
Diyah seperti biasa membersihkan satu persatu ruangan di rumah itu. Tiba-tiba Elia datang dan berbicara dengan Diyah.
"Saya tau kamu punya niat ingin menghasut kakak saya supaya berpihak pada kalian, tapi ingat..saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Elia berdiri tersenyum sinis di belakang Diyah.
Diyah berbalik badan lalu menatap Elia. "Maaf nyonya tapi saya tidak pernah ada niat jahat, terserah nyonya mau menilai saya seperti apa, permisi!" Diyah pun pergi dan mengabaikan perkataan Elia itu.
...**...
Malam Hari,,
Diyah bersama Tante Sinta tampak mengobrol di ruang tengah. Keduanya tampak akrab bercerita.
"Diyah..kalau kamu capek sebenarnya kamu nggak perlu kerja kok nak, Tante yang akan menanggung semua kebutuhan kamu," Tante Sinta tampak prihatin dengan Diyah yang setiap hari bekerja keras sebagai pembantu.
"Tante..diyah nggak pa pa kok, malah diyah nggak akan nyaman kalau diyah cuma numpang hidup di keluarga ini,"
"Tapi nak.."
"Udah Tan..jangan mempersulit diri Tante sendiri, Tante tau kan kalau sampai diyah tinggal tanpa bekerja, pasti nyonya Elia akan marah sama Tante,"
Tiba-tiba Rendra yang baru pulang dari kantor muncul. Ia akan langsung ke kamarnya. Namun Mama Sinta menyapa nya.
"Rendra..udah pulang nak.." sapa mama Sinta meski ia tau jika Rendra tak akan menyahut.
Rendra menghentikan langkahnya sejenak, ia melihat Diyah yang ada di samping mama tirinya.
"Udah ma!" jawaban singkat Rendra mengejutkan Sinta. Baru kali ini Rendra memanggilnya dengan panggilan mama.
Seketika Diyah tersenyum melihat perubahan Rendra yang membaik.
"Ya sudah kalau gitu kamu istirahat ya nak, kamu nggak perlu turun ke bawah lagi nanti, biar mama suruh seseorang untuk mengantar makan malam mu," ucap Sinta tersenyum hangat menatap anaknya.
"Ya.. makasih ma," jawab Rendra lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Diyah masih menatap langkah Rendra, entah mengapa ia memandang Rendra dengan tatapan berbeda.
"Bentar ya Tante ke belakang dulu, mau nyuruh bi maryam buatin makan malam Rendra," ucap Sinta dengan semangatnya.
"Nggak usah Tan..biar aku aja,"
"Tapi kamu kan udah capek.."
__ADS_1
"Nggak kok, Tante tenang aja,"
"Ya udah kalau gitu kamu siapkan makanan yang paling di sukai Rendra, kasihan dia udah capek,"
"Siap Tante!" jawab diyah dengan semangat menuju dapur.
Sementara itu, Rendra sampai di kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Sedikit merasa kesal karena ia harus bersikap baik pada mama Sinta.
"Tapi..aku rela lakuin ini jika memang ini adalah cara supaya aku tidak kehilangan diyah, sepertinya diyah memang sangat penting di hidup aku," batin Rendra merenung sesaat.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu di telinga Rendra.
"Ada apa?" tanya Rendra yang masih rebahan di kasur.
"Makan malamnya tuan," sahut Diyah dari luar.
Rendra langsung bangun ketika ia mendengar suara Diyah. Buru buru ia merapikan pakaiannya dan menata rambutnya yang tadi berantakan. Setelah itu barulah ia menyuruh diyah masuk.
"Masuk aja.." panggil Rendra.
"Silahkan makan dulu, Mas Rendra,"
Seketika Rendra tersenyum, akhirnya diyah kembali memanggilnya dengan panggilan Mas sesuai yang ia inginkan.
"Oh iya makasih.."
"Kalau gitu saya permisi," ucap Diyah dan melangkah pergi.
