Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
46. Benarkah dia akan menikah?


__ADS_3

Keesokan harinya


Usai sholat subuh diyah keluar dari kamarnya. Baru saja ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan berdirinya Rendra di hadapannya.


Tadinya Rendra ingin mengetuk pintu, namun diyah lebih dulu keluar.


"Mas Ren? ngapain? emang kita perginya sepagi ini?" tanya Diyah terheran melihat Rendra.


"Nggak..saya ke sini cuma mau kasih kamu sepatu ini, semalam kenapa kamu nggak ngambil di atas meja,"


"Oh itu..maaf mas, saya nggak bisa terima, ini terlalu bagus buat saya, saya nggak pantas mendapatkan ini, lagi pula kaki saya tidak melangkah jauh jauh, untuk apa saya pakai sepatu bagus kayak gitu,"


"Justru sepatu ini sangat pantas buat kamu, kamu harus terima ya, anggap saja ini bonus,"


"Bonus sih bonus mas, tapi ini lebih besar nilainya dari pada gaji bulanan saya,"


"Saya nggak mau tau pokoknya kamu terima, coba deh, pasti cocok!" Rendra tetap kekeh ingin memberikan sepatu yang ia pilih untuk diyah. Ia pun berlutut dan meletakkan sepatu di lantai seraya mendekatkan sepatu ke kaki Diyah.


"Aduh nggak usah mas Ren..saya nggak bisa terima.."


"Udah...coba dulu..ini perintah,"


Diyah pun terpaksa mencoba sepatu pemberian Rendra itu. Diyah memakai sepatu tersebut.


"Sepatu ini nyaman banget sih, mas Rendra tau aja apa yang saya suka, tapi kan ini nggak seharusnya saya terima,"


Diyah menyukainya namun ia masih bimbang harus menerima atau tidak.


"Saya nggak mau tau pokoknya kamu pake ini nanti, oke..sampai jumpa nanti jam 09.00," sampai di situ saja, Rendra pun pergi.


...***...


Pagi yang cerah, Bu Sinta tampak menikmati udara pagi sembari meminum secangkir teh di halaman belakang. Ia menatapi tanaman tanaman yang ia rawat tumbuh dengan baik.


Tiba-tiba Rendra datang menyapa ibu tirinya. Dan untuk pertama kalinya ia menyapa terlebih dahulu.


"Pagi, ma," sapa Rendra sedikit malu malu untuk berbicara.


"Pagi...eh Rendra..sini nak duduk aja, ini kan Minggu, kamu libur kan," Bu Sinta amat senang dengan kedatangan Rendra yang menyapanya di pagi hari.


"Iya ma," Rendra pun duduk, meski sebenarnya ia telah berusaha melawan rasa gengsi yang bergejolak di hatinya.


"Mama senang melihat kamu nak, rasanya mama mendapatkan kebahagiaan yang selama ini mama nantikan, kamu sangat berharga buat mama," ucap Sinta dengan matanya yang mulai berkaca kaca. Seketika ia mengingat sahabatnya yakni ibu kadang Rendra.

__ADS_1


Rendra hanya sedikit tersenyum karena tak tau harus berkata apa.


"Oh ya ada apa nak, tumben kamu langsung menyapa mama seperti ini," sapa Sinta.


"Ma...ada yang ingin ku tanyakan,"


"Apa nak..apa pun masalah kamu atau kamu pengen cerita, mama selalu ada,"


"Ma..ini tentang diyah, Diyah suka laki-laki seperti apa sih?" tanya Rendra sedikit malu malu.


Sinta tersenyum seketika. Dalam hatinya ia sudah bisa membaca isi pikiran Rendra. Pasti Rendra menyukai Diyah karena Rendra berubah sejak adanya Diyah.


"Jadi kamu mau nanya ini, HM..gimana yah..mama juga tidak tau persis sih, tapi yang jelas diyah pasti suka laki-laki yang Soleh dan baik,"


"Oh gitu ya, kalau laki-laki yang masa lalunya kelam? apa dia bisa suka?"


