
Dony dan Nining memandang penanya itu dengan wajah merah padam. Malu sekali ditanya seperti itu. Kalau ada yang dengar dan menertawainya, mau ditaruh di mana muka mereka berdua. Mereka pun hanya bisa diam dan menunduk,tak berani menjawab karena tak pandai mengarang cerita.
“Kenapa malu? Aku juga sama gak bisa dansa. Cuma niru adegan dansa di sinetron. Udah, pede aja. Pura-pura aja pintar dansa,” sambung laki-laki itu lagi.
Seketika Nining dan Dony menatap sepasang sejoli itu dengan kaget. Setelah itu terbitlah senyum yang manis. Dia salah paham. Padahal sudah berpikiran buruk lebih dulu sebelum tahu apa yang akan dia lakukan. Mereka pun merasa menyesal.
“Ayo dansa lagi. Pura-pura aja hapal, aku juga gitu.” Kali ini perempuan dari laki-laki itu yang menyaut. Mereka hangat, tidak seperti bayangan Nining dan Dony sebelumnya.
Mereka kembali berdansa. Menikmati alunan musik dengan gerakan yang semirip mungkin. Hingga mereka mulai terlena. Dony menatap mata lentik Nining dan tak tahu mulai dari mana, kini mereka tengah menikmati kecupan mesra di bibir. Malu karena tempat umum, Nining segera melepas kecupan itu dan mulai kembali berdansa.
Melihat mejanya sudah terisi makanan, Dony tak ingin menyia-nyiakan makanan itu. Kalau dingin rasanya tidak akan seenak hangat. Dia pun mengajak Nining makan. Makan malam berlangsung sangat romantis. Mereka sangat menikmatinya hingga tak terasa mereka masuk kamar di tengah malam ketika Cinderella diharuskan pulang sebelum berganti menjadi upik abu.
Kasihan pada Nining, Dony membiarkan istrinya istirahat. Pasti badannya pegal karena terus melayaninya tanpa henti.
***
Nining dan Dony berada di pantai. Mengenakan topi pantai yang lebar, Dony ingin mengabadikan moment tersebut dengan berfoto yang banyak. Baik Nining sendirian maupun berdua, tak ada sedetik pun yang terlewat.
“Mas. Aku mau renang di sini, ya?” izin Nining ketika mereka istirahat sembari menikmati minuman kelapa.
“Gak usah. Kita duduk aja di sini. Renang di kamar aja. Kan ada kolam renangnya. Di sini kotor dan bahaya. Bisa buat gatal-gatal,” larang Dony. Tak ingin Nining terkena penyakit.
“Tapi, Mas. Kalau gak renang di pantai, gak sah namanya kalau liburan ke pantai. Boleh, ya? Boleh,ya?” rengek Nining layaknya anak kecil.
__ADS_1
“Gak boleh. Kita renang di kamar aja. Di kamar kan ada kolam renangnya. Atau kita mau balik ke kamar buat renang?” ajak Dony tak ingin Nining kecewa.
“Gak mau. Maunya renang di pantai ini, sekarang juga.” Nining benar-benar merengek dan keras kepala seperti anak kecil. “Yeee, aku renang.” Tak mengindahkan ucapan Dony, Nining berlari ke arah ombak. Dia merentangka kedua tangannya seolah menyambut debur ombak yang sangat besar itu.
Dony khawatir. Dia yang sedang asyik bersantai menikmati es kelapa muda langsung menyusul. Langkahnya yang lebar mampu mengejar Nining yang kini sudah bermain dengan ombak. Menyipratkan air pada Dony agar Dony tidak bisa menangkapnya.
“Ayo main. Ayo main.” Nining tampak sangat menikmati bermain air di pantai. Sejak kecil dia memang ingin sekali melakukan hal ini dan saat in baru terwujud. Nining sangat senang dan dia tak akan menyia-nyiakannya.
“Sayang. Ayo udahan. Kita balik ke kamar lalu ganti baju. Mas gak mau kamu masuk angin dan sakit.” Dony sangat mengkhawatirkan kesehatan Nining yang sering lemah karena terlalu bersemangat dalam melakukan suatu hal.
“Gak mau. Weee,” ledek Nining. Dia malah menjulurkan lidah lalu berlari menjauhi Dony yang terus saja mengejarnya. Dony berlari sekencang-kencangnya, begitupun dengan Nining. Dia tak mau mengakhiri bermain air.
