
Nining bingung dengan tatapan Dony. Dia pun tersenyum lalu menjawab apa adanya.
“Gak, Mas. Aku gak hamil.” Nining mengelak karena dia memang belum memeriksakan diri.
“Tapi badan Mba sedikit berisi. Mungkin cuma lagi gemuk aja kali, ya?” ralat Adam yang tidak mau sok tahu.
“Iya, mungkin. Tapi—“ Dony memperhatikan badan Nining setelah mendengar ucapan Adam. Memang ada yang berbeda. Namun, dia tidak mau melanjutkan ucapannya.
Nining merasa tersinggung dengan ucapan Dony yang tidak dilanjutkan. Tiba-tiba saja dia merasa sangat sakit melihat pandangan Dony yang tidak enak padanya. Dia segera masuk lalu menangis di kamar.
Hingga Adam pulang, Nining tidak keluar kamar. Dia merasa sakit hati mengingat tingkah Dony yang memandangnya berbeda setelah tahu badannya tidak sebagus dulu. Ada rasa takut, sedih dan terluka.
Menyadari Nining tidak ada di dapur, Dony mencari Nining di kamar. Betapa terkejutnya Dony melihat Nining yang sedang menangis tersedu-sedu.
“Hei, Sayang. Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakiti kamu? Atau kamu terluka? Mana yang luka, sini Mas obati.” Dony memeriksa tangan, badan semua tubuh Nining, tapi tidak ada yang luka.
Bukannya diam, Nining semakin tersedu-sedu. Semakin kencang dan Dony bingung dengan tingkah Nining yang tidak biasa.
“Sayang, kenapa kamu malah tambah nangis? Mas salah sama kamu? Mas minta maaf kalau Mas ada yang salah.”
Tidak ada respon, Nining masih saja menangis. Dony menggaruk kepala karena pusing dan bingung. Apa yang sedang terjadi pada Nining? Kenapa tiba-tiba dia menangis tanpa sebab. Bagaimana cara menenangkannya?
“Sayang. Tenang, ya? Sini Mas peluk.” Dony memeluk Nining dan mengusap punggungnya dengan lembut. Tidak bisa membuat istrinya mengatakan penyebab dia menangis, biarlah dia meredakan dulu tangisnya.
Dony memeluk Nining sangat lama hingga Nining berhenti menangis dan merasa tenang. Untuk menenangkan orang yang sedang menangis, harus dengan sabar dan lembut. Itulah yang selama ini Dony pelajari dan berhasil diterapkan.
“Kamu mau apa? Mau minum? Ini minum dulu.” Kebetulan ada air putih di kamar, Dony pun menyuapinya minum hingga satu gelas habis. Setelah menangis, rasanya tenggorokan Nining kering.
Nining sudah tenang sekarang. Dia mau menatap wajah Dony walaupun masih sedikit terisak.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Sayang? Apa Mas berbuat salah sama kamu? Apa ada kata-kata Mas yang menyakiti hati kamu?”
Nining terdiam, lalu menunduk. Ada sebuah rasa sakit mengingat tatapan Dony padanya ketika bersama Adam.
“Aku udah gak langsing lagi. Mas pasti malu lihat badan aku yang gemuk ini,” ucap Nining setengah terisak.
Bukannya menjawab, Dony malah tertawa. Jadi karena ucapan Adam tentang badan yang gemuk membuat Nining menangis?
“Kamu mau gendut, kurus, hitam, jelek ataupun pikun sekalipun, Mas akan selalu setia sama kamu. Gak usah takut Mas akan meninggalkan kamu.” Dony membingkai wajah Nining lalu menyentuh keningnya dengan kening Nining sebagai bentuk rasa cinta.
“Tapi tadi Mas lihat aku kayakgitu. Mas kayak gak suka. Tadi juga ada yang mau diomongin tapi gak jadi diomongin. Pasti ada yang Mas umpetin,” isak Nining masih tidak percaya dengan ucapannya.
“Oh, yang tadi. Tadi Mas gak jadi ngomong karena Mas lihat kamu beda. Kapan terakhir kamu datang bulan? Terakhir Mas lihat, pembalut kamu masih banyak. Itu yang membuat Mas gak jadi ngomong. Masa ngomongin pembalut di depan Adam, ya, malu, dong Sayang.”
“Masa?” Nining masih tidak percaya.