"Kalau laki-laki itu sudah berubah..kenapa nggak.. diyah tidak pernah membahas masa lalu seseorang, dia memandang baik orang orang tanpa mengungkit masa lalunya, kenapa nak? kamu suka diyah?"


"Hah? apaan sih ma, aku cuma nanya," Rendra tampak malu malu menutupi perasaannya.


"Oh..jadi kamu nggak suka, padahal sih kalau kamu suka, mama bisa bantu,"


"Beneran ma?" Rendra spontan bersemangat.


Tak bisa mengelak lagi, akhirnya Rendra pun mengakui jika ia menyukai Diyah.


"Iya ma, aku suka tapi kayaknya diyah itu bukan perempuan yang mudah di dapat,"


"Kamu banyak berdoa aja ya, jangan lelah memperbaiki diri, jangan khawatir, diyah tidak akan mempermasalahkan masa lalu kamu," mama Sinta pun menyemangati putranya untuk pertama kalinya, karena selama ini ia tak pernah bisa mengobrol sedekat ini dengan Rendra.


...**...


Rendra telah menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian diyah pun datang. Dengan datar ia masuk ke mobil dan duduk di bangku belakang sementara Rendra yang akan menyetir.


"Ehem..ceritanya saya jadi supir nih.." seolah menyindir, Rendra melirik Diyah dari Spion.


"Terus gimana dong mas, saya nggak bisa bawa mobil, kenapa nggak panggil pak supir aja sih mas,"


"Bukan gitu maksudnya diyah...kamu duduknya di depan dong, bukan di belakang,"


"Emang harus ya mas?"


"Iya!!"

__ADS_1


Diyah pun terpaksa berpindah ke depan meski sebenarnya ia tak nyaman terlalu dekat dengan Rendra.


Di perjalanan, Diyah tampak canggung karena hanya berdua dalam satu mobil itu.


"Makasih udah pake sepatunya," ucap Rendra melirik kaki diyah yang sudah terpasang indah sepatu yang ia berikan.


"Saya yang harusnya berterimakasih mas Ren, lain kali nggak usah di kasih lagi ya, saya nggak enak soalnya,"


"Oke..kalau gitu besok besok saya kasih makanan aja, biar enak kan,"


"Nggak gitu konsepnya mas.."


"Iya..iya saya bercanda,"


Suasana seketika senyap. Diyah terdiam karena tak tau harus berbicara apa.


"Saya mau nikah," ucap Rendra tiba-tiba.


Diyah terkejut dibuatnya. Entah dia harus senang atau bagaimana. Namun ada yang aneh di hatinya saat ia mendengar itu.


"Oh..bagus dong mas, tapi tuan Satria nggak keberatan kalau mas Ren nikah duluan?"


"Itu dia masalahnya, aku nggak enak kalau nikah duluan, apa aku Carikan perempuan aja buat dia? dia tuh udah tua nggak nikah nikah,"


"Hush.. jangan bicara gitu mas Rendra, nanti dia juga pasti ketemu jodohnya kok,"


"Iya..iya...habisnya saya tuh mau buru buru nikah karena takut calonnya keburu di lamar orang lain,"


"Oh..gitu, semangat ya mas Rendra, semoga usahanya lancar," ucap Diyah namun hatinya benar benar aneh saat mengucapkan kata kata itu. Entah mengapa ia bersedih seketika. Ia melamun menatap kaca mobil.


"Kenapa? kamu sedih kalau saya nikah!"


"Hah.. kenapa sedih, nggak lah, saya senang kok mas,"


"Masa sih, tapi..kenapa mata kamu menunjukkan seolah kamu sedih?"


"Apaan sih mas, saya nggak sedih,"


"Emangnya kamu benar benar senang kalau saya menikah?" tanya Rendra yang berharap diyah akan menunjukkan ekspresi cemburu.


"Ya iyalah mas, masa iya saya sedih," balas Diyah yang tampak biasa saja meski dalam hatinya sedikit perih.


"Baguslah kalau mas Rendra nikah, biar aku semakin sadar kalau dia sangat jauh di langit sedang aku hanya merangkak di bumi,"

__ADS_1


__ADS_2