Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
9


__ADS_3

Arya tidak tega melihat Nining keluar dari kamar Dony dengan berlinang air mata. Dia tahu ada masalah besar yang menimpa hubungan mereka berdua.


Nining tersenyum, mencoba tegar agar mertuanya tidak khawatir. "Iya, Pak. Aku tahu Mas Dony sekarang sedang bingung. Aku akan menunggu Mas Dony karena aku yakin Mas Dony orang yang bijak, dia pasti bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak untuk hubungan kami." Nining melirik ayah mertua yang selalu sabar dalam mengatasi masalah. "Pak. Apa aku boleh menunggu Mas Dony sampai emosinya reda dengan tinggal di sini?" izin Nining penuh kehati-hatian.


Arya mengusap pundak menantunya. Dia sangat mengetahui sifat Dony.


"Bapak tahu sifat Dony itu seperti apa. Lebih baik kamu pulang dulu. Biarkan Dony tenang di sini. Kalau dia sudah tenang, dia pasti akan kembali kepadamu. Bapak yakin sekali kamu orang yang baik, Dony tidak akan mendapatkan wanita sebaik kamu di luar sana," hiur Arya.


"Ya sudah kalau begitu. Aku pamit dulu, ya, Pak. Apa aku harus pamit juga pada Mas Dony?" tanya Nining bimbang.


"Pamit saja, agar dia tahu kalau kamu wanita yang sopan dan selalu mematuhi suaminya. "


Nining pun mendekati kamar Dony yang tertutup. Perlahan dia mengetuk pintu itu.


"Mas … aku pamit pulang dulu, ya? Aku akan menunggu Mas Doni di rumah. Atau kalau Mas Dony ingin aku ke sini, nanti Mas Dony tinggal kabari aja lewat telepon. Assalamualaikum." Lalu Nining langsung pamit kepada kedua mertuanya.


Dony mendengar ucapan Nining, tapi dia masih kesal sehingga tidak mau menjawabnya. Setelah tak ada lagi suara Nining, Dony segera mendekati jendela. Disingkap gorden kamarnya kemudian menatap Nining yang sudah menjauh bersama motor yang dia berikan sebagai mahar pernikahan.


"Nining. Aku sangat mencintai kamu, tapi aku kecewa sama kamu. Kenapa kamu khianati aku? Siapa laki-laki yang bersama kamu? Apa salahku sampai kamu berpaling dariku? Apa aku kurang tampan atau kurang perhatian?" keluh Dony hampa. Rasa benci, marah, sakit dan juga kecewa menghiasi hidupnya sekarang. Dia bingung harus percaya pada siapa? Kara hatinya atau istrinya sendiri?


***


Nining sudah sampai di rumah. dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk, tapi terasa berduri baginya. Di sana biasanya dia bercanda dengan Dony. Namun, kali ini dia hanya sendirian. Bahkan sendirian dalam arti yang sesungguhnya. Berjauhan dengan Dony terasa sangat menyiksa.


Wanita cantik itu melamun sambil tiduran di atas sofa. Membayangkan ketika dia bersama Dony memadu kasih di ruang tamu yang saat ini sedang dia tempati hingga tanpa sengaja dia pun tertidur pulas.


“Mas Dony. Jangan di sini. Masa di ruang tamu,” protes Nining ketika Dony mulai menggerayangi tubuhnya. Mereka sedang asyik nonton TV, tiba-tiba Dony merasakan Nining begitu menggoda saat istri barunya kala itu menyibak rambut panjangnya di sela telinga.

__ADS_1


Wangi rambut sehabis keramas bercampur dengan parfum, seketika itu membuat peliharaan yang tengah tertidur langsung terbangun dan meminta jatah. Dony tersenyum penuh arti dengan tatapan kemesraan. Menunjukkan isyarat yang sudah dikenal oleh Nining.


“Gak pa-pa di sini juga. Bosan di kamar terus. Lagian aman, kok. Kan cuma ada kita berdua saja.” Dony mencolek dagu Nining, Nining pun langsung bersemu merah karena malu.


“Ih, Mas Dony. Tapi ... gak enak kalo di sofa,” tolak Nining melihat tempat yang terlalu sempit.


“Sebentar.” Dony masuk ke dalam lalu kembali membawa surpet tebal. Dia pun lalu memasangnya di depan TV yang cukup luas.


“Ini gak sempit lagikan?” Dony mendekat lalu segera meraup bibir Nining dengan lembut.


Nining yang awalnya menolak, mendapat perlakuan yang lembut seketika itu dibuat melayang. Dia tak mampu menolaknya. Bahkan, dia perlahan membalas setiap aksi Dony yang hebat.


Puas bermain dengan bagian atas, Dony menggendong tubuh Nining menuju surpet yang sudah terbentang luas. Mereka pun asyik menyalurkan hasrat yang sudah lama mereka pendam.


