Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
16


__ADS_3

“Ah, mungkin ini anak iseng aja. Tadi siang ada banyak anak kecil main di depan rumah, pasti mereka yang iseng.” Nining selalu berpikiran positif. Tak pernah menduga ada yang ingin membuatnya celaka.


Nining pun memperhatikan bagian mana saja yang rusak. Dia pernah diajari temannya tentang servis barang-barang dan dia pun sedikitnya tahu memperbaiki barang-barang yang rusak sedikit.


“Ada tiga baut yang copot. Kayaknya aku ada baut yang sama, deh. Aku ambil alat pertukangan dulu, deh.” Nining mengambil satu tas alat tukang kepunyaan Dony.


Sesaat bayangan Dony yang sedang memperbaiki alat-alat yang rusak terbayang di mata. Biasanya dia akan duduk sambil memperhatikan Dony yang nampak serius memperbaiki alat yang rusak tersebut. Namun, Dony akan iseng pada Nining yang terlalu fokus sampai-sampai dia tidak sadar kalau Dony tengah memperhatikan dirinya.


“Serius amat ngliatinnya. Sama suami sendiri gak pernah dilihat seserius itu,” ledek Dony.


“Iya, habis penasaran.”


“Kalau sama suami sendiri gak penasaran?” pancing Dony yang sudah selesai memperbaiki.


“Penasaran sama apanya? Kan udah dilihatin semuanya. Ups,” jawab Nining tanpa sadar. Menyadari Dony tak lagi mengutak-atik alat elektronik, Nining segera menutup mulutnya yang berkata terlalu vulgar.


“Ha ha ha. Ayo ... apa yang dilihat?” ledek Dony semakin senang. Dia bahkan mendekati Nining lalu menggelitik tubuhnya hingga Nining terkapar geli di pangkuan Dony.


“Udah-udah. Ampun. Aku nyerah. Jangan digelitik lagi, nanti perutku sakit.” Nining menyerah jika digelitik, Dony pun mengakhiri candaannya.


Kini mereka saling berpandangan. Menatap penuh cinta pasangan halal yang selalu menciptakan rindu dan bahagia.


“I love you, Sayang. Aku sangat mencintai kamu. Jangan pernah tinggalkan aku, aku gak sanggup hidup tanpa kamu.” Ucapan Dony kala itu sungguh manis. Namun, berbanding terbalik dengan kenyataan.


Hanya karena baju, dia tega menuduh Nining yang tidak-tidak. Dia pun sampai sekarang tidak mau pulang bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Nining sedih dan terluka mengingat semua itu. Apalagi saat foto Dony bersama wanita lain dia lihat dari pesan orang tidak dikenal. Itu sebuah luka yang sangat pedih.

__ADS_1


“Gak! Aku gak boleh ingat sama Mas Dony lagi. Dia aja bisa hidup tanpa aku, aku juga pasti bisa hidup tanpa dia,” tekad Nining. Semua bayangan indah tentang Dony dia tepis. Meski tak mudah, dia berusaha.


Nining mulai serius memperbaiki jemuran bajunya. Hingga tengah malam, akhirnya dia pun berhasil membuat jemuran bajunya kembali membaik bahkan sekarang lebih kokoh karena sudah dikencangkan.


***


Pagi-pagi Nining mengeluarkan jemuran yang sudah dia isi dengan baju-bajunya. Tak ada baju basah di sana, mungkin karena tidak ada jemuran lipat kepunyaan Nining yang biasa dia simpan di depan, sehingga yang biasa menjemur tidak berani datang.


Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Dua hari setelah kejadian itu, jemurannya kembali ada yang memakai. Lama kelamaan Nining penasaran dengan pemilik baju itu. Kenapa dia nekad menjemur baju di halaman rumah serta jemuran besi miliknya.


“Aha, aku punya ide. Ini masih subuh, aku akan keluar untuk menjemur baju. Siapa tahu aku tahu siapa yang sudah menjemur baju di halaman rumahku.” Nining pung segera menyelesaikan cuci bajunya dan segera keluar untuk menjemur.


Ceklek


Terlihat seseorang tengah mengambil jemuran lipat milik Nining dan akan diletakkan di depan halaman yang terkena sinar matahari.


“Eh, Mba Nining. Udah bangun, Mba?” jawab dia sedikit malu.


