Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
12


__ADS_3

Pikiran Nining masih sadar, dia pun kembali tersenyum.


“Mana ada yang kayakgitu? Itu cuma mitos. Kalau kita dekat sama orang yang lagi kena karma, ya, kita bantu, dong. Doain biar karmanya segera selesai dan dia taubat,” jawab Nining membuat Sri kesal.


Bukan itu yang diharapkan Sri, tapi kenapa gagal. OK. Sri punya cara lain untuk melancarkan niat busuknya.


“Gitu, ya? Semoga aja bener, ya, Mba. ya, udah. Saya pamit dulu. Masih ada kerjaan di rumah.” Sri pun meninggalkan rumah Nining dengan seringai licik. Ada rencana B yang harus dia lakukan.


Nining masuk dan mengurus kembali piring kotornya. Sambil bersenandung merdu, Nining menyanyikan lagi kesukaannya tentang orang yang sedang jatuh cinta.


“Permisi. Paket,” teriak seseorang dari luar. Kembali membuat pekerjaan Nining tidak selesai.


“Paket? Perasaan aku gak pesan online. Pasti salah tempat,” gumam Nining. Walaupun tahu itu bukan miliknya, Nining tetap meninggalkan cucian kotornya untuk membuka pintu.


“Dengan Ibu Nining?” tanya kurir tersebut.


“iya, benar.“


“Ada paket, Bu. Tolong tanda tangan di sini. Silahkan diterima. Permisi,” pamit kurir tak ingin berlama-lama agar paketnya cepat terkirim semua.


“Paket? Dari siapa? Aku gak pernah pesan online.” Nining bingung tapi tetap membukanya.


Sebuah kotak HP dan ada tulisan di atasnya.


“Oh, ini HP-ku yang kemarin aku servis. Hebat banget sampai bisa tahu alamat lengkapku. Aku cek dulu, deh. Siapa tahu masih ada yang rusak.” Nining pun mengecek ponselnya dengan seksama. Mulai dari kontak telepon, isi pesan sampai memori kartu maupun internal ponsel.


“Alhamdulillah sudah bener semua.” Nining sangat senang menerima ponselnya lagi. Seketika itu dia langsung ingin menghubungi Dony. Bagaimanapun juga mereka masih suami istri dan seharusnya tidak berlama-lama bertengkar.

__ADS_1


Tring


Belum sempat Nining mengirim pesan, masuk sebuah pesan dan Nining pun langsung membukanya.


Ternyata pesan gambar dari nomor tidak dikenal. Sungguh, Nining yang sudah melupakan gonjang-ganjing masa lalu Dony kembali terhenyak oleh foto itu. Foto yang menunjukkan dua orang sedang berpelukan, bahkan bibir mereka hampir menyentuh. Siapa lagi kalau bukan Dony dan seorang wanita yang tidak Nining kenal.


Hancur redam hati Nining. Sekuat tenaga dia membela Dony dalam hati, menangkis semua pikiran buruk ternyata Tuhan mengirimkan sebuah bukti yang sangat nyata.


“Enggak! Enggak mungkin Mas Dony tega mengkhianati aku. Kita saling mencintai mana mungkin dia tega selingkuh di belakangku? Ini pasti bohong. Ini bohong,” tepis Nining tidak percaya.


Tubuhnya seketika roboh ke lantai. Foto itu membuat tenaga serta harapannya luluh lantak. Tak menyangka kalau suaminya tega menduakannya.


“Mba Nining. Mba Nining kenapa?” jerit Sri yang kebetulan lewat depan pintu. Pintu rumah Nining masih terbuka dan Sri melihat wanita itu tengah duduk dengan lemas.


“Ya Tuhan. Jahat banget Mas Dony. Dia selingkuh, Mba? Mba yang sabar, ya?” sungut Sri ketika melihat foto itu masih terlihat di layar ponsel Nining. Ini kesempatan bagus untuk membuat api kebencian di hati Nining berkobar hebat.


“Mba. Mba yang sabar, ya? Mba harus kuat. Jangan nangis demi cowok brengsek kayak Mas Dony. Masih banyak cowok yang baik di luar sana. Tinggalin aja cowok yang kayakgitu, dia gak pantes buat Mba. Mba wanita sempurna, Mba pantas dapat cowok yang jauh lebih baik dari Mas Dony. Sabar, Mba,” hibur Sri sekaligus membuat kebencian di hati Nining.


Tak terasa air mata luruh dari kedua kelopak matanya. Sesak dada Nining, tapi Nining tak bisa mengumpat atau menumpahkan sumpah serapah seperti kebanyakan orang.


