
Dony menatap Nining dengan tatapan tidak biasa, curiga dengan yang baru saja terjadi.
“Ih, apaan. Enggak. Siapa yang ngerjain. Aku cuma … cuma—“ Nining mencari jawaban yang tepat.
“Cuma apa? Cuma mau lihat apa yang Mas lakuin kalau kamu tiba-tiba ninggalin Mas? Hmmm?” Dony mulai terlihat serius dengan marah dengan candaan Nining.
Nining tersenyum lalu mulai bangun dari tidurnya. Tak peduli dengan tubuhnya yang masih belum tertutup apapun, dia ingin lari agar tidak dibalas oleh suaminya tersebut.
“Kabur,” teriak Nining sambil lari tanpa sehelai benang.
Dony sekarang yakin kalau Nining telah mengerjainya. Dia tidak marah, dia hanya gemas dan ingin membalas kembali apa yang sudah dilakukan oleh istrinya tersebut.
“Jangan lari kamu , ya. Awas kalau nanti ketangkep. Kamu harus layanin Mas sampe Mas puas,” ujar Dony mulai mengejar Nining yang menjauh dan mencari tempat yang aman dari jangkauan Dony.
“Eh, kok, aku gak pake baju.” Nining sadar kalau dirinya tidak mengenakan baju setelah terasa udara dingin menyentuh kulit, dia pun menutup bagian tubuhnya yang intim dengan tangannya. Mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membungkus tubuh polosnya itu.
“Seksi, Sayang. Mas jadi makin bergelora. Siap-siap, Sayang.” Peliharaan Dony yang telah tertidur, mendadak bangun karena pemandangan yang menggoda di depannya. Dia menyeringai penuh kemenangan membayangkan kembali bermain dengan pujaan hatinya.
“Ih, Mas Dony. Gak boleh kayakgitu.” Nining tak menemukan sehelai kain di dekatnya, akhirnya dia hanya bisa berlari agar lolos dari Dony.
“Secepat apapun kamu lari, Mas pasti bisa menangkap kamu, Sayang. Tunggu Mas di sana,” ledek Dony santai, tapi langkahnya sangat pasti. Dengan kaki yang panjang, tentu akan lebih mudah menangkap Nining yang berlari sembarang arah.
Mengelilingi kamar yang luas, Nining menyelinap di samping tembok yang jauh dari Dony. Berkeliling agar tidak tertangkap oleh Dony, Nining berlari sekuat tenaga ketika Dony mulai mengejar. Dia sampai kewalahan karena secepat dan sejauh apapun dia berlari, Dony selalu bisa mencapai langkahnya.
“Ketangkap.” Akhirnya Nining pun tertangkap dan Dony tak membiarkan Nining lolos begitu saja. Dia akan membalas perbuatan Nining yang telah mengerjainya.
__ADS_1
“Ampun. Aku minta maaf,” kata Nining putus asa.
“Gak ada ampun-ampunan. Sekarang kamu harus mendapat hukuman.”
“Jangan dihukum, dong, Mas. Aku mohon.”
“Gak bisa. Pokoknya kamu harus dihukum.”
Nining ketakutan melihat Dony yang terlihat marah dan serius dengan ucapannya. Apa yang akan dia lakukan karena ulah usilnya itu?
“Hukumannya adalah … jangan ngulangin kayakgitu lagi, Sayang. Mas bisa mati kalau sampai itu terjadi lagi. Kamu gak tahu gimana rasanya lihat kamu diam gak bergerak. Napas Mas rasanya sesak, hidup Mas hancur dan Mas gak bisa hidup kalau sampai kamu benar-benar ninggaln Mas.” Dony memeluk Nining erat, isaknya pecah membayangkan ketika Nining mengerjainya seperti tadi. Benar-benar pilu dan menyakitkan.
“Aku minta maaf, Mas. Aku cuma bercanda,” sesal Nining, tidak menyangka kalau reaksi Dony sangat berlebihan. Dia benar-benar menangis, takut kehilangan Nining.
“Jangan ulangi lagi! Atau Mas gak akan maafin kamu. Jangan bercanda kayakgitu lagi, Mas bisa mati beneran,” isak Dony tak bisa menahan rasa sesak di dada membayangkan ditinggal wanita yang sangat dia sayangi.
