
"Jadi saya maunya kamu yang suapin saya," ucap Rendra sembari menatap diyah.
Diyah pun terkejut dengan ucapan yang aneh di telinganya. "Apaan sih tuan..kenapa harus saya sih, kalau emang tuan muda lapar, pasti akan makan sendiri," tegas Diyah yang kekeh tak mau menyuapi Rendra.
"Kamu kenapa sih, kalau sama Bruder itu kamu lembut, tapi kalau sama saya malah galak seperti ini," gerutu Rendra menatap tajam ke arah diyah.
"Ya terserah saya dong tuan, kenapa? tuan mau pecat saya? silahkan," tegas Diyah, pembantu yang satu ini memang tidak mempan dengan sikap kurang baik dari Rendra.
"Ya udah sini..biar saya makan sendiri," cetus Rendra sambil merebut makanan itu dari tangan diyah.
Diyah tersenyum lucu, akhirnya ia merasa menang saat berdebat dengan tuan muda.
"Kenapa kamu senyum?" tanya Rendra, karena senyum diyah tampaknya senyum menjatuhkan.
"Nggak..saya cuma senang aja, akhirnya tuan muda makin membaik," ucap Diyah sembari tersenyum manis.
Entah mengapa Rendra ikut tersenyum mendengarnya. Ia seolah tersanjung dengan kata kata diyah itu. Rendra berpikir bahwa diyah sangat perduli padanya.
"Dari mata mu saja nampak kalau kamu sedang tersenyum menatap saya, makasih loh udah ikut bahagia dengan kondisi saya yang membaik," ucap Rendra sembari menatap diyah.
'Apaan sih...jadi tuan muda kok gini amat ya, siapa juga yang perduli sama dia,'
Diyah pun membalas senyuman itu meski ia tak tulus dengan senyumnya.
Tuan muda tampaknya makan dengan lahap. Mungkinkah karena ada diyah yang menjaganya di sana. Diyah dengan sabar menunggu tuan muda makan.
Tiba-tiba terdengar suara Satria yang memanggil nama diyah. Tampaknya ia sedang berjalan menuju ke kamar Rendra.
"Diyah.." panggil Satria. Ia langsung menemukan diyah di kamar Rendra karena memang pintu terbuka lebar.
"Iya ada apa tuan?" sapa Diyah sembari berdiri menghadap Satria.
"Bisa tolong bantu saya, saya lagi nyari barang saya yang hilang di kamar," pinta Satria. Padahal di rumah itu banyak pembantu lain yang bisa ia suruh untuk mencari barangnya yang hilang.
__ADS_1
"I-iya tuan.. mari saya bantu," balas Diyah.
Namun Rendra tak mengizinkan diyah untuk pergi. "Kamu di sini aja diyah, ini sudah menjadi tugas mu untuk menjaga saya," tegas Rendra melototi Diyah. Diyah pun bingung harus bagaimana.
"Ren..nanti biar bruder aja yang jagain kamu, aku sama diyah nyari barang aku yang hilang dulu ya," ucap Satria pada adiknya.
"Nggak kak..lagian kalau kamu mau mencari barang mu yang hilang, kamu kan bisa minta tolong sama pembantu yang lain, kenapa harus diyah?" lanjut Rendra yang menahan rasa kesalnya.
"Karena diyah adalah pembantu yang harus aku jaga dan aku pantau," tegas Satria yang keceplosan mengucap yang sebenarnya.
Kening Rendra mengkerut mendengar itu. Tatapannya seolah keberatan dengan kata kata kakaknya itu.
"Apaan sih kak, kamu nggak ada hak atau kewajiban untuk menjaga diyah, Diyah itu pembantu milik ku, jadi tolong kamu jangan memerintah dia sesukamu kak," tegas Rendra dengan serius.
Diyah semakin bingung dibuatnya. Ia tak bisa berkutik ketika kedua bersaudara itu berdebat.
