
Nining sangat terkejut mendengar ucapan Sri yang begitu mengagetkan. Dia tidak menyangka kalau Sri begitu memperhatikan dirinya. Namun, Nining tidak tahu saja di balik perhatiannya itu menyimpan sebuah racun yang sangat mematikan.
Nining tersenyum. Memang apa yang dikatakan Sri itu benar, tapi tidak semudah itu mengakhiri sebuah pernikahan. Apalagi untuk berada di tahap bukanlah sebuah proses yang mudah. Mereka harus bersusah payah meyakinkan kedua orang tua kalau mereka mampu menjalani hidup rumah tangga di usia yang masih tergolong muda.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Sri heran begitu melihat sebuah ketenangan di wajah saingannya itu.
"Aku percaya sama Mas Dony. Mas Dony hanya sedang khilaf saja dan aku yakin setelah dia sadar, dia pasti akan kembali kepadaku. Kita saling mencintai dan kita mempunyai proses yang sangat panjang untuk bisa berada di tahap ini. Kita saling mencintai dan aku yakin sampai sekarang pun Mas Dony masih mencintaiku. Terima kasih karena kamu sudah perhatian sama aku."
"Mana ada cinta tapi gak percaya sama omongan kamu, Mba? Harusnya kalau dia cinta Mba, dia percaya Mba. Bukannya menuduh yang enggak-enggak. Dony itu udah keterlaluan. Masa cuma gara-gara baju dia sampai nuduh kamu selingkuh, sampai pergi dari rumah berhari-hari lagi. Gak ngabarin jugakan? Dia itu kayak anak kecil tau nggak? Kalau cowok masih kekanak-kanakan, gak pantas dijadian suami. Nantinya dia bakal kayak gitu terus." Sri masih memprovokasi Nining agar Nining meninggalkan Dony.
Nining kembali tersenyum karena dia lebih tahu sifat suaminya daripada Sri yang menjadi musuh dalam selimut.
"Aku capek mau istirahat. Lagipula ini udah malam, aku mau tidur dulu, ya?" usir Nining perlahan mulai bangkit menuju kamar.
Sri tersenyum kecut dia tidak menyangka kalau Nining tidak terpengaruh dengan ucapannya.
"Dikasih tahu … bukannya terima kasih, malah ngusir. Dasar gak tahu balas budi. Awas, ya, kamu, Mba. Sekarang saya gagal, tapi lihat saja nanti. Saya pasti akan buat kalian berpisah. Saya punya banyak cara untuk membuat cinta di antara kalian hangus tak berbekas," bisik batin jahat Sri. Dia pun pergi dengan dongkol, menyambar gelas berisi gula dengan kasar.
Sri menuju pintu dan membantingnya keras. Nining sampai kaget dan beristighfar.
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa dia? Apa aku terlalu kasar mengusir dia? Padahal aku udah berusaha sesopan mungkin." Nining menjadi tidak enak sembari melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
***
__ADS_1
"Eh, ada Sinta lho. Dia makin cantik, ya, sekarang?"
"Iya. Beda banget waktu masih pacaran sama Dony, dekil dan kurus kering."
"Iya, bener. Kabarnya waktu mereka pacaran, Dony sering kasar sama Sinta. Suka disuruh-suruh, dibentak-bentak. Kasihan banget dia."
"Untung gak jadi nikah sama Dony, yah? Kalau jadi nikah, gak tahu, deh, nanti dia bakal jadi kayak apa."
“Iya, bener.”
Nining tidak sengaja mendengar ucapan tetangganya yang sedang membicarakan Dony—suaminya. terdengar menyakitkan karena nama baik suaminya ternoda karena masa lalu itu.
“Eh. Aku juga pernah denger kalau Sinta sempat hamil sama Dony tapi disuruh digugurin sama si Dony brengsek itu. Dasar brengsek banget, ya, itu orang. “ Terdengar pembicaraan mereka bersambung lagi.
“Bener. Santer banget waktu itukan beritanya. Apalagi sikap Dony yang pemarah dan suka mukul makin membuat Sinta babak belur. Pernah aku lihat wajah Sinta pucat dan kayak lebam gitu, Bu.”
