
“Karena aku hanya menuruti kemuaan kamu aja sebenarnya aku gak suka sama buah yang kamu cari.” Tawa Dony pun pecah sepanjang perjalanan menuju kantor Lucky.
“Jadi kamu selama ini kamu hanya pura-pura suka sama buah-buahan itu?” Lucky tercengang dengan kenyataan yang dia tahu.
“Iya.” Dony tidak pernah mengakui kalau dia tidak suka dengan buah yang selalu diburu Lucky sejak kecil, karena dia tahu Lucky akan lebih memilih menghargai temannya daripada menuruti keinginan hatinya. Sebab itulah Dony melakukan hal yang sama. Persahabatan yang saling bertaut hingga persahabatan mereka tidak pernah putus hingga sekarang.
“Sudah sampai.” Lucky menunjuk sebuah kantor besar tempatnya kerja. Di sana dia akan diberangkatkan bersama teman-temannya.
“Kita berpisah dulu, setengah tahun lagi kita akan bertemu. Sebenarnya aku masih kangen, tapi aku gak bisa ninggalin kerjaan aku. Jangan lupakan aku dan selalu beri kabar apapun itu. Dah.” Lucky melambaikan tangan dan hilang di balik pintu kaca sebuah kantor besar.
Dony memandangi kantor di mana Lucky ada di dalamnya. Rasanya belum ikhlas harus berpisah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Biarkan aku memandangmu walaupun dari sini.” Dony duduk di atas motor, memandangi sosok sahabat baik yang dia kasihi. “Maafkan aku, Lucky. Aku merasa ada yang aneh dengan istri kamu. Aku harap semua ini salah, tapi aku sangat yakin dengan perasaanku kalau Sri sebenarnya menyimpan rasa untuk aku dan dia telah berbuat macam-macam agar hubunganku dengan istriku hancur. Tapi mana mungkin aku mengatakan semua itu ke kamu. Kamu pasti gak akan percaya dan aku gak akan tega melihat kamu sedih karena menanggung hal memalukan itu. Apa yang harus aku lakukan Tuhan?”
Dony mengusap wajahnya kasar. Dia bingung dengan semua yang akan dia putuskan. Tidak mungkin masalah ini dibiarkan begitu saja. Dia takut masalah ini seperti bola salju yang menggelinding. Semakin lama dibiarkan akan semakin membesar dan hasilnya akan berbahaya.
“Maaf, Mas. Gak boleh parkir di sini. Sebentar lagi karyawan kantor akan berangkat,” tegur seorang tukang parkir tempat Lucky bekerja.
“Oh, iya. Maaf. Aku akan pergi dari sini,” jawab Dony sopan. Dia pun bergegas pergi sebelum Lucky melihatnya masih ada di kantornya.
__ADS_1
Menyusuri jalanan ibu kota yang ramai, sesekali Dony memikirkan hubungannya dengan Lucky dan Nining. Mencari jawaban agar damai, dia pun tak sengaja melewati sekolah di mana dia mencari ilmu waktu kecil dulu. Dony pun berbelok dan masuk ke tempat itu.
Di bangku kecil yang menghadap taman, Dony duduk. Dia teringat ketika kecil sering bermain di depan kelas bersama Lucky. Tempatnya sudah berubah, tapi Dony masih ingat di mana dulu kelasnya yang masih belum sebagus sekarang menjadi tempat bermain dan mencari ilmu.
“Kamu masih ingat tempat ini, Lucky? Di sini kita pernah berjanji untuk mencari pacar sama-sama, jomblo sama-sama dan menikah pun sama-sama. Sekarang semua itu menjadi nyata. Tapi aku belum bisa mengungkap niat asli istri kamu. Aku curiga dia hanya memanfaatkan kamu aja dan aku gak rela,” gumam Dony lirik.
Tak disangka ada beberapa orang masuk sekolah itu dan mulai berbicara tak menentu.
“Aku heran pada Sri. Udah dikasih suami sebaik dan sekaya Lucky, masih aja terobsesi pada Dony—sahabat suaminya sendiri. Gila itu anak.” Seorang wanita marah-marah pada temannya.
