
"Tuan Rendra belum tidur.." ucap diyah sembari mengetuk pintu kamar Rendra. Meski sedikit takut namun ia memberanikan diri untuk membantu tuan Rendra, terlebih karena Rendra telah menolongnya tadi.
"Belum..." sahut Rendra dari dalam kamarnya.
"Kenapa? susah tidur lagi?" tanya Diyah dari balik pintu.
Tak menjawab, Rendra malah langsung membuka pintu kamarnya dan melihat diyah yang berdiri di sana.
"Kamu mau ngapain sih? mau tidur sama saya?" tanya Rendra yang asal bicara.
"Astaghfirullah..nggak tuan, saya cuma mau bantu aja, tuan kan susah tidur, apa sudah mencoba cara yang saya katakan kemarin?"
"Nggak!"
"HM..kenapa nggak di coba?"
"Ngapain saya nurutin kata kata kamu," cetus Rendra dengan sikap dinginnya.
"Kan ini demi kebaikan tuan muda, ya udah kalau nggak mau, saya permisi ya," ucap Diyah dan melangkah pergi.
"Et..tunggu tunggu.." ucap Rendra menahan diyah untuk tidak pergi.
"Apa lagi.."
"Kenapa kamu perduli sama saya? kamu suka sama saya kan.." tanya Rendra sembari menatap Diyah.
"Hah? tuan muda kayaknya salah paham, saya hanya mengerjakan tugas saya, permisi," ucap Diyah dan buru-buru pergi meninggalkan tuan muda yang sedang kepedean itu.
***
Keesokan hari,
Pagi itu Nyonya Sinta sedang mengobrol dengan bi Maryam di belakang. Mereka kembali membahas tentang Mardiyah.
"Jadi selama ini mardiyah tidak tau tentang ayahnya bi?" tanya Sinta menatap bi Maryam tepatnya di ruang belakang.
"Iya nyonya, bahkan saya juga baru tau kalau ternyata diyah itu adalah keponakan nyonya, saya nggak nyangka kalau nyonya dan diyah masih punya hubungan darah," balas Bi Maryam. Keduanya tampak serius berbicara tanpa menyadari keadaan sekitar.
__ADS_1
Ternyata Satria ada di sana. Putra pertama Arif Pratama itu telah mendengar semuanya. Dari awal Satria memang sangat penasaran dengan gadis bercadar itu.
"Jadi pembantu bercadar itu keluarga mama?" tanya Rendra mengejutkan nyonya Sinta.
Bi Maryam buru-buru pamit karena ia tak ingin ikut campur urusan keluarga di rumah ini.
"Satria..sejak kapan kamu di situ?" tanya Mama Sinta dengan wajah paniknya.
"Aku dengar semuanya ma," Satria berjalan mendekati mamanya.
"Satria, mama mohon ...apa pun yang kamu dengar tadi, tolong jangan kasih tau siapapun, mama khawatir kabar ini akan sampai pada diyah, pasti dia akan marah sama mama," ujar mama Sinta seraya memohon pada putranya.
"Kenapa dia nggak boleh tau ma? apa yang salah dengan fakta itu, aku bisa menilai kalau diyah itu wanita baik baik, tapi kenapa mama malah jadikan dia pembantu di rumah ini?"
"Mama takut nak, mama takut kalau diyah akan bertanya tentang ayahnya, apa yang harus mama jawab, apa mama harus jujur kalau ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab," balas Mama Sinta dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Oke..aku ngerti, mungkin mama belum siap, tapi aku harap suatu saat mama bisa jujur sama diyah dan seluruh keluarga di rumah ini," ucap Satria sembari mengelus pundak mamanya.
"Makasih ya nak,"
"Iya sama-sama ma, oh ya ma, diyah itu beda dari perempuan lain, gadis itu baik, Solehah, dan sangat perduli pada sesama, sayang sekali dia menjadi pembantu di rumah ini," ujar Satria yang mengingat momen ketika ia melihat Diyah.