“Iya, Mas. Aku minta maaf. Aku gak akan ngulangin itu lagi. Maafin aku karena aku udah buat Mas kayakgini,” sesal Nining. Tidak akan pernah dia ulangi iseng seperti itu lagi.
“Ya, udah. Sekarang kamu mandi dan pakai baju yang bagus. Malam ini kita akan makan malam. Apa mau Mas mandiin?” Dony menawarkan diri agar bisa lebih cepat.
Dimandikan oleh Dony, bukannya cepat, malah semakin lama. Bukan hany mandi yang mereka lakukan di kamar mandi, juga penyatuan nikmat yang tidak akan pernah Dony selesaikan. Dony selalu ketagihan setiap kali bermain dengan istri tercintanya.
“Gak mau. Yang ada malah gak selesai-selesai. Udah, ah. Aku mau mandi dulu. Udah malam. Dah,” tolak Nining segera meninggalkan Dony dan berlalu menuju kamar mandi.
***
__ADS_1
Nining sudah mengenakan baju yang indah, polesan sederhana tapi tetap terlihat sangat cantik memesona. Restoran tepi pantai telah terisi beberapa pasangan seperti Nining dan Dony. Mereka sama-sama menikmati suasana romantis di tepi pantai yang indah. Ditemani ***** ombak dan angin pantai yang dingin, membuat suasana semakin romantis dan mesra untuk pengantin baru maupun yang sedang menikmati bulan madu kedua seperti Dony dan Nining.
“Sayang. Kamu suka dengan tempatnya?” tanya Dony sambil memeluk pinggang istrinya hangat, mengajaknya ke tempat duduk yang sudah dipesan sejak tadi sore.
“Wah, bagus banget, Mas. Aku suka.”
“Silahkan duduk.” Dony menarik kursi untuk tempat duduk Nining. Nining pun dengan senang hati duduk di kursi itu.
Di depannya Dony sudah duduk, ada sebuah bunga, lilin dan tak lupa kelopak bunga mawar berbentuk hati sebagai tanda cinta yang besar. Sembari menunggu makanan datang, alunan musik akustik mengiringi makan malam mereka. Lagu romantis yang membuat suasana semakin intim dan mesra tentunya.
“Mas. Terima kasih dengan semua yang Mas berikan untuk aku. Aku gak akan bisa membalas semua pemberian Mas untuk aku.”
“Jangan terima kasih sama Mas. Ini adalah kewajiban Mas sebagai suami kamu. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dan perhatian yang lebih karena sudah mengurus Mas selama satu tahun ini. Mas sangat beruntung punya istri seperti kamu. Kamu setia dan baik sekali. Sabar menghadapi sikap Mas yang kadang seperti anak kecil.” Dony memegang tangan Nining, mengusapnya lembut sebagai tanda cinta yang besar.
Debur ombak mengiringi suasana romantis mereka. Dony pun tidak bisa mengendalikan diri untuk mengajaknya berdansa seperti dalam sinetron.
“Ayo kita dansa?” ajak Dony, memperagakan yang dilakukan artis laki-laki jika mengajak pasangannya berdansa.
“Aku gak bisa dansa,” jawab Nining setengah berbisik.
“Gak pa-pa. pura-pura aja. Biar dianggap kelas menengah ke atas,” balas Dony setengah bercanda, membuat Nining terkekeh. Ada-ada saja tingkah suaminya itu. Dia pun menerima tawaran Dony walaupun sama sekali Nining tidak tahu caranya berdansa.
Mereka mulai bangun dan berdiri saling berhadapan. Tangan Dony di pinggan Nining, sedangkan tangan Nining di pundak Dony. Dony mengarahkan untuk seirama dalam melangkah dan Nining langsung paham dengan arahan itu. Mereka pun mulai dansa dadakan.
Canda tawa mengiringi dansa mereka yang asal-asalan, tapi mereka bahagia. Nining tak bisa berhenti tertawa hingga wajahnya menunduk karena malu. Malu ketahuan kalau mereka tidak bisa dansa.
__ADS_1
“Gak bisa dansa, ya?” Tiba-tiba ada ada seseorang yang menyapa mereka saat mereka sedang berdansa. Siapa dia dan ada niat apa dia mendekati Nining dan Dony?