
Satu hari kemudian,,
Diyah telah sampai di kampung halamannya. Sebenarnya Elia mempekerjakan Diyah di sebuah restoran namun Diyah memilih untuk kembali ke kampung karena beberapa pertimbangan.
"Eh Mardiyah udah pulang nak.." sapa seorang ibu yang merupakan tetangga Diyah di kampung.
"Udah Bu..ibu gimana kabarnya?"
"Baik nak, tumben kamu pulang nak,"
"Iya nih Bu, kangen sama rumah,"
"Baguslah nak, biar rumah ini tidak terbengkalai, sepertinya di dalam udah agak kotor,"
"Iya Bu, kalau gitu diyah masuk dulu ya, nanti kita ngobrol ngobrol lagi," balas Diyah, ia pun memasuki rumah kecil yang dulu ia tinggali bersama sang ibu.
Seharian diyah membersihkan seisi rumah dan pekarangannya yang mulai kotor.
"Suasana kampung memang jauh beda ya, rasanya adem bangat," batin diyah sembari bersih bersih.
Diyah sedang menyapu halaman. Tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang kerap dijuluki Pria Idaman di kampung ini. Anak Kepala Desa memang sedikit populer meski wajah pas Pasan.
"Ehem... akhirnya kamu pulang juga Dek Mardiyah, udah lama abang tungguin kamu, gimana kabarnya?" sapa Budi, lelaki yang namanya sangat populer di buku paket anak SD.
Diyah menoleh ke belakang menatap orang yang datang ternyata Budi. "Eh bang Budi, iya bang, saya baru aja pulang,"
"Baguslah, sekarang Abang agak tenang,"
"Hah?"
"Maksudnya bagus kalau adik pulang, biar desa kita jadi lebih banyak penduduknya,"
"Oh..i-iya bang,"
"Kalau gitu aku permisi dulu bang, udah azan soalnya,"
"Oh iya dek..Abang juga mau ke mesjid kok,"
Diyah pun buru-buru masuk karena tak ingin berlama lama mengobrol dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
__ADS_1
Sore hari, Diyah melamun di teras rumahnya. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan jika ingin tinggal di kampung ini lagi.
"Gimana ya kalau aku tetap tinggal di sini, aku nggak ada kerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan ku," batin Diyah berpikir panjang dengan masa depannya.
Tak lama tetangga bernama Bu Ratna pun datang mengobrol dengan Diyah.
"Jangan ngelamun Mulu Mardiyah, masih anak gadis kok banyak pikiran," sapa Bu Ratna dan kemudian duduk di samping Diyah. Karena memang Bu ratna adalah tetangga yang paling akrab dengan diyah dan almarhumah ibu Diyah.
"Eh Bu Ratna..nggak kok Bu, aku cuma lagi mikirin kerjaan aja, kira kira aku bisa kerja apa ya kalau tinggal di kampung ini lagi?"
"Jangan khawatir diyah, kamu itu rajin, pasti banyak yang menerima kamu kerja di sini, oh ya gimana kalau kamu kerja di kebun kopinya pak Kades aja, pasti si Budi senang tuh," usul Bu Ratna.
"Tapi Bu, ibu kan tau bang Budi kadang agak aneh, aku nggak nyaman aja Bu,"
"Mau gimana lagi nak, kalau kerja di sana tuh gajinya lumayan loh, kerjaan kamu cuma metik kopi doang, kebunnya juga sejuk pemandangannya, orang pada berebut mau kerja di sana, tapi kalau kamu sih..ibu yakin si Budi pasti Nerima kamu dengan senang hati,"
"Benar itu! kamu Abang terima kerja di kebon kopi," ucap Budi yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana arahnya.
"Astaghfirullah...kaget aku bang, emang boleh ya bang Budi?" tanya Diyah menatap Budi.