"Kamu kenapa sih Ren? kemarin-kemarin kamu yang selalu memarahi diyah, kenapa sekarang kamu malah bilang kalau diyah ini hanya boleh bersama kamu," Satria semakin terpancing dengan adiknya.
"Jangan ikut campur deh kak, mending sekarang kakak pergi aja," ucap Rendra seraya mengusir kakaknya.
Satria keluar dari kamar Rendra. Tinggallah diyah yang membisu karena bingung dengan adegan barusan.
"Maksud tuan apa sih? sejak kapan saya bekerja di sini hanya untuk menjadi milik tuan?" gerutu Diyah yang amat komplain.
"Udah..kamu nurut aja, itu perintah!" tegas Rendra dan lanjut makan.
"HM..ya Allah andai ada pekerjaan yang lebih manusiawi dari ini, saya merasa seperti bola yang di lempar ke sana kemari," batin Diyah seraya meratapi nasibnya.
Usai makan, Rendra mencoba berdiri untuk berjalan meski menggunakan tongkat. Ia menatap jendela kaca di kamar nya.
Diyah hanya terdiam melihat tuan muda di sana.
"Seharusnya kamu bersyukur diyah, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat saya mudah tidur setelah ibu saya, itu artinya kamu berharga buat saya," ucap Rendra sedang tatapannya masih ke arah kaca.
__ADS_1
"Hah? jadi saya harus bersyukur gitu?" batin Diyah
"Saya tidak tau hal spesial apa yang ada pada diri kamu, entah itu karena penampilan unik mu atau yang lainnya, yang jelas..kamu itu wanita spesial yang pernah saya temui," lanjut Rendra merenungi sejak kali pertama ia bertemu Mardiyah.
"Mungkin itu karena tuan merasa bersalah sama saya," jawab diyah yang asal jawab karena ia masih menyimpan rasa kesal pada tuan muda.
"Nggak..saya nggak merasa bersalah kok..mungkin ini adalah semacam rasa ingin memiliki, ada semacam rasa yang sangat kuat saat saya melihat kamu," lanjut Rendra yang tampak serius.
Diyah malah tertawa tanpa suara. Ia merasa tuan muda sedang drama.
"Tuan..malam udah makin larut, saya permisi ya, mau tidur," ucap Diyah seraya izin kembali ke kamarnya.
"Iya..kamu boleh pergi, makasih ya diyah," ucap Rendra sembari tersenyum.
"Sama sama tuan, saya permisi ya, assalamualaikum," diyah pun melangkah meninggalkan kamar tuan muda.
"Waalaikumussalam,"
**
Pagi hari yang cerah,
Rendra mencoba keluar ke teras rumah. Ia ingin menghirup udara segar karena semalam ia bisa tidur nyenyak setelah sholat isya dan menatap Diyah sebelum ia tidur.
Tak sengaja ia melihat diyah yang sedang dimarahi oleh Sari si pembantu senior di rumah ini.
"Kamu tuh udah mencemarkan nama baik pembantu tau nggak, ngapain malam malam kamu ke kamar tuan Rendra? kamu mau jual diri demi uang?" Sari tak henti mengomeli diyah di dekat jemuran kain.
"Astaghfirullah mba..nggak, mba jangan asal bicara gitu dong mba, saya ke sana karena di perintahkan," jawab diyah mengklarifikasi
"Halah..nggak usah sok alim deh, kamu memang penjilat kan," lanjut Sari melototi diyah.
Rendra tak tahan melihat perlakuan kasar dari pembantu bernama Sari itu. Ia buru-buru menemui Diyah dan Sari yang masih berdebat.
__ADS_1
"Apa apaan kamu Sari, kamu nggak punya hak untuk memarahi diyah, emamgnya kamu siapa? lagian kenapa kamu urus diyah sih, urus dirimu sendiri," tegas Rendra melototi. Sari hanya menunduk karena takut pada Rendra. "Maafin saya tuan muda, saya tidak bermaksud untuk memarahi, kalau gitu saya permisi," ucap Sari dan buru-buru pergi saking takutnya ia pada tuan Rendra.