"Iya, insyaallah ma,"
**
Pagi ini Diyah mengetuk pintu kamar tuan Rendra untuk mengantarkan sarapan pagi. Namun ternyata pintu tak di kunci. Diyah mencoba membuka pintu itu.
Ternyata tuan muda sedang melamun di dekat kaca jendela. Bawah matanya sudah agak hitam bagai panda. Pasti dia tak tidur semalaman.
"Permisi tuan muda, ini ada sarapan," ucap Diyah menatap ke arah kaca.
Tak ada jawaban sama sekali, bahkan rendra tak merespon. Entah apa yang membuatnya terdiam seperti ini bagai seorang yang bertapa.
"Tuan..apa anda baik baik saja?" tanya Diyah lagi, ia semakin khawatir melihat kondisi tuan muda.
apa tuan muda kesurupan ya, astaghfirullah iya..mungkin saja dia kemasukan jin,
__ADS_1
Diyah pun langsung melakukan pertolongan pertama pada pasien kesurupan. Ia benar-benar panik melihat tuan muda mematung seperti ini.
Diyah buru-buru mendekat ke arah tuan muda, ia membacakan surah Al-fatihah, al-Falaq, Al-Ikhlas lengkap dengan ayat kursi. Sambil ia percikkan air ke wajah tuan muda.
Rendra benar-benar terkejut dengan percikan itu. "Woi..apaan sih!" cetus Rendra saat ia telah tersadar dari lamunannya.
"Tuan muda nggak pa pa kan?"
"Emangnya saya kenapa? saya baik baik aja, kamu yang kenapa..kenapa kamu siram wajah saya?" tanya Rendra melototi Diyah.
"Maaf tuan, tadi saya kira tuan sedang kesurupan, habisnya Tuan tadi mematung kayak nggak sadar gitu," ucap diyah sambil menundukkan kepalanya. Lagi lagi ia di marahi tuan muda yang satu ini.
"Kamu baru kerja di sini tapi udah banyak merugikan saya, niat kerja nggak sih!" bentak Rendra mengejutkan Diyah.
"Iya saya tau..saya minta maaf!" ucap Diyah lagi.
"Saya bosan dengar kata maaf dari kamu!"
Tiba-tiba Satria datang ke kamar Rendra itu, ia mendengar suara amukan Rendra hingga ia langsung masuk ke kamar adiknya itu.
"Rendra..bisa nggak sih kamu nggak kasar sama pekerja di rumah ini, diyah itu perempuan, tidak pantas kamu perlakukan seperti ini," tegas Satria seolah membela Mardiyah di hadapan Rendra.
"Nggak usah ikut campur deh kak," balas Rendra melototi kakaknya.
"Udah..udah..tuan Satria..saya yang salah kok, saya pantas di marahi, saya sudah mengganggu tuan Rendra," ucap diyah mengklarifikasi pada satria.
"Diyah..kamu nggak usah membela Rendra, apa pun alasannya, tidak pantas Rendra memperlakukan kamu seperti itu, ya udah mendingan kamu ikut saya keluar!" ucap Satria menatap Diyah yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Kemana tuan?" tanya Diyah
"Udah..kamu ikut aja, sekarang kamu ganti pakaian ya, saya tunggu kamu di depan," suruh Satria.
Diyah hanya akan menuruti itu, ia merasa ini adalah bagian dari pekerjaannya.
"Tuan Rendra.. saya permisi ya, sekali lagi saya minta maaf," ucap Diyah sebelum ia pergi.
Rendra tak menjawab. Namun ia seolah merasa tidak senang ketika satria mengajak diyah untuk keluar.
__ADS_1
Diyah sudah melangkah, namun tiba-tiba ia berhenti karena ingin mengatakan sesuatu pada rendra. "Tuan..jangan berlarut larut dalam masalah, jangan buat hati tuan lelah," ucap diyah, setelah itu barulah diyah benar-benar pergi.