“Dipukul sama Dony pasti itu. Dasar cowok gak tahu diuntung. Udah punya cewek sebaik dan secantik Sinta masih aja gak bersyukur.” Obrolan pun semakin seru, membuat hati Nining semakin tidak karuan. Gelisah, marah dan sedih bercampur menjadi satu.
Lama-lama Nining tidak tahan untuk terus mendengar ghibahan mereka. Dia pun ingin segera meninggalkan mereka yang tidak tahu kalau ada dirinya di balik tembok yang tipis.
“Katanya penyebab Sinta ninggalin Dony itu karena Nining, istrinya sekarang.” Tiba-tiba namanya ikut terseret dalam pembicaraan itu membuat Nining kembali terdiam. Kali ini bola mata indahnya seketika membulat dan kaget. Kenapa dia dibawa-bawa?
“Iya, saya juga dengar. Dony nuduh Sinta selingkuh, makanya Sinta gak terima dan milih pergi ninggalin Dony. Jadi kesannya Sinta yang putusin Dony, padahal Dony yang cari masalah biar bisa putus sama Sinta.”
__ADS_1
“Ih, kasihan, ya, Sinta. Gara-gara tergoda sama perawan desa, pacar sendiri difitnah dan disakiti.” Semakin panas ucapan para tetangga. Entahlah dosa apa Dony terhadap mereka sampai-sampai mereka dengan tega membicarakan masalah Dony yang bukan menjadi urusan mereka.
Panas telinga Nining mendengarnya. Dia tak tahan ingin segera melangkah meninggalkan mereka, tapi kakinya seakan menolak semua itu. Kakinya dan tubuhnya merasa penasaran dengan pembicaraan mereka kembali tentang aib Dony yang belum Nining tahu sebelumnya.
‘Mas Dony gak pernah cerita tentang Sinta. Katanya Mas Dony gak pernah punya mantan, tapi kenapa mereka bilang seperti itu?’ batin Nining bingung.
“Iya, Nining juga kegatelan. Udah tahu udah punya cewek, masih aja mau dilamar. Waktu itukan gak lama Dony nglamar Nining. Gak tahu ada daya tarik apa sampai-sampai Dony langsung nglamar Nining yang baru dia kenal setahun. Padahal sama Sinta yang udah lama dia pacari, cuma dielus-elus doang, dinikahin, mah, kagak. Kasihan, ya, Sinta.”
“Punya pelet itu Nining. Kalau gak punya, pasti Dony gak mungkin nempel sama dia. Orang sama Sinta aja cantikan sinta. Masa iya Dony lebih milih cewek jelek daripada Sinta yang cantiknya gak ketulungan,” sambung yang lain.
“Benar-benar.”
Nining sudah tidak sabar. Nama baiknya ikut rusak juga akibat mulut tetangga yang tidak ada saringannya. Kali ini dia sudah tidak sabar, dia pun segera meninggalkan sisi tembok pembatas yang berdekatan dengan kumpulan para ibu-ibu tukang gosip.
“Mba Nining. Mba mau ke mana?” tegur Sri ketika melihat Nining Nining buru-buru masuk. Dia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh.
Walaupun dia masih kesal dengan tetangga belakang rumah, dia mencoba tetap ramah pada siapa pun. Sri mendekat. Kebetulan dia juga mendengar obrolan yang menjelek-jelekkan nama Dony dan Nining.
“Mba, tadi aku denger tetangga pada gosip. Masa iya katanya Mba Nining itu punya pelet. Dasar, ya, itu mulut tetangga harus dimasukkin cabe sekilo biar gak salah ngomong. Kalau tentang Dony, sih, emang bener. Dia emang suka main tangan sama fitnah gak jelas. Awalnya saya gak percaya sama gosip itu. Ternyata Dony ngaku sendiri sama saya kalau dia udah fitnah Sinta biar bisa lepas dari tanggung jawab. Gak nyangka banget saya. Sabar, ya, Mba,” cerocos Sri dengan wajah penuh kelicikan membuat Nining semakin sedih dan sakit.
Dijauhkannya dia dengan Dony apakah ada hubungannya dengan aib yang terbongkar ini?
‘Apa Mas Dony seburuk itu? Apakah sekarang juga dia lagi deketin cewek lain makanya dia fitnah aku dan gak mau pulang?’ kata Nining dalam hati.
__ADS_1