Takut tertangkap, Nining terus melirik ke belakang. Di belakang kini tidak ada Dony. Nining pun berhenti sejenak, takut Dony marah dan meninggalkannya.
“Mas? Mas Dony? Mas Dony-Mas Dony di mana kamu, Mas?” teriak Nining cemas. Dia mencari Dony ke segala arah dan tidak ada tidak ditemukan sosok suami tercintanya itu. Sebenarnya di mana Dony? Apa dia benar-benar sudah pulang. Nining mulai takut dan panik.
Rasanya ingin menangis ditinggal sendirian di tempat asing yang jauh dari keluarga. Tahu seperti ini, dia tak akan nekad membantah ucapan Dony. Sekarang Nining bingung harus berbuat apa. Nining menangis mencari keberadaan Dony.
“Mas Dony! Mas di mana?” isak Nining tak bisa menghentikan bulir bening dari matanya.
“Dasar cengeng. Sok-sokan mau bantah, padahal gak berani,” tegur Dony dari arah tak terduga mengagetkan Nining yang sudah putus asa. Ternyata Dony jongkok di samping Nining, dia ingin mengerjai Nining balik.
“Mas Dony. Jangan becanda kayakgitu lagi. Aku takut,” ujar Nining memeluk Dony sangat erat. Dia benar-benar ketakutan.
__ADS_1
Tidak tega rasanya melihat Nining menangis tersedu seperti itu. Dony mengusap punggung Nining dengan lembut. Menyesal sudah membuat pujaan hatinya cemas dan ketakutan seperti itu.
“Cup-cup-cup. Jangan nangis lagi, ya? Mas minta maaf, ya Sayang? Mas gak akan buat kamu nangis seperti ini lagi. Kamu mau apa? Mau renang apa mau main air lagi?” hibur Dony agar Nining tidak lagi menangis.
“Gak mau. Aku mau balik ke kamar aja.” Takut yang teramat sangat membuat keadaan hatinya buruk. Dia ingin tidur agar bisa mengembalikan suasana hatinya yang gembira lagi.
“Ya, udah. Kita balik ke kamar, ya?” Dony menggendong tubuh Nining hingga ke kamar. Ketika takut yang berlebihan. Tenaga Nining akan hilang dan dia akan kesusahan untuk berjalan. Dia pun tahu apa yang haruds dilakukan.
Sampai ke kamar, Dony membawa Nining ke kamar mandi. Air asin yang melekat di bajunya akan membuatnya lengket, Dony dengan telaten memandikan Nining tanpa ada niat macam-macam. Sementara itu Nining masih saja menangis. Dia masih membayangkan ditinggal di pantai tanpa ada seorang pun yang dia kenal.
Selesai mandi dan memakaikan handuk kimono, Dony kembali menggendong tubuh Nining dan membaringkannya di atas tempat tidur. Handuk cukup hangat untuk menemani tidur Nining.
Dony merasa menyesal sudah membuat Nining berubah murung. Dia tak mau membiarkan hal itu terjadi. Dia pun mengatur rencana lain.
“Aku ada ide. Cukup ini yang aku lakukan untuk mengembalikan suasana hati Nining kembali bahagia.”
Nining bangun di malam hari tanpa dibangunkan oleh Dony. Dony pun dengan sabar menunggu Nining terbangun sendiri. Dia sudah mandi dan tentunya sudah siap-siap jika suatu saat Nining bangun. Rencana untuk meminta maaf karena sudah mengerjai Nining sudah siap. Sekarang tinggal mengajak istri tercintanya itu untuk siap-siap aja.
“Sayang. Ayo kita keluar? Kamu pasti lapar, mau makankan?” ajak Dony, duduk di samping tubuh Nining yang masih tertidur.
“Makan di mana?” tanya Nining masih lemas. Rupanya dia masih syok dengan kejadian tadi siang.
Dony memeluk erat tubuh Nining. Tidak tega rasanya melihat Nining yang riang kini murung. Dony sanagt menyesal dan tidak akan mengulangi hal itu lagi.
__ADS_1
“Maafin, Mas, ya, Sayang? Mas udah buat kamu seperti ini. Mas emang gak bisa diandelin. Jahat-jahat-jahat.” Dony menyalahkan diri sendiri dan memukul kepalanya sendiri.
Nining diam saja, itu artinya dia masih belum sadar. Nining sangat terguncang hingga pikirannya terganggu. Apa yang akan dilakukan oleh Dony untuk menyembuhkan Nining lagi?