“Beneran. Nih, lihat. Pembalut kamu masih banyak. Biasanya kamu minta beli pembalut, tapi sudah berapa bulan ini kamu gak minta beli.” Dony mengambil pembalut yang ada di laci rias. Dia memang tidak segan membantu Nining ketika Nining kelupaan membawa pembalut ke kamar mandi.
“Bulan kapan, ya? Kayaknya bulan kemarin terakhir pakai.” Nining meningat-ingat. “Iya, bulan kemarin.”
Dony tersenyum bahagia. Kalau istrinya telat datang bulan, artinya dia akan punya anak.
“Bagaimana kalau sekarang kita priksa ke dokter? Siapa tahu kamu beneran hamil?” usul Dony.
Nining mengangguk dan mereka segera pergi ke rumah sakit.
***
Menunggu dengan gelisah dan cemass, Nining dan Dony berharap mendapatkan hasil yang membahagiakan. Menunggu terasa sangat menyebalkan padahal baru lima menit. Dony yang tidak sabar, terus bangun dan mondar-mandir menunggu hasilnya keluar.
__ADS_1
“Sabar, Mas. Sebentar lagi pasti hasilnya keluar,” kata Nining menenangkan Dony.
“Mas udah gak sabar.”
“Ibu Nining,” panggil suster.
Mereka berdua pun langsung bangun dan masuk ke ruangan dokter.
“Selamat, ya. Ibu Nining sedang hamil delapan minggu. Kandungannya sehat, ibunya juga sehat.” Ucapan dokter disambut bahagia oleh mereka berdua. Setelah hampir dua tahun menunggu, kini mereka dikarunia calon bayi yang sangat diidam-idamkan.
“Sayang, kamu hamil. Jadi istriku hamil, Dok? Laki-laki apa perempuan, Dok?” tanya Dony dan langsung disambut dengan gelak tawa suster serta dokter. “Kenapa kalian tertawa? Emangnya da yang aneh dengan ucapanku?” Dony heran.
“Masih belum kelihatan jenis kelaminnya, Pak. sabar, ya? Nanti sekitar umur enam bulan bisa kelihatan jenis kelaminnya.” Dokter menjelaskan dengan sabar.
“Oh, begitu. Maaf, Dok. Aku gak tahu.” Dony menggaruk kepala dengan malu. Maklum, ini pengalaman pertama. Mana tahu kalau umur dua bulan belum bisa dilihat jenis kelaminnya.
“Jaga kandungannya baik-baik, ya, Pak. Jangan sampai kecapekan, jangan sampai stress dan banyakin makanan yang bergizi. Dan ingat, kalau nyidam, turutin saja.”
“Iya, Dok. Pasti akan aku turutin semuanya.” Dony akan melakukan semua yang terbaik untuk anak dan istrinya.
Dony dan Nining pulang. Semenjak Dony tahu Nining sedang hamil, dia sangat perhatian pada Nining. Tak ingin anak dan istrinya kenapa-kenapa, dia tidak pernah membiarkan Nining melakukan hal berat.
“Sayang. Kamu gak boleh nyapu, gak boleh ngepel, gak boleh cuci piring, gak boleh cuci baju, gak boleh jemur baju. Pokoknya kamu gak boleh nglakuin kerjaan yang berat-berat.” Dony sangat menjaga Nining.
“Mas. Kalau aku gak boleh ngapa-ngapain, bosen, dong? Terus aku ngapain di rumah kalau gak boleh apa-apa?” Nining protes. Sudah dua bulan Dony melarangnya melakukan apapun. Rasanya sangat bosan dan hari terasa berjalan sangat lambat.
“Ya, jaga kandungan. Makan, minum, nonton TV. Kalau butuh apa-apa, tinggal telpon aja. Nanti Mas yang akan membelikannya. Mas siap dua puluh empat jam melakukan apapun.” Dony duduk di samping Nining sambil memijat kaki Nining.
“Mas, aku gak capek. Harusnya aku yang pijat Mas, bukan sebaliknya. Sini badan Mas aku pijat. Pasti badan Mas sakit semua karena udah nglakuin semua pekerjaan rumah dan kantor sendirian.”
__ADS_1
“Gak Sayang. Mas gak capek. Kamu yang capek. Kata Ibu, orang hamil itu butuh banyak istirahat, makan dan santai. Jangan kerja, nanti capek dan kalian bisa kenapa-kenapa. Sekarang kamu mau apa? Biar Mas yang kabulin semua yang kamu mau. Asalkan Mas mampu.”