“Mas ... aku mau mandi dulu, ya?” ucap Nining ketika mereka selesai menikmati aksi panas yang menimbulkan keringat deras.


“Tunggu!” cegah Dony langsung terbangun. Walaupun belum memakai baju, dia segera mendekati Nining yang sudah berdiri. Sebelum Nining beranjak dari tempatnya, dia kembali menggendong tubuh Nining yang masih belum lengkap mengenakan pakaian.


“Jangan mandi sendirian, dong. Kita mandi bareng.” Mereka pun mandi bersama dan kejadian di depan TV terulang kembali hingga Dony benar-benar puas menikmati tubuh istri sahnya itu.


Tak terasa Nining terbangun dari mimpi indahnya. Dia tersenyum membayangkan mimpi barusan.


“Aku kangen banget sama Mas Dony. Apa Mas Dony gak kangen sama aku? Aku baru aja mimpi saat kita masih jadi pengantin baru, Mas,” racau Nining sedih.


Wanita itu menatap televisi. Di sana pernah terjadi kemesraan yang membuatnya melayang hingga langit ke tujuh. Dia rindu dan ingin mengulanginya lagi bersama orang yang sama. Namun, dia tidak yakin itu akan terjadi lagi.


Hati Nining gundah dan gelisah memikirkan Dony yang sedang marah padanya. Sudah dua hari Dony menjauhinya dan itu membuatnya tidak tenang. Nining ingin segera berbaikan agar hidupnya kembali damai seperti dulu.

__ADS_1


Tok tok tok


Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Malas sekali menerima tamu di saat hatinya kacau, Nining pun memilih diam agar tamu itu segera pergi.


Tok tok tok


Sekali lagi pintu itu diketuk. Nining yang tidak biasanya marah menjadi kesal. Dia mencebik dan mendekati pintu yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dibukanya pintu kayu itu dan terlihat seorang wanita yang sangat dia kenal.


“Mba Sri. Ada apa malam-malam ke sini?” tanya Nining mencoba seramah mungkin, menutupi perasaannya yang sejujurnya.


“Mba, boleh minta gula? Saya ingin membuat teh manis, ternyata gulanya habis. Mau beli di luar tapi udah malem,” jelas Sri membawa gelas kosong.


“Ada. Sebentar, ya?” Nining mengambil gelas itu lalu mengambilkan gula yang diminta oleh Sri.


Begitu Nining sudah kembali dengan gelas terisi gula, Sri sudah berpindah tempat. Dia tengah duduk di depan tv dengan surpet terbentang penuh. Nining sangat kaget melihat Sri yang bisa selancang itu masuk tanpa izin. Bahkan, dia tanpa pamit mengambil surpet yang dia letakkan di pojok ruang lalu membentangnya luas.


“Mba, maaf saya masuk tanpa izin. Habisnya Mba lama, sih. Jadi saya masuk, deh. Surpetnya bagus, jadi saya pakai. Gak pa-pakan saya pakai, Mba?” cerocos Sri tanpa malu. Dia pun memencet repot sesuka hatinya.


Entah kenapa perasaan Nining menjadi semakin tidak karuan. Melihat surpet yang baru saja dia mimpikan dipakai orang lain, ada rasa marah dan kesal. Bisa-bisanya dia mengambil barang kenang-kenangan dengan Dony sesuka hatinya. Nining saja tidak berani masuk ke rumah Sri kalau bukan Sri yang menyuruh langsung.


“Mba, sini duduk. Empuk banget, lho, surpetnya. Jadi inget waktu malam pertama sama Mas Lucky. Kita nglakuin itu di atas surpet juga soalnya. Hihi,” beber Sri diakhiri tawa malu lebih dekat mengejek.


Seketika hati Nining terasa sakit. Membayangkan amarah Dony yang belum mereda, rasanya dia tak tahan lama-lama dalam keadaan ini. Dia ingin segera berdekatan dengan suami tercintanya.


“Oh, iya, Mba. Gimana Mas Dony? Dia percaya gak sama ucapan Mba?” telisik Sri deg-degan. Dia berharap Dony masih marah padanya. Dengan kiriman foto yang sengaja dia jepret kemarin malam, Sri sangat yakin kalau emosi Dony kembali memuncak.


Nining menggeleng lemas. Dia sedih sekali mengingat sikap kasar Dony padanya.

__ADS_1


“Sabar, ya, Mba. Biarin aja dia pergi kalau gak mau percaya sama istri sendiri. Cowok kayak gitu gak pantes dipertahanin, Mba. Udah, tinggalin aja dia. Masih banyak yang mau sama Mba Nining. Mba Nining itu cantik, baik. Pasti banyak yang antri buat dapetin Mba,” bujuk Sri agar Nining mundur pelan-pelan.


.


__ADS_2