“Mba, biar saya bantu ke kamar. Mba butuh istirahat yang cukup. Udah, Mba. Jangan pikirin Mas Dony yang jahat itu. dia gak pantes buat Mba pikirin. Udah, biarin aja dia pergi sama cewek kegatelan itu. Dia pasti nanti dapat karma dobel. Udah nyakitin Sinta sama nyakitin Mba Nining.” Sri memapah tubuh Nining hingga dia sampai di kamar.


Walaupun suara Sri melengking keras disertai ocehan tidak bermanfaat, Nining tak bersuara. Tetap tidak percaya dengan semua yang dia lihat. Dia masih mengharapkan kalau semua itu hanya mimpi semata. Setelah dia bangun, Dony akan tersenyum di samping tubuhnya, kembali padanya dan bersikap manis seperti dulu.


***


Dony masih belum pulang. Dia masih marah pada Nining karena foto itu. Walau begitu, dia tidak pernah sedetik pun merindukan istri tercintanya tersebut.

__ADS_1


“Jujur. Aku masih belum percaya kalau kamu tega menduakan aku, Nining. Apa salahku sampai-sampai kamu tega memilih dia daripada aku? Bahkan, sampai detik ini kamu sama sekali gak hubungi aku. Apa kamu benar-benar udah lupa sama aku?” lirih Dony sembari mengusap wajah Nining yang dia pandangi lewat ponselnya.


“Dony. Makan, Sayang. kamu sejak kemarin belum makan,” tegur Eni dari balik pintu semabri mengetuk kamar Dony.


Semenjak Nining pergi dari rumahnya dua hari lalu, Dony sama sekali tidak berselera makan. Bahkan hanya untuk menenggak minum saja rasanya sulit sekali untuk disuruh. Dia seperti puasa, tapi tidak ada niat sama sekali. Eni sebagai ibunya khawatir Dony akan jatuh sakit jika dibiarkan seperti itu terus.


“Dony gak laper, Bu. Ibu sama Bapak aja yang makan.” Lagi-lagi Dony menolak.


Hati ibu mana yang tega melihat buah hatinya menderita. Dia ingin membantu, tapi dia sendiri tidak tahu permasalahan apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.


Mendengar penolakan dari sang anak, Arya yang sedang duduk di ruang makan lalu mendekat. Dia sangattahu bagaimana perasaan istrinya sekarang.


“Sayang. Biarkan dulu Dony sendirian. Dia sudah besar, sudah tahu mana yang baik untuknya dan mana yang tidak. Beri dia kepercayaan.” Mengusap pundak istrinya yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.


“Tapi, Pak. Sejak kemarin Dony gak mau makan. Apa Bapak mau Dony sakit?” protes Eni.


“Bu. Dony bukan anak kecil yang akan sakit kalau satu dua hari puasa. Siapa tahu kalau Dony sedang puasa agar masalahnya cepat selesai,” duga Arya.


“Puasa gimana? Orang dia gak sahur, bukan bulan puasa juga, Pak. Bapak ini ngaco. Dony gak mau makan pasti karena mikirin Nining. Ibu jadi penasaran. Sebenarnya mereka ada masalah apa sampai-sampai Dony pergi dari rumah. Jangan-jangan—“ Eni mulai berpikiran yang tidak-tidak.


“Istighfar, Bu. Nining menantu kita itu orang baik. Tidak mungkin kalau dia berbuat jahat pada anak kita, apalgi berbuat macam-macam. Sudah, kita doakan saja semoga masalah mereka cepat selesai. Sebagai orang tua kita hanya menasehati, biar mereka yang memilih dan menjalani. Ayo kita makan lagi.” Arya pun mengajak paksa istrinya yang masih belum rela melihat Dony mengurung diri di kamar.


Sementara itu Dony merasa bersalah mendengar kedua orang tuanya memikirkan dirinya. Namun, dia juga tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya. Apalagi dia juga masih ragu dengan semua yang dia pikirkan.


“Aku sayang sama kamu, Nining. Gak ada wanita lain di hati ini selain kamu. Apa kamu juga memikirkan aku seperti aku memikirkan kamu? Atau ... aku pulang saja? Bicarakan semuanya baik-baik?” Dony mulai tidak kuat lama-lama berjauhan dengan Nining.


Akankah rencana Sri berhasil untuk memisahkan mereka berdua? Atau mereka akan kembali mesra sebelum badai itu datang menghancurkan kepercayaan?

__ADS_1


__ADS_2