"Boleh dong dek? nggak perlu seleksi karyawan dan nggak perlu ikut ujian, kamu Abang terima kerja, nanti Abang yang bilang sama papa, pasti kamu langsung bisa kerja besok,"
Keesokan harinya,,
Diyah pun mulai bekerja di kebun kopi untuk kali pertamanya. Tak bisa di pungkiri jika diyah masih saja teringat Rendra.
"Kira-kira mas Rendra sekarang lagi apa ya, semoga aja dia nggak marah karena aku pergi tanpa berpamitan sama dia," batin Diyah yang sedari tadi bekerja sambil melamun.
Sementara itu, Rendra tampak murung di rumahnya. Sejak perginya diyah hingga hari ini ia masih berdiam diri dan memikirkan Diyah di kamarnya. Rendra telah lelah mencari namun ia tak menemukan Diyah. Bahkan Elia pun tak bisa di hubungi.
"Nak Rendra.. sarapannya..bibi sudah bawakan," ucap Bi maryam sembari mengetuk pintu.
"Masuk aja bi," sahut Rendra dari dalam.
Bi Maryam pun masuk.
"Kok begini lagi nak Rendra, bukannya kemarin kemarin udah semangat ke kantor ya?"
"Entahlah bi, aku malas,"
__ADS_1
"Andai Mardiyah ada di sini, dia pasti marah sama nak Rendra kalau nak Rendra begini terus,"
"Diyah udah nggak perduli sama aku bi, buktinya dia pergi gitu aja,"
"Diyah pasti punya alasan kuat nak, lagi pula dia kan berhak menentukan pilihannya,"
Rendra terpikir sesuatu. Tiba-tiba ia teringat kalau bi Maryam pasti tau kampung halaman Diyah karena mereka dulunya satu kampung.
"Oh ya, bibi pasti tau alamat Diyah kan?"
Bi Maryam terdiam. Ia tak berani memberi tau karena sebelumnya Diyah melarang bi Maryam untuk memberitahu alamat nya pada siapapun.
"Bi..jawab Bi, tolonglah bi, aku janji nggak akan menyakiti diyah, aku cuma ingin ketemu diyah bi, aku ingin memastikan kalau dia baik baik saja,"
"Maaf, tapi bibi tidak bisa kasih tau karena sudah janji sama diyah,"
"Bi Maryam satu satunya yang paling tau tentang aku bi, bibi udah lama merawat aku dari kecil, apa bibi nggak kasihan sama aku, aku nggak bisa tanpa diyah bi," ucap Rendra berderai air mata memohon pada bi Maryam.
Bi Maryam pun tak tega melihat Rendra yang tampak bersungguh sungguh memohon untuk mendapat alamat Diyah.
...**...
Diyah sedang sibuk bekerja. Tiba-tiba Budi datang lagi. Seperti biasa ia pasti tak henti mencari cari perhatian diyah. Sudah bertahun tahun ia mengejar diyah bahkan jauh sebelum diyah bercadar.
"Ehem...dek...Aku di suruh nikah sama papa,"
Diyah terkejut tiba-tiba mendengar suara Budi. "Eh bang Budi, ada apa bang?"
"Aku di suruh nikah sama papa, menurut kamu gimana?"
"Ya bagus dong bang, Abang nikah aja,
"Emang kamu udah siap dek!"
"Maksudnya?"
"Dek...Abang sebenarnya kasihan loh liat dek Mardiyah sendirian di rumah, Abang pengen menjadi sayap pelindung dek mardiyah, Abang mau lamar dek Diyah," lanjut Budi dengan penuh percaya diri.
Siapa yang tidak kenal Budi di kampung ini, anak kepala desa yang terkenal dengan kegantengannya yang pas-pasan dan yang paling penting ia kaya. Tapi sayangnya diyah tak tertarik.
__ADS_1
"Maaf bang Bud, saya mau fokus kerja dulu ya, saya masih muda, jadi saya belum mau nikah, permisi bang," ucap Diyah dengan pelan dan langsung pergi melanjutkan pekerjaannya.