Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
51


__ADS_3

Nining bingung. Dia ingin percaya, tapi semua buktinya sudah ada di depan mata. Dia terdiam sejenak, mengendalikan diri untuk bisa berpikir jernih.


“Bukannya tadi Mas lagi buat video? Coba lihat HP Mas,” pinta Nining.


Seketika itu Dony pun ingat kalau sedari tadi dia membuat video dengan HP-nya dan kalau tidak salah, dia belum menghentikan rekaman itu. Dia buru-buru mendatangi Sri saat dia berteriak. Semoga saja HP-nya masih aktif dan bisa membuktikan semuanya.


“HP-nya ada di saku Mas. Kamu ambil aja, tangan Mas gak bisa ambil.” Dony memajukan dadanya yang berisi saku serta HP. Nining mengambilnya dan mulai mengecek dengan seksama. Dalam hati, mereka sangat berharp HP itu bisa menyelamatkannya.


“Tunggu, Pak kepala desa. Aku ingin membuktikan sesuatu kalau suamiku tidak bersalah. Lihat ini.” Nining menunjukkan sebuah video yang ternyata hingga detik Nining dan Dony berbicara belum dimatikan sama sekali. Baterai pun masih banyak sehingga HP itu menunjukkan semua kejadian yang sesungguhnya.


Dalam video yang berdurasi satu jam lebih itu menunjukkan gambar yang tidak jelas karena ponselnya sudah dimasukkan ke dalam saku, tapi suaranya masih sangat jelas karena Dony berkata cukup dekat dengan ponsel itu.


Semua orang terkejut begitu mendengar video itu diperdengarkan. Semua mula berdesas-desus tidak enak pada Sri. Lirikan simpati dan iba pun kini beralih menghina dan mencemooh. Sri menunduk dan kesal. Bisa-bisanya dia tak tahu kalau Dony sedang merekam saat dia menjebaknya.


Dia tak punya muka, tapi masih berusaha berpikir untuk membela diri.


“Itu gak bener. Itu pasti rekayasa. Semua itu gak bener. Dia … dia berusaha melecehkan saya dan saya berhasil kabur makanya saya bisa ada di sini untuk menunjukkan kebenarannya,” sangkal Sri agar yang lain percaya dengan dramanya.


Sri menatap wajah Ibu RW, berharap wanita yang sedari tadi memeluknya penuh penjagaan membela dan percaya padanya.


“Ibu RW, Ibu RW percaya sama sayakan?” Sri meminta perlindungan dan kepercayaan wanita bijak itu. Namun, perlahan wanita itu melepas pelukannya. Dia mulai ragu pada Sri yang mulai terlihat gugup.

__ADS_1


“Aku akan membela orang yang benar. Kalau kamu benar, tentu aku akan membelanya. Tapi kalau kamu salah, aku minta maaf. Walaupun kamu wanita, aku tidak akan pandang bulu untuk menegakkan kebenaran.” Wanita itu sangat adil dalam memutuskan sebuah jalan keluar. Apalagi masalah ini akan sangat berpengaruh pada nama baik seseorang.


Suasana mendadak ricuh dan terbelah. Yang awalnya satu suara, kini mereka mulai ragu. Terlihat kepala desa dan jajarannya mulai berdiskusi. Tentu mereka akan meralat kembali keputusan yang sudah mereka ambil.”


“Bisakah kami melihat video itu?” pinta kepala desa.


“Tentu bisa, Pak.” Nining mendekat dan berusaha memberikan ponsel itu.


Tiba-tiba Sri berlari ke arah Nining dan menyenggolnya hingga ponsel itu jatuh. HP milik Dony pun terpental hingga jatuh entah ke mana. Tentu saja semua itu sengaja Sri lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


“Maaf, tadi kaki saya kram dan gak sengaja jatuh,” ucap Sri dengan seringai puas.


“Mana HP-nya? Jangan sampai HP itu rusak. Tuhan tolong aku. Tunjukkan bukti yang nyata tentang diri-Mu yang selalu adil,” gumam Nining tidak peduli dengan ucapan Sri dan langsung mencari ponsel suaminya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata ponsel itu jatuh ke arah kepala desa dan tentunya dengan keadaan yang masih sangat baik. Ponsel masih menyala dan kondisi prima. Kepala desa pun segera memerika video itu. Terlihat Nining sangat senang, tidak begitu dengan Sri. Dia ketakutan dan gelisah.