“Udah. Ngapain Mba di sini?” tanya Nining sekali lagi dengan intonasi tegas.


“Ehm, ini. Jemuran saya rusak, jadi saya numpang jemur baju di sini. Gak pa-pakan, Mba? Mba jemur bajunya nanti aja kalau punya saya udah kering. Kan kalau Mba yang punya, jadi kalau sampai malam juga gak masalah. Kalau saya yang pinjem tapi sampai malamkan gak enak. Gak pa-pakan, Mba?” sautnya santai. Tanpa ada permintaan maaf ataupun menyesal, dia menanggapi pertanyaan Nining tanpa rasa malu.


Sri—wanita itu. Dia melanjutkan menjemur bajunya hingga habis padahal Nining belum mengizinkan. Sungguh mengesalkan. Nining geram, tapi dia diam. Dia hanya ingin Sri mengerti kalau raut wajahnya menunjukkan penolakan. Ternyata Sri tidak peduli.


“Terima kasih, Mba. Saya pergi dulu.” Sri pamit pulang setelah semua barang-barangnya di jemur di halaman rumah Nining beserta jemuran besi miliknya. Tanpa melihat wajah Nining, Sri segera meninggalkan rumah Nining.

__ADS_1


Sesampianya di rumah, dia tertawa terbahak-bahak.


“Ha ha ha. Hari ini saya ketahuan ... tapi gak pa-pa. Karena aku bisa lihat wajahnya yang sangat kesal tapi gak berani protes. Wajahnya marah tapi diem aja. Dasar Oon. Kalau saya yang jadi Nining, saya pasti akan marahi dia habis-habisan. Bila perlu masukin ke penjara biar kapok. Enak aja pinjem tapi gak kenal sopan santun.” Sri begitu bahagia menertawakan Nining yang sangat baik.


Selain Nining, Sri pasti akan kena masalah. Mana ada orang yang diam saja melihat barang miliknya dipinjam orang lain padahal dia sendiri sedang butuh. Nining memang baik dan tidak ada duanya.


***


“Jadi selama ini yang numpang jemur di depan itu Sri? Kenapa dia gak ngomong? Harusnya dia ngomong jadi aku tahu. Eh, tunggu. Bukannya jemuran miliknya masih bagus, ya? Kenapa dia bohong?” Nining mulai curiga. Dia yang awalnya menerima begitu saja, kini mulai tidak rela. Alasan Sri terlalu mengada-ada, Nining tidak percaya.


“Aku harus susun rencana agar bisa menjemur di pagi hari dan malamnya bisa dilipat. Kalau kayak gini terus, baju-bajuku gak kering-kering. Sore hujan, pagi dipakai. Gak bisa dibiarin. Aku harus gimana, dong, ini?” Nining mencari ide yang bagus tanpa harus menolak Sri terang-terangan.


“Aha. Aku punya ide. Semoga ide ini berhasil.”


Nining mempunyai ide bagus, dia pun menerapkannya di pagi hari. Tepat setelah shalat subuh, Nining keluar untuk menjemur baju. Dia harap bisa menjemur baju di pagi hari agar sore bisa kering.


“Mba Sri? Ngapain di sini?” tanya Nining begitu melihat Sri di depan rumahnya.


“Eh, Mba udah bangun. Ini, Mba. Jemuranku masih belum bener. Aku numpang jemur di sini, ya, Mba? Mba jemurnya sore aja. Kalau pagi giliran aku pinjem, ya, Mba. Terima kasih.” Tak peduli dibolehkan atau tidak, Sri langsung memasang jemuran besi lalu menjemur bajunya hingga selesai.


“Udah selesai, Mba. Aku pamit dulu, ya. Terima kasih, Mba.” Sri pergi dan membiarkan Nining bengong.


Nining tidak bisa berkata apa-apa. Dia seperti disihir. Tak ada penolakan walaupun dia keberatan. Nining merutuki dirinya sendiri.


“Bego-bego-bego. Kenapa aku biarkan dia menjemur bajunya lagi? Harusnya aku bisa menolak. Aduh ... gak kering lagi,” keluh Nining menyesali semuanya.

__ADS_1


“Eh, tunggu. Aku ada cara lain. Aku yakin besok akan berhasil.”


__ADS_2