
Nining masih lemas. Nining tidak menyangka kalau Dony akan memeluknya erat serta merasa sedih dan menyesal. Nining merasa tidak enak. Ini kedua kalinya dia mengerjai Dony.
“Mas. Maafin aku. Aku cuma bercanda. Aku gak selemah itu, aku masih sehat lahir batin,” seru Nining lembut. Ada rasa takut mengingat kejadian kemarin, dia juga mengerjai Dony.
“Kamu kenapa gak denger ucapan Mas? Mas takut kamu kenapa-kenapa. Pokoknya kamu jangan bercanda kayakgitu lagi. Janji?” Dony mengultimatum, tak mau kejadian serupa terulang lagi.
Nining tersenyum lalu kembali bermanja pada suaminya. Memeluknya dengan manja serta menggodanya agar melupakan segala yang terjadi di antara mereka. Mereka pun melupakan makan malam mereka, setidaknya sampai jam sepuluh malam. Apalagi kalau menghabiskan malam bersama sebagai bentuk penyesalan.
“Sayang. Ayo kita makan? Kamu pasti lapar,” ajak Dony yang melihat Nining benar-benar capek dengan apa yang mereka lakukan.
“Aku siap-siap dulu kalau begitu.” Nining duduk sedikit doyong, Dony merasa tidak enak.
“Tunggu sebentar.” Dony segera ke kamar mandi untuk mengatur air hangat yang akan digunakan untuk mandi Nining. Dia tak mau Nining sakit gara-gara mandi air dingin, apalagi di sini udaranya cukup dingin.
Selesai mandi, kini Nining sudah berubah cantik. Dony semakin terpesona dengan kecantikan alami Nining. Mereka kembali menikmati makan malam romantis. Kali ini bukan di sisi pantai, tapi di dalam ruangan. Cuaca tidak mendukung karena sedang banyak angin.
Tetap candle light dinner, dengan mesra mereka menikmati suasana makan malam yang romantis.
***
Satu minggu sudah berlalu, rasaanya masih belum ikhlas jika harus pulang. Nining terus memandangi kamar tempatnya meningap. Selama satu minggu, banyak sekali yang terjadi di tempat itu.
Dony memeluk Nining dari belakang. Melihat istrinya masih enggan pulang, Dony mencoba menghibur. “Kamu masih ingin liburan di sini?”
“Mas Dony. Enggak. Aku cuma lagi mengingat-ingat semua yang terjadi di sini selama satu minggu terakhir. Indah banget.” Nining membalikkan badannya, menatap mata tajam sang suami. “Jangan pernah berubah dan tetaplah mencintaiku walaupun nanti aku udah menua, jelek, rewel dan pikun.”
Dony membingkai wajah Nining dan menatap sorot indah yang selalu dia rindukan. “Mas gak akan berubah, Sayang. Cinta Mas hanya untuk kamu. Walaupun nanti kamu pikun, jelek dan gemuk, hati ini sudah diikat di hatimu.” Dony menunjuk dada Nining sebagai tanda hati dan cinta yang telah tertanam dan tak akan pernah mati.
“Terima kasih.” Nining memeluk hangat suaminya. Begitupun dengan Dony. Pelukan kasih sayang dan pengertian sepasang suami istri yang berjanji setia sampai mati.
__ADS_1
Mereka pun siap membawa baju-baju mereka dalam koper besar. Tentu saja Dony yang mambawanya, sedangkan Nining hanya membawa tas kepunyaannya sendiri.
“Mas. Sebelum pulang, bisa tidak kita beli oleh-oleh?” Tak umum rasanya kalau jalan-jalan pulang dengan tangan hampa.
“Tentu. Kamu mau beli oleh-oleh apa?” Dony melihat ponsel lalu melihat tempat oleh-oleh khas Bali.
“Ini, nih. Deket dari sini. Sebelum cek out, kita titip dulu kopernya di resepsionis.”
***
Berjalan kaki menuju tempat oleh-oleh, kaki Nining terasa pegal, Dony melihatnya tidak tega. Tanpa aba-aba, Dony segera menggendong tubuh kecil istrinya itu.
Nining kaget karena tubuhnya diangkat, dia berusaha berontak untuk turun, tapi kalah oleh tenaga Dony yang besar. “Mas. Turunin. Malu tahu.”
“Malu kenapa? Kita kan suami istri, ngapain malu?” Dony tetap menggendong Nining hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Banyak sekali oleh-oleh khas Bali di sana. Nining dan Dony sampai bingung harus pilih yang mana. Akhirnya dia membeli beberapa untuk keluarga mereka di rumah dan tentunya tetangga dan teman dekat saja.
***
“Huh. Lumayan mereka belum pulang. Sebenarnya bosan juga menjemur di sini, tapi mumpun ada yang gratis, kenapa ga.” Sri menggumam sambil menjemur bajunya satu per satu.
Kring
Telpon Sri berbunyi, terpaksa Sri menghentikan aktivitasnya. Ternyata yang telpon Lucky—suaminya.
“Mas Lucky. Ngapain dia telpon? Bukannya dia ada di laut?” Sri malas dan kesal melihat nama itu menelponnya. Tentu saja yang dia inginkan Dony yang menelpon.
“Gak ah. Aku malas angkat. Biarin aja.” Sri tidak mengangkatnya malah mematikan nada suaranya agar tidak terdengar Lucky menelponnya terus.
__ADS_1
Sampai selesai menjemur, Lucky masih menelpon juga. Akhirnya, Sri pun mau tak mau mengangkat telponnya.
“Iya, Mas. Ada apa?” tanya Sri malas.
“Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu sakit? Kok, telpon dari Mas gak diangkat? Kamu sakit apa? Apa mau priksa? Aku transfer uang, ya?” cerocos Lucky khawatir dengan keadaan Sri.
“Aku gak pa-pa. Gak usah lebay, deh. Tadi lagi jemur baju terus HP-nya di dalam rumah. Makanya baru diangkat.”
“Oh, ya sudah kalau kamu gak sakit. Mas cuma mau kasih tahu kalau nanti malam Mas mau pulang. Kamu mau dibawakan apa?”
Seketika Sri melotot. Tidak dia kira kalau Lucky akan pulang secepat ini. Bukankah dia biasanya pulang setengah tahun sekali, kenapa ini sudah mau pulang lagi? Gawat. Bisa gagal rencana Sri.
“Ma—mas mau pulang? Kok, cepet banget, Mas? Bukannya kemarin baru pulang?” Sri tergagap.
“Cepet gimana? Kan Mas pulang enam bulan yang lalu. Kamu lupa, ya? Coba lihat kelender. Mas selalu tulis kedatangan dan pemberangkatan Mas di kalender kita.”
Sri segera mencari kalender di kamarnya. Tidak mungkin dia salah. Masa iya dia harus ketemu dengan Lucky dan melayani dia selama seminggu? Oh, no. tidak rela rasanya.
Kalender sudah ada di depan mata dan ternyata benar. Lucky pulang enam bulan yang lalu. Tanpa Lucky, rasanya sangat cepat berlalu. Namun, jika ada Lucky, satu minggu saja rasanya seperti satu tahun.
“Kamumau dibawain apa, Sayang?” Kembali Lucky mengatakan keinginannya. Lucky sangat mencintai Sri, walaupun sikap Sri padanya buruk, dia masih setia dan menunggu keajaiban datang. Lucky selalu mengharap cinta dari Sri walaupun selama hampir setahun, dia belum mendapatkan hal itu.
“Gak usah. Bawa aja uang yang banyak. Saya mau shoping di sini,” jawab Sri ketus.
“Ya sudah. Nanti Mas temenin kamu shoping, ya?” Lucky sangat senang menemani istrinya, walaupun dia selalu jadi pembawa barang-barang, itu sudah lebih dari cukup. Yang penting Sri bahagia.
“Hmmm. Ya udah. Saya mau beres-beres lagi. Mas sampai di rumah jam berapa?”
“Gak tahu. Mungkin malam. Kenapa? Kamu mau buat kejutan buat Mas ya?”
__ADS_1
‘Iya, kejutan. Kalau saya tahu pulangnya jam berapa, saya bakal kabur,’ ucap Sri dalam hati. Malas sekali bertemu Lucky.