Kalau sampai terbukti dia yang bersalah, bisa hancur hidupnya. Sri tidak mau itu terjadi.


”Pak … tolong jangan percaya dengan rekayasa itu semua. Itu hanya editan dan semuanya tidak benar,” ucap Sri untuk mengaburkan pandangan kebenaran pada kepala desa yang sedang memeriksa ponsel Dony.


“Tolong Anda tenang. Kami sedang memeriksa ulang,” perintah kepala desa memperhatikan video itu dengan baik.

__ADS_1


Lama mereka berdiskusi hingga membuat Sri semakin tegang. Begitupun dengan Dony dan Nining. Dia tak sabar mendengar hasil yang akan diputuskan oleh kepala desa yang terkenal bijak itu. Setelah lama menunggu, akhirnya kepala desa pun mengambil keputusan.


“Berdasarkan bukti dan saksi yang ada, kami meralat kembali hukuman yang diberikan pada saudara Dony. Saudara Dony terbukti tidak bersalah dan yang telah memfitnah saudara Dony yaitu saudara Sri, kami akan usir dia dari kampung ini. Semua yang sudah dilakukan wanita seperti dia sangat memalukan dan membahayakan kedamaian di desa ini. Oleh karena itu, agar dia jera, kami harus segera membawanya pergi dari kampung ini.”


“Enggak! Saya tidak mau pergi dari sini. Saya tidak bohong, dia yang bohong. Kenapa kalian percaya pada video editan dari laki-laki brengsek ini?” teriak Sri tidak terima. Dia tak mau usahanya berakhir sia-sia.


“Berhenti sandiwara, Mba. Semuanya sudah terbongkar dan tidak seharusnya kamu terus berbohong. Akui saja semuanya dan nama kamu tidak akan semakin buruk di mata kami,” ujar seseorang yang mulai ragu pada pernyataan Sri.


“Enggak! Saya gak salah. Dia yang salah. Dia yang salah karena sudah merebut dia dari saya.” Sri menunjuk Nining yang berdiri tak jauh darinya. Seketika itu Nining kaget dan tak menyangka dengan reaksi Sri yang di luar dugaan.


“Aku? Apa salahku,” balas Nining tak tahu arah pembicaraan Sri.


“Kamu sudah merebut Mas Dony dari saya. Saya sudah lama mencintai Mas Dony tapi dia sama sekali tidak melirik saya. Karena kehadiran kamu, dia mulai mengacuhkan saya dan saya benci itu. Semua perhatian yang saya berikan untuk Mas Dony sia-sia. Semua itu karena kamu. Kamu yang salag, kamu,” teriak Sri. Dia mengamuk dan berusaha mencakar Nining. Untungnya ada Ibu RW yang cekatan menarik tubuh Nining dan menjauhkannya dari Sri yang mulai tidak terkendali.


Keadaan semakin menegangkan. Semua warga tidak menyangka dengan tindakan dan reaksi Sri pada Nining. Dia mengakui semuanya dalam ketidaksengajaan. Mulai bertanya benar dan salah pada teman di samping mereka. Ada juga yang dengan yakin menyalahkan Sri yang telah nekad menjebak suami tetangganya sendiri.


“Gimana mau nolak, Mba Nining jauh lebih cantik dan pendiam. Beda sama Mba Sri yang jelek dan norak.” Sekilas terdengar sebuah ejeken dan itu sangat membuat Sri marah. Bisa-bisanya dia tidak punya simpati apapun padanya padahal dia sudah berkorban banyak hal.


“Kamu pikir saya tidak berusaha tampil cantik dan pendiam, hah? Saya sudah berusaha menjadi dia, tapi apa hasilnya? Gak ada. Malah sahabat dia yang mencintai saya. Saya benci dengan semua itu. Kenapa gak kamu aja yang suka sama saya? Kenapa malah sahabat kamu, kenapa?” Sri semakin ngamuk dan tak terkendali.


Nining semakin heran dan tak menyangka dugaan Dony selama ini benar. Dia menyesal sudah tidak mempercayai Dony yang mempunyai kecurigaan berbeda.

__ADS_1


__ADS_2