali ini tuan muda memanggilnya dengan panggilan nama yang lengkap.
"Iya tuan.." sahut diyah sembari buru-buru membereskan mukenanya.
"Saya haus," ucap Rendra yang mengisyaratkan agar diyah mengambil air minum.
Diyah buru buru mengambil segelas air yang sudah ada di meja.
"Ini tuan, silahkan di minum," ucap diyah sembari berjalan ke arah Rendra, namun tiba-tiba ia menginjak rok mukenah yang lupa ia buka. Hingga diyah tak sengaja menjatuhkan air minum itu dan mengenai pakaian tuan muda.
"Astaghfirullah..maaf tuan..maaf..saya nggak sengaja," ucap diyah, ia amat ketakutan dan buru-buru mengambil tissue untuk mengelap pakaian dan selimut tuan muda yang terkena air tadi.
Diyah sudah gemetar, namun ternyata Rendra tidak berkutik sedikit pun. Ia malah memperhatikan mata Indah Mardiyah. Ia teringat ketika ia pernah membuka paksa cadar Mardiyah di kamarnya.
"Perempuan ini ..matanya indah sekali, kenapa perempuan ini selalu membuatku tertarik untuk menatapnya," batin Rendra saat ia tak sadar telah menatap Mardiyah sedalam ini.
"Jangan...saya bisa sendiri, asal kamu bantu saya aja," ucap Rendra dengan santainya. Tanpa ia sadari ia telah tersenyum menatap wajah diyah yang ketakutan.
"Hah? tuan..nggak mungkin saya membantu tuan ganti baju, biar saya panggilkan bruder aja, permisi," " ucap diyah dan buru-buru keluar ruangan. Mana mungkin ia membantu laki-laki yang bukan mahramnya untuk berganti pakaian.
Baru saja diyah keluar dari ruangan itu, Satria sudah tiba di sana. Ia melihat diyah dengan wajah yang tampak panik.
"Ada apa diyah?" sapa satria menatap diyah
"Tuan..tadi saya nggak sengaja menumpahkan air ke pakaian tuan Rendra, makanya saya keluar memanggil seseorang untuk mengganti pakaian tuan muda, takutnya tuan muda masuk angin," ujar diyah sembari menunduk.
Satria terkejut mendengar itu, bukannya mengkhawatirkan adiknya, ia malah mengkhawatirkan diyah. Karena seperti yang ia ketahui, adiknya adalah laki-laki yang bisa saja marah besar ketika ia merasa terganggu.
"Terus..kamu nggak pa pa kan? kamu ada yang luka nggak?" tanya Satria memperhatikan diyah dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tuan..yang kena air kan tuan Rendra, bukan saya, kok tuan Satria malah nanyain saya ya?" tanya Diyah terheran heran.
__ADS_1
"Jadi Rendra nggak marah sama kamu?" tanya Satria lagi.
"Nggak, emangnya kenapa tuan?" tanya Diyah yang semakin tak mengerti dengan ekspresi wajah satria.
"Nggak pa pa, kamu mending pergi dulu, kamu boleh makan di kantin rumah sakit ini," suruh Satria.
Diyah pun pergi meski ia masih bingung dengan sikap aneh Satria.
Sementara itu Satria masuk ke ruang rawat Rendra. Ia menatap Rendra dengan tatapan yang heran.
"Ren..kamu Baik baik aja kan? apa kepalamu terbentur saat kecelakaan itu, atau ada yang sakit di bagian otak belakang mu?" tanya Satria memperhatikan adiknya.
"Emang kenapa sih? aneh bangat, datang datang kok nanyain itu," gerutu Rendra yang tidak nyaman dengan tatapan kakaknya.
"Nggak..kamu kelihatan aneh aja," balas Satria
"Aneh kenapa?"
"Udahlah nggak usah di bahas lagi, cepat buka baju mu, ini baju gantinya," suruh satria sambil memberikan baju ganti pada Rendra.
"Diyah mana?" tanya Rendra
"Aku suruh dia keluar untuk makan, kasihan dia belum makan dari tadi siang,"
"Oh..ini gimana pakainya sih, kamu kan lihat sendiri kalau tangan aku di perban kak, ini sakit tau.." gerutu Rendra yang komplain pada kakaknya.
"Sini sini..aku bantu," kata Satria sembari membantu adiknya memakaikan baju yang baru.
Namun dalam hatinya satria masih penasaran dengan sikap adiknya tadi. Mungkinkah Rendra memang terluka kepalanya hingga sifatnya berubah pada seorang pembantu.
"Ren..kamu beneran nggak pa pa kan?" tanya Satria lagi.
"Apaan sih kak? lebai bangat deh, aku kan udah bilang kalau aku baik baik aja," tegas Rendra lagi.
"Oh oke..baguslah kalau gitu," ucap Satria dan buru-buru memakaikan baju ganti itu pada adiknya.
__ADS_1