Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
6. Si Pembuat Ulah


__ADS_3

Malam hari, usai sholat isya dan mengaji sebentar, Diyah menemui Bu Maryam yang sedang membuatkan kopi jahe di dapur.


"Ibu masuk angin ya, tumben mau minum kopi jahe malam malam," sapa Diyah seraya menyapa Bu Maryam.


"Bukan, ini bukan buat ibu, ini untuk tuan Satria,"


"Hah satria? itu siapa bu?"


"Putra pertama pak Arif, ya udah mending kamu aja yang antar ya, biar kamu kenal sama tuan Satria,"


"Jangan Bu, aku takut, gimana kalau dia lebih dingin dari Tuan Rendra, bisa bisa aku makin celaka lagi Bu," diyah langsung menolak karena takut untuk menghadapi putra pertama pak Arif.


"Tenang aja, yang ini lain kok, Satria itu tidak dingin, coba aja kalau nggak percaya,"


"Tapi bu.."


"Udah sana.. bismillah, pasti bisa,"


Diyah pun dengan terpaksa harus menuruti perintah itu karena bagaimanapun juga itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.


Dengan perasaan yang masih ragu, diyah mencoba mengetuk pintu kamar Satria yang sudah di tunjukkan Bu Maryam. Tepatnya di dekat kamar Rendra.


"Permisi..tuan..ini kopinya," ucap Diyah sambil mengetuk pintu kamar.


"Iya.. sebentar.." sahut satria dari dalam kamar.


Tak lama kemudian satria membuka pintu kamar itu.


"Tuan ini kopinya di taro dimana ya," tanya Diyah sedikit takut.


"Kamu..saya baru lihat kamu di rumah ini, pembantu baru ya?" tanya Satria memperhatikan diyah dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


"Iya tuan," jawab diyah.


Satria membuka pintu dengan lebar hingga diyah bisa masuk untuk meletakkan kopi itu di meja. Namun suatu hal yang tidak di duga terjadi.


Kopi itu malah jatuh dan gelas pun pecah ke lantai. Itu terjadi karena tangan diyah gemetar saat meletakkan kopi.


"Maaf tuan..maaf..saya akan bersihkan ini, tolong jangan pecat saya!" ucap Diyah yang amat ketakutan. Rasa takutnya tak terungkapkan lagi, ia khawatir mungkin saja satria jauh lebih dingin dari pada Rendra.


"Tidak pa pa, biar saya bantu bersihin, nanti tangan mu luka," ucap Satria sembari tersenyum.


Seketika diyah ternganga melihat laki-laki di hadapannya itu. Ternyata satria tampan, baik, lembut, sangat jauh berbeda dengan Rendra.


"Kamu mundur dikit, biar saya bersihin pecahan kaca ini," suruh satria dengan lembut.


Diyah masih bengong meski satria menegurnya.

__ADS_1


"Hei..kok malah diam," tegur Satria.


"Hah..i_iya ada apa tuan?"


"Kamu mundur dikit,biar saya bersihin pecahan kaca ini," lanjut Satria lagi.


"Jangan tuan..ini tugas saya," kata Diyah seraya menolak perintah satria kali ini. Tentu Diyah tidak ingin kurang ajar pada majikan sendiri.


"Nggak pa pa, oh ya nama kamu siapa? sejak kapan kerja di sini?" tanya Satria yang tampak ramah pada Mardiyah.


"Saya Mardiyah tuan, lebih sering di panggil Diyah, saya baru kerja di sini,"


"Oh gitu.."


"Iya tuan..tuan, saya minta maaf ya," ucap Diyah yang lagi-lagi meminta maaf.


"Iya Nggak pa pa,"


"Mau saya buatkan kopi lagi?" tanya Diyah


"Nggak usah, mendingan kamu istirahat, ini udah malam," suruh Satria.


"Baik tuan," ucap diyah dan keluar dengan perasaan yang lega. Betapa bahagianya ia melihat putra pertama ternyata sangat baik orangnya.


**


Rendra ternyata belum pulang dari semalam. Tak biasanya ia belum pulang setelah sepagi ini.


"Mas...aku khawatir, Rendra belum pulang semalaman," ucap Mama Sinta pada suaminya yang sedang minum teh di ruang tengah.


"Nggak usah di pikirin, nanti juga dia pulang kok," balas pak Arif seraya menenangkan hati istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara Telpon rumah yang berdering. Mama Sinta buru-buru mengangkat telpon itu.


"Iya ini dengan kediaman pak Arif, ada apa ya?" sapa mama Sinta di Telpon.


"Kami dari pihak kepolisian Bu, anak ibu tertangkap karena telah membuat kerusuhan bersama teman temannya tadi malam, jadi tolong pihak keluarga hadir ke kantor polisi ini,"


"Baik pak..kami akan segera ke sana," ucap mama Sinta sembari mematikan telpon.


"Ada apa sayang?" tanya pak Arif pada istrinya itu.


Sinta tampak bingung harus menjawab apa. Takutnya suaminya akan langsung emosi mendengar kabar itu.


"Mas, Rendra di kantor polisi,"


"Apa? anak itu nggak ada kapok kapok nya ya," Pak Arif tampak emosi mengingat anaknya yang selalu berbuat ulah.

__ADS_1


**


Siang itu, sepulang dari kantor polisi. Rendra tampak duduk di sofa. Begitu pun Satria yang duduk di sebelahnya. Tampaknya akan ada siraman qalbu dari orang tuanya.


Namun ekspresi Rendra tampak biasa saja, ia tak merasa bersalah ataupun ketakutan. Semuanya terasa santai baginya.


"Rendra..bisa nggak sih kamu jangan malu-maluin papa mulu, apa tidak ada aktivitas lain yang mau kamu lakukan selain tawuran sama anak anak geng motor itu?" bentak pak Rendra melototi putranya.


Rendra diam tanpa memperdulikan kata kata papanya itu. Ia malah sibuk makan kacang yang tersedia di meja.


"Ren..kamu dengerin dong, jangan kayak gitu!" tegur Satria pada adiknya.


"Anak ini benar benar menguras kesabaran ku, Rendra..kamu dengar nggak sih!" tegas papa Arif.


"Mas udah ya..mungkin Rendra udah capek, biarkan dia istirahat dulu," ucap Mama Sinta menenangkan hati suaminya.


"Tuh..mendingan papa urusin istri kesayangan aja," cetus Rendra dan pergi tanpa memperdulikan perkataan orang tuanya.


"Rendra!" suara pak Arif semakin keras namun Rendra tak memperdulikan itu.


Sementara itu para ART di rumah mengintip dari setiap sudut rumah. Semuanya penasaran dengan keributan itu.


"Udah mas..malu di liatin pekerja di rumah ini, istighfar mas," ucap Mama sinta sembari mengelus pundak suaminya.


Mardiyah yang melihat itu pun semakin paham bahwa keluarga ini sedang tidak baik baik saja.


Namun ia tak ingin menguping terlalu lama seperti pembantu yang lain, Diyah pun pergi melanjutkan pekerjaannya.


Saat diyah sedang berjalan melewati anak tangga, ia tak sengaja berpapasan dengan Rendra. Diyah sekilas memperhatikan wajah Rendra yang penuh lebam.


Sepertinya Rendra akan berjalan ke kamarnya. Hanya berjalan lurus, Rendra tak menoleh ke arah Diyah di sana.


"HM.. sepertinya tuan muda yang satu ini butuh pertolongan psikiater, otaknya sudah kurang beres," ucap diyah sambil geleng kepala.


Tak lama kemudian Bu Maryam muncul membawa es batu di wadah beserta handuk kecil.


"Mau kemana Bu?" tanya Diyah menatap Bu Maryam yang buru-buru.


"Ke atas, tuan Rendra harus di kompres lukanya, tadi mukanya udah lebam begitu,"


"O..iya..iya.. silahkan Bu.." ucap Diyah seraya memberi jalan untuk Bu Maryam lewat.


Namun seketika Bu Maryam menghentikan langkahnya, Ia menatap wajah Diyah.


"Kenapa bu?" tanya Diyah, ia merasa tatapan bu maryam itu seperti membahayakan baginya.


"Kamu aja yang ke atas ya, ibu lupa masakan ibu di dapur belum beres," ucap Bu Maryam sembari memberikan wadah itu pada Mardiyah.

__ADS_1


__ADS_2