
Jangan ragukan kegigihan seorang Rendra dalam mengejar cintanya. Siapa sangka ternyata ia tak pulang ke rumah. Kini ia sedang berbicara dengan Pak Kades karena ingin mengontrak salah satu rumah Kontrakan milik pak Kades.
"Tapi sebulannya 800.000 ya, kebetulan karena kamu masih muda jadi ada diskon 0.05%" ucap pak Kades (Papa dari Budi)
"Itu sih terlalu murah," batin Rendra namun ia tak menunjukkan kalau ia laki-laki mapan dari kota.
"Oh iya, terimakasih pak," ucap Rendra sembari tersenyum ramah pada pak Kades.
"Iya sama sama, karena ini udah malam mendingan kamu langsung ke kontrakan aja ya, saya akan suruh anak saya untuk mengantarkan kamu, sebentar saya panggilkan dulu,"
"Iya pak,"
Pak Kades pun memanggil anaknya dengan suara yang cukup mengganggu tetangga sekitar. Untungnya yang punya jabatan tidak pernah bisa salah.
"Budi..." panggilnya
"Apa pa.." sahut Budi dari dalam kamar.
"Sini bentar,"
Budi pun bergegas datang karena jika tidak papanya akan semakin keras suaranya.
"Ada apa pa?" tanya Budi saat ia menghadap papanya. Budi menatap laki-laki yang ada di samping papanya.
"Kenalin ini namanya Rendra, dia mau ngontrak di rumah kontrakan yang di dekat rumahnya Mardiyah,"
Budi terdiam sejenak. Matanya tak berkedip menatap Rendra seraya memikirkan sesuatu. "Bahaya nih... laki-laki ini bisa merusak popularitas ku di desa ini, aku akui si Rendra ini cukup tampan meskipun aku lebih tampan" batin Budi
"Kok malah bengong? Buruan sana..Rendra pasti mau istirahat," suruh Pak Kades
"Iya..iya..." Budi pun menuntun jalan menunjukkan letak rumah kontrakan yang akan ditumpangi Rendra.
__ADS_1
Budi dan Rendra berjalan menuju rumah kontrakan itu.
"Maaf tadi kalau nggak salah katanya tetangga saya namanya Mardiyah ya?"
"Iya.. perempuan bercadar, udahlah kamu nggak perlu tau tentang dia, banyak perempuan cantik di kampung ini, nggak usah lirik lirik Mardiyah," suruh Budi dengan sengaja agar Rendra tak pernah tertarik pada diyah. Tentu Budi tak ingin menambah saingan. Budi tak tau saja kalau Rendra Pun tau bagaimana wajah cantik dibalik cadar Diyah.
Sampailah di rumah kontrakan. Rendra masuk ke dalam rumah sedangkan Budi pulang ke rumahnya.
Baru saja masuk, Rendra amat dikejutkan dengan keadaan rumah yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Rumah itu terlalu sederhana untuk seorang Rendra. Bahkan ia harus menimba air di sumur jika ia ingin ke kamar mandi.
"Astaghfirullah...apa aku udah kembali ke jaman penjajahan? Kok gini amat ya, apa aku bakal betah, tapi ya udahlah, demi Diyah,"
Rendra memasuki kamar yang sederhana itu. Tak ada kasur empuk hingga ia mungkin akan susah tidur. Tiba-tiba...
Tikus melompat dari atas lemari. Rendra spontan berteriak sekencang-kencangnya.
"A....tolong!"
Suara keras itu telah sampai ke telinga tetangga sebelah. Salah satu tetangga terdekat dari sana ternyata rumah Mardiyah.
"Diyah...suaranya kayaknya dari rumah kontrakan itu deh," kata Ira sembari menunjuk ke arah rumah yang dikontrak Rendra.
"Iya sih, nggak mungkin juga dari arah rumah Bu Ratna, kan dia lagi pergi,"
"Tapi masa sih dari sana? Kontrakan itu kan kosong," balas Ira
"Mungkin aja ada yang baru pindah, kan lampunya nyala tuh, ya udah ayok, siapa tau dia butuh pertolongan, lagian warga juga nggak ada yang lewat, kasihan kalau yang minta tolong ternyata benar benar butuh bantuan," usul Diyah, ia sebagai tetangga merasa ingin membantu tetangga yang kesusahan.
Ira dan Diyah perlahan berjalan ke arah rumah kontrakan itu. Ira mengambil alat sapu lidi untuk berjaga jaga jika ada bahaya.
Tiba-tiba seorang laki-laki keluar sembari mengibaskan jaketnya seolah takut akan sesuatu di jaketnya.
__ADS_1
"Tikus..tikus..." ucap Rendra ketakutan.
Diyah yang melihat itu tentu terkejut. Tiba-tiba saja Rendra keluar dari sana.
"Siapa dia? Ganteng bangat sumpah!" ucap Ira yang terpesona hingga sapu lidi di tangannya jatuh.
"Mas Rendra kok di sini?" tanya Diyah menemui Rendra di halaman rumah kontrakan.
"Diyah...aku...aku.." Rendra bingung harus menjawab apa karena diyah pasti akan mengusir dirinya.
"Kan aku udah bilang mas, pergi dari desa ini, jangan mempersulit aku!"
"Diyah, apa kamu mau ngusir aku malam malam begini? Aku nggak bisa pulang karena udah terlanjur malam, nggak ada kendaraan, apa perlu aku jalan kaki?"
Diyah pun diam, bagaimana pun juga ia kasihan melihat Rendra akan menginap di rumah kontrakan sederhana. Tentu Rendra akan sulit untuk beradaptasi.
"Hah? Maksudnya apa nih? Kamu sama dia ada hubungan apa diyah?" tanya Ira yang amat heran dengan obrolan Diyah dan Rendra seolah sudah kenal lama.
"Nanti aku jelasin,"
"Oh..oke.." Ira seolah mengerti ini bukan momen yang tepat untuk mewawancarai Diyah.
"Ya udah deh, mas Rendra nginap aja dulu," ucap Diyah yang akhirnya memahami Rendra.
"Diyah...apa boleh saya di rumah kamu aja, saya takut, di dalam banyak tikusnya," pinta Rendra, ia sudah trauma melihat tikus yang tadi melompat ke arahnya.
"Nggak boleh lah mas," tegas Diyah.
"Iya itu nggak boleh mas, kalau ketahuan warga...bisa bisa di kalian di nikahin," tambah Ira mengingatkan Rendra.
"Ya bagus dong," balas Rendra dengan senyuman. Justru itulah yang ia inginkan.
__ADS_1
"Astaghfirullah...udah udah...mendingan kita pergi Ra, biarin aja dia di sini," Diyah menarik tangan Ira untuk pergi masuk ke rumahnya.
Namun ternyata Diyah malah kasihan, ia terpikir bagaimana Rendra tidur dengan keadaan yang tidak sesuai dengan rumah Rendra di kota. Diyah lalu mengambil selimut tebal di lemarinya untuk diberikan pada Rendra.