Namun Rendra memanggilnya lagi.
"Tunggu..kok buru buru sih,"
Diyah pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Terus saya mau ngapain lagi, ini kan udah malam mas, saya juga mau istirahat kali,"
Rendra melangkah mendekati Diyah. "Gimana kalau kita makan sama sama,"
"Hah? maaf tuan..eh mas Ren..maaf tapi ini diluar tugas saya," Diyah langsung menolak karena ia tak ingin berlama lama di kamar laki-laki yang bukan mahramnya.
__ADS_1
"Kamu masih marah sama saya?"
"Nggak mas Ren, saya justru senang karena tadi Tante Sinta bahagia sekali dengan sikap baik mas Rendra. Tapi saya nggak bisa, mas..saya ini perempuan, tidak baik berlama lama disini, permisi!" jelas Diyah lalu ia melangkah pergi.
"Diyah.. bagaimana kalau saya menikahi kamu!" ucap Rendra menghentikan langkah Diyah.
Diyah salah tingkah dibuatnya. Ia tak sadar telah tersenyum di balik cadarnya. Namun seketika ia mengingat perkataan Elia yang selalu menyadarkan diyah tentang perbedaan status sosial yang tinggi.
"Saya anggap itu candaan, permisi mas," kali ini diyah benar benar pergi.
Rendra menghela nafas. Entah bagaimana lagi caranya agar ia bisa mengungkapkan pada Diyah kalau ia sangat nyaman di dekat Diyah.
Mardiyah masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu lalu melepas cadarnya di depan kaca. Ia merenung dan berbicara sendiri dengan dirinya di kaca.
"Ya Allah jangan sampai aku suka pada dia yang tidak mungkin aku miliki, aku juga tidak mengerti dengan perasaan ku, tapi jika benar rasa suka itu ada, tolong hapuskan ya Allah, aku tak ingin sakit karena ini,"
...**...
Pagi hari, keluarga pak Arif tampak sarapan pagi bersama. "Gimana kerjaan di kantor, lancar kan.." sapa mama Sinta memulai pembicaraan.
"Lancar ma!" jawab Rendra singkat. Seketika semua mata tertuju pada Rendra. Pak Arif terkejut melihat putranya menyebut Sinta dengan panggilan mama. Begitu pun Elia yang menatap tajam kakaknya. Elia tak habis pikir bagaimana mungkin Rendra berubah secepat itu.
Pak Arif tampak bangga Hinga ia tersenyum dan menepuk pundak Rendra.
Usai sarapan Rendra dan papanya bergegas ke kantor. Hal yang tak terduga terjadi lagi. Rendra mencium tangan mama tirinya hingga membuat semua yang melihat semakin terkejut. Pembantu di belakang juga ikut berbisik bisik melihat pemandangan yang amat jarang itu.
Tak terungkapkan lagi, Pak Arif merasa ini suatu kebahagiaan yang tak ternilai.
"Makasih ya nak, akhirnya kamu bisa menerima mama kamu,"
"Rendra sadar pa, benci ternyata tidak menghasilkan apa pun, wanita yang aku suka telah memberi aku banyak pelajaran,"
"Kamu punya pacar? pasti pacar kamu adalah orang yang luar biasa sampai kamu bisa berubah seperti ini,"
"Bukan pacar pa..wanita itu jelas tidak mau pacaran,"
"Siapa pun itu kamu harus tetap semangat ya, kalau pun belum dapat, papa doain semoga kamu mendapatkan wanita yang kamu maksud itu, dan kapan kapan kamu ajak dia main ke sini, papa mau kenalan,"
"Iya pa.." ayah dan anak itu tampak akrab mengobrol sembari berjalan ke arah mobil.
Sementara Diyah ternyata juga tak sengaja melihat itu. Rasanya ia semakin suka dengan perubahan yang ada pada Rendra. "Dia benar benar berubah," batin Diyah tersenyum melihat Rendra dari jauh.
__ADS_1