“Iya, gue juga kesel sama dia. Gue disuruh jadi Sinta buat yakinin istri Dony itu kalau Dony bukan cowok yang baik. Untuk gue minta tolong sama cowok gue buat datang waktu gue sandiwara di depan rumah Dony. Kesel gue,” omel teman satunya.
“Eh, aku gak mau kalau disuruh-suruh sama Sri lagi. Enaknya aku ngomong apa, ya, biar dia benci sama aku?” tanya wanita yang lebih dewasa.
“Blokir aja nomor HP-nya. Gue aja gitu. Males tahu diajakin berbuat jahat mulu. Gara-gara sandiwara itu, gue dimarahin panjang lebar sama cowok gue. Untung cowok gue baik, dia gak mutusin gue. Kalau sampai gue jomblo, gue akan bikin pelajaran sama dia.” Ternyata kedua teman itu sangat marah pada Sri. Karena Sri tidak pernah memberikan contoh yang baik pada mereka. Terlebih gayanya yang norak, membuat kedua temannya itu malu. Kalau bukan karena Sri selalu membayari makan, mereka tidak akan betah berteman dengan Sri.
Kini uang tak lagi menjadi alasan mereka bertahan. Mereka lebih memilih ketenangan hingga satu per satu teman Sri mulai meninggalkannya. Bahkan kini Sri tak punya lagi punya teman untuk berbagi kejahatan. Semua melihat penampilan dari luar dulu baru mau bergabung.
Penampilan Sri sangat mencolok dan membuat malu, tidak ada yang mau malu karena Sri, walaupun Sri menunjukkan uang yang banyak. Mereka yang masih remaja lebih mementingkan harga diri tanpa mau dibully dan itu didapat jika tidak bersama Sri.
__ADS_1
Dony yang tidak tahu Sri yang dimaksud adalah Sri istri Lucky, memilih pergi dan tak menghiraukan ucapan dua gadis itu. Dony kembali menyusuri jalanan yang ramai. Dia bisa berjalan walaupun tidak terlalu cepat. Namun, lama-lama dia mulai merayap. Klakson bersautan, panas membuat orang-orang bar-bar dengan ucapannya.
Tin tin
“Cepat, dong.”
“Panas, nih.”
“Lama banget.”
Semua ocehan pengguna jalan membuat telinga hampir pecah. Dony hanya memijat kening yang pening karena terlalu panas dan berisik. Terlihat pedagang keliling menjajakan dagangannya.
“Yang dingin-yang dingin. Yang haus-yang haus.” Di sinilah Tuhan adil pada pedagang kecil sepeti mereka. Satu persatu pengguna jalan dari roda dua sampai roda empat memanggil mereka untuk memberi rezeki. Yang biasanya hanya satu dua botol terjual, kali ini sudah habis tak tersisa. Senyum mengembang mengiringi mereka untuk membeli sebungkus nasi penunda lapar yang entah sudah berapa lama dia rindukan.
Dony tersenyum melihat anak-anak dengan lahap menyantap nasi bungkus dengan lauk seadanya. Mereka bersyukur masih bisa mengiri perut walaupun tidak setiap hari. Di sanalah Dony merasa sangat bahagia. Dia jauh lebih beruntung dari anak-anak jalanan itu. Mereka belum tentu masih punya orang tua, masih punya rumah yang layak.
“Aku janji, Ning. Aku gak akan buat kamu dan anak-anak kita kelaparan dan kekurangan seperti mereka. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kalian. Aku janji,” ucap Dony dalam hati.
Tiba-tiba terbersit sesuatu dalam hatinya untuk membelikan perhiasan untuk Nining. Sudah lama dia memberikan Dony kebahagiaa, tapi dia tidak pernah memberikan apa-apa. Sejak menikah, dia hanya memberikan cincin pernikahan, selama satu tahun berlangsung dia tak membelikan apa-apa. Tepat di toko perhiasan, dia pun berhenti. Dengan susah payah, dia menerobos kemacetan untuk membelikan hadiah untuk istri tercintanya